Silang Basa Cerbon dan Jawa

0 64

SILANG BASA CERBON,  Bahasa merupakan sarana utama  yang digunakan manusia untuk berkomunikasi satu sama lain. Bahasa ini terutama diucapkan, meskipun dapat ditransfer ke media lain, seperti menulis dan bahasa tubuh (body languages). Jika sarana komunikasi lisan tidak tersedia, yang mungkin terjadi  dengan menggunakan bahasa isyarat. Karakteristik yang menonjol dari bahasa adalah bahwa hubungan antara tanda linguistik dan artinya bersifat sewenang-wenang.  Tidak ada alasan lain, selain konvensi antara penutur bahasa yang berbeda menegaskan pengertian setiap kata (Comrie, 2003).

Terhadap masalah linguistik – ilmu yang khusus memelajari bahasa – merupakan sistem “tanda suara” yang telah disepakati untuk dipakai para anggota suatu kumpulan masyarakat pada kerjasama, percakapan dan jatidiri. Pada masalah ini , bahasa merupakan suatu sistem, artinya bahasa itu bukan kumpulan unsur yang tak teratur. Seperti sistem lainnya, unsur-unsur bahasa “diatur” seperti pola-pola yang diulang dan hanya satu bagian saja yang tidak terlihat, bisa diprakirakan atau dibayangkan semua ujarannnya. Bahasa juga merupakan sistem tanda. “Tanda” merupakan masalah atau benda yang mewakili sesuatu atau yang menimbulkan tanggapan yang sama, jika orang  menanggapi , seperti melihat, mendengar dan lainnya dari apa yang diwakilinya.

Selain itu, bahasa juga merupakan sistem bunyi, karena bahasa merupakan suara. Bahasa juga mempunyai sifat produktif, unik,  universal, memiliki variasi-variasi, jati diri kelompok dan dipakai untuk banyak kepentingan (Harimurti Kridalaksana, 2007). Karena memiliki sistem tanda. Semantik – studi masalah makna dan penanda linguistik, yaitu  kata-kata, ekspresi dan kalimat. Dilihat dari sisi makna filosofis semantik dan bahasa memiliki kedekatan yang dinamai semantik umum yang artinya, bahasa ada pada “makna” sebagai pengaruh yang dipikirkan dan dilakukan semua orang (Carol M. Eastman, 2003).

Bahasa Cerbon umumnya memiliki sifat-sifat  yang sama dengan bahasa lainnya. Hanya saja, menurut laporan Pikiran Rakyat (15/3/2010) yang ditulis Amaliya terbukanya bahasa Cerbon sebagai dialek diketahui setelah pusat bahasa meneliti kekerabatan bahasa Cerbon dengan bahasa Jawa. Alasannya bahasa Jawa dipilih, karena dekat dengan bahasa Cerbon, jika dilihat dari kedudukan geografis atau padanan (kemiripan) bahasa.

Baca Juga : Awal Kerajaan Cirebon

Ada tiga dialek bahasa Jawa yang dibandingkan dengan bahasa Cerbon, yaitu dialek Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur. Kepala Bahasa Bandung (sekarang Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat) Muh. Abdul Khal membeberkan, penelitian tersebut melibatkan 2.400 kuisioner sebagai indikator bandingan, seperti kata nama-nama bagian tubuh, seperti makan, minum dan lainnya.

Penelitian tadi didasarkan pada metode Guiter. Metode tersebut dianggap sebagai metode standar internasional yang dipakai juga pada bagian dunia lainnya, seperti Eropa dan Amerika. Hasil akhir penelitian menunjukkan perbedaan kosakata bahasa Cerbon dengan Jawa (Jawa Tengah dan Yogyakarta) hanya 75 persen. Sementara itu, persentase perbedaan dengan dialek di Jawa Timur, yaitu 76 persen. Itu artinya, bahasa Cerbon masih merupakan salah satu dialek bahasa Jawa. Masalahnya Guiter menetapkan untuk menjadi bahasa yang mandiri, harus ada perbedaan paling tidak 80 persen dengan bahasa yang dekat dengan geografisnya.

Dilihat dari sejarahnya, bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh Sansekerta, termasuk bahasa Jawa, Cerbon dan Sunda. Bahasa Sansekerta merupakan bahasa induk bagi bahasa-bahasa yang ada di Tanah Jawa. Dari sekira empatbelas ribu lema Sansekerta (Kamus Sansekerta-Indonesia, Prof. Purwadi, 2008) lebih dari 80 persen kosakata bahasa Cerbon merupakan hasil serapan dari Sansekerta. Memang dalam bahasa Sansekerta tidak ada tingkatan (anggah-ungguh) seperti bahasa Jawa, Sunda dan Cirebon saat ini. Karena Sansekerta sudah merupakan bahasa yang memiliki kedudukan tinggi dalam dunia sastra di Nusantara.***

*) Nurdin M.Noer  – Ketua Lembaga Basa lan Sastra Cerbon.

 Rujukan :

  • Amaliya, Pikiran Rakyat (15/3/2010)
  • Comrie, Bernard (Encarta Refference Libarray, 2003)
  • Eastman, Carol M. Eastman, (Encarta, Refference Library 2003
  • Purwadi, Kamus Sansekerta-Indonesia, (2008)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.