Take a fresh look at your lifestyle.

Siti Aisyah dan Konsep Wanita Karier dalam Islam

0 118

Aisyah radiyallahu anha adalah wanita yang menjadi rujukan intelektual; Muslim maupun Muslimah. Sejak awal, kehadiran Aisyah selalu menjadi rujukan para sahabat terkemuka. Ia dikenal sebagai sumber yang sangat otentik dan tidak ada yang berani meragukan otoritasnya. Perjalanan Aisyah selama sembilan tahun hidup bersama Nabi, menjadi mata rantai pemahaman keagamaan yang utuh dari nalar dan pragmentasinya pada apa yang dilihat, didengar, dilakukan dan hal ihwal tentang Nabi. Inilah kemudian yang disebut dengan sunnah atau hadits.

Salahkah jika ada yang menyebut bahwa dia adalah sumber mata rantai ilmu pengetahuan? Selain tentu sumber bagi persoalan-persoalan agama, termasuk dalam memahami al-Qur’an dan Al-Sunnah. Tidak juga! Mengapa? Sebab dia langsung dibimbing Rasulullah dalam mahligai rumah tangga bersamanya. Aisyahlah sosok Intelektual yang dikenal berhati-hati dalam persoalan-persoalan yang bersipat personal.

Intelektualisme Aisyah merupakan bagian terbesar dari kisah hidupnya. Ia menempati posisi terhormat di antara semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Menjadi beralasan kemudian ketika Abu Bakr al Shidiq, ayahnya sendiri ketika pertama kali diangkat menjadi khalifah, bertanya kepadanya tentang akhlak Rasul. Aisyah menjawab dengan kalimat pendek, bahwa akhlak Rasul adalah manifestasi dari al Qur’an [Khuluquhu al Qur’an].

Kewajiban Istri kepada Suami

Di sisi lainnya, Aisyah merupakan sosok yang taat kepada suami [Nabi Muhammad]. Ia menganggap bahwa memberi pelayanan terhadap suami,  sebagai kewajiban terpenting seorang istri; bahkan mengalahkan kewajiban apapun. Karena itu, tidak salah jika ada yang menyebut Aisyah sebagai teladan yang baik bagi kaum wanita Muslimah. Khususnya dalam konteks relasi istri-suami dalam rumah tangga.

Misalnya, Aisyah dikenal tidak pernah menentang perintah Rasulullah saw., meski tidak sedikit periwayatan yang menyebut dia sebagai pencemburu dibandingkan istri-istri Nabi yang lain.

Namun demikian, banyak hadits Masyhur yang menyebut Aisyah sebagai sosok yang sangat empati terhadap suami. Misalnya, ia pandai merasakan apa yang durasa Rasulullah dalam memegang panji ketuhanan. Jika ada sesuatu yang mengganggu perasaan Rasulullah, meski ia mengetahuinya dengan jalan isyarat, maka, Aisyah pasti menghindari dan menyingkirkannya.

Rasulullah saw. juga mendidik dan mengajari Aisyah untuk selalu bersifat dermawan dan memegang teguh kemuliaan. Berkat pendidikan langsung dari Rasulullah tersebut, Aisyah dikenal sebagai seorang yang dermawan dan selalu berusaha keras untuk membantu orang lain hingga akhir hayatnya. Usianya diketahui mencapai hampir berumur seratus tahun.

Wanita dalam Pandangan Islam

Rasul sendiri menempatkan Aisyah dalam kedudukan yang terhormat. Ia diberi kesempatan bukan saja dalam soal berpendapat, tetapi, juga dalam menalar suatu keadaan di sekitar mereka. Bilik-bilik rumah tangga antara Rasulullah dan Aisyah, menunjukkan pragmentasi keluarga nubuwah yang sangat luar biasa. Sosok Aisyah yang merupakan teladan bagi kita semua menggambarkan bagaimana adilnya Islam yang memberikan ruang gerak bagi seorang muslimah tanpa menyalahi kodrat seorang wanita.

Untuk kurun waktu dan zamannya, apa yang dilakukan Aisyah bersama Nabi tersebut, menjadi pembeda dengan pandangan barat yang memandang bahwa perempuan adalah dewa. Islam sebagai sebuah agama atau ideologi telah memenuhkan hak-hak perempuan secara total dan menempatkan posisi perempuan pada posisi yang sebenarnya.

Aisyah dengan demikian, menjadi suatu bukti bahwa agama atau ideologi tersebut bersifat rasional. Hal ini juga berbeda dengan pandangan orang timur yang menganggap bahwa ruang gerak perempuan terbatas di dalam rumah. Sama sekali tidak ada peluang bagi perempuan untuk melakukan apapun di luar rumah.

Islam hadir dengan sesuatu yang sangat adil. Sebuah posisi yang tidak melebihkan atau mengurangkan hak-hak perempuan. Islam tidak pernah menganggap perempuan sebagai dewa, tetapi juga tidak pernah menganggap perempuan sebagai komoditas yang bisa dimiliki dan diperlakukan sesuka hati.

Kaum perempuan dalam Islam berperan sebagai pemberi ketenangan dalam kehidupan manusia di muka bumi dan perempuan bukanlah penghambat bagi kemajuan kehidupan. Peran perempuan sebagai pasangan dan juga sebagai sosok lembut akan melengkapi kehidupan rumah tangga sehingga tercipta suatu kesatuan yang utuh. Robi’atul Adawiyah –Mahasiswa IPS

Bahan Bacaan

Sulaiman An-Nadawi. Aisyah, The True Beauty.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar