Home » Politik » Nasional » Situasi Politik Indonesia pada 15 Agustus 1966

Share This Post

Nasional / Politik

Situasi Politik Indonesia pada 15 Agustus 1966

Situasi Politik Indonesia pada tanggal 15 Agustus 1966

Tanggal 15 Agustus 1966, gerakan mahasiswa terus massif di jalanan. Bahkan khusus di Kota Bandung, berbagai elemen mahasiswa turun ke jalan yang disaksikan ribuan masyarakat. Mereka menuntut Soekarno mundur dari jabatannya sebagai presiden. Padahal, pengangkatannya sebagai Presiden seumur hidup itu, terjadi atas kehendak rakyat melalui MPRS.

Selain itu, ia juga didukung tokoh-tokoh agama, politisi kawakan dan simpul-simpul intelektual; kiri maupun kanan. Itulah politik Indonesia. Sangat tipis sekali jarak antara dia ketika dipuja dan dia waktu dihujat. Berbagai prestasi yang disumbangkan Soekarno kepada bangsa Indonesia, entah mengapa, tiba-tiba tumpah ruah bak sampah yang tidak ada gunanya. Soekarno seolah sendiri dan kemudian dipaksa atau terpaksa ia memang akhirnya hidup dalam kesendirian.

Yang sedikit berbeda dengan gerakan mahasiswa lain di Nusantara adalah gerakan mahasiswa Bandung. Geraklan mahasiswa ini menyusunnya ke dalam bentuk alegoris patung. Patung lengkap dengan pakaian yang juga lengkap. Patung itu berisi bintang dan tanda jasa di dada yang menggambarkan kesukaan Soekarno ketika memimpin kegiatan.

Di tengah badan patung itu, tertulis sebuah kalimat berbahasa Sunda: “Tjing kuring hayang nyaho, naon Hati Nurani Rakyat. Di sekeliling patung, duduk bersimpuh wanita-wanita cantik  mulai dari yang berpakaian kebaya, atau kimono seperti gadis Jepang. Patung digusur binatang yang sangat kurus. Di sekitar patung dimaksud, berjalan gembel-gembel kecil yang lemah dan kelaparan.

Rekomendasi untuk anda !!   Sulitnya Pertemuan Antara Jokowi dan SBY

Menyusun Pidato Kenegaraan 15 Agustus 1965

Mulai tanggal 15 Agustus 1966, Soekarno menyusun teks naskah yang akan dibaca pada tanggal 18 Agustus 1966. Saat inilah, wibawa Soekarno terus mengalami keruntuhan. Setelah berkuasa selama kurang lebih 21 tahun, dan bahkan baru ditetapkan sebagai presiden seumur hidup, perlahan mulai kehilangan magnetnya sebagai pemimpin revolusi. Terlebih pada tanggal dimaksud, sudah mulai ada di antara masyarakat yang berani menurunkan dan menyobek-nyobek gambar Soekarno.

Surat Perintah 11 Maret yang memberikan mandat kepada Mayor Jenderal Soeharto pada tahun 1966, terus membuat posisinya makin lemah dalam konteks politik nasional Indonesia. Ia menghadapi situasi politik yang fait accompli. Sesungguhnya sudah sejak saat itu juga, pemerintahan Soekarno telah hilang sebagiannya dan beralih kepada Jenderal Soeharto.

Gerakan-gerakan kaum kritis yang dipelopori KAMMI, KAPPI dan elemen intelektual strategis kepemudaan lainnya, terus menuntut agar Soekarno mengembalikan mandatnya sebagai Presiden RI kepada rakyat melalui MPR. Kondisi ini terasa semakin “memanas’, tatkala pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno dalam Sidang Umum ke IV MPRS, 20 Juni – 5 Juli 1966, ditolak. Beberapa gelar yang sebelumnya melekat pada Soekarno, juga dihilangkan. Pada sidang umum dimaksud, MPRS malah menetapkan Surat Perintah 11 Maret itu, ditetapkan sebagai ketetapan MPRS yang tidak mungkin dapat dicabut Presiden Soekarno.

Rekomendasi untuk anda !!   "Gebuk" dan "Tendang" Jokowi dalam Fungsi Bahasa sebagai Kontrol Sosial

Pidato Presiden Soekarno, 17 Agustus 1966, membenarkan hipotesa banyak kalangan. Di satu sisi ia tetap pada pendiriannya bahwa konsep Nasakom adalah final. Dan itu merupakan bentuk gerakan revolusioner. Di pidato itu, juga menegaskan bahwa gerakan-gerakan massif yang dolakukan kontra Nasakom sebagai gerakan revolusioner palsu. Dalam pidato dimaksud, Soekarno malah menyerukan kepada seluruh anggota MPRS dan tentu saja rakyat Indonesia agar terus berjalan, tidak boleh berhenti untuk berjuang terus, Inilah pidato terakhir kenegaraan Soekarno sebagai Presiden RI pertama. Team lyceum Indonesia

 

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>