Social Entrepreneurship, Solusi Masalah Sosial dan Ekonomi

0 306

Social entrepreneurship atau biasa kita sebut kewirausahaan sosial, diyakini berbagai kalangan sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan sosial dan ekonomi suatu negara. Malah tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa kewirausahaan sosial merupakan salah satu solusi mengatasi kemiskinan (masalah sosial).

Anggapan tersebut diyakini Bill Drayton, pendiri sekaligus CEO Ashoka, asosiasi global berkumpulnya wirausahawan sosial yang bermarkas di Washington DC, Amerika Serikat. Kewirausahaan sosial, kata Drayton, adalah wadah di mana sektor bisnis dan masyarakat dapat bekerja secara bersamaan. Dengan makna yang lebih dalam, setiap orang dapat menjadi agen perubahan yang akan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Kewirausahaan sosial adalah profesi pertama yang terorganisasi dengan global,” ungkapnya dikutip Ashoka.org.

Namun begitu, tanggung jawab seorang wirausahawan sosial amatlah berat dalam mengatasi masalah sosial. Karena, bukan hanya perubahan sosial yang harus ia ciptakan, namun juga harus mampu mengubah sistem yang telah berlaku di masyarakat. Wajar jika muncul asumsi yang mengatakan kewirausahaan sosial adalah pertemuan antara pola kapitalisme dan pola sosialisme.

Terlepas dari asumsi apa pun yang telah muncul, social entrepreneurship mampu menciptakan suatu inovasi sosial yang diukur dari seberapa besar unsur pembaharuan yang dikreasikan dalam memberikan dampak terhadap kehidupan sosial masyarakat. Mulanya kewirausahaan sosial ditujukan sebagai kegiatan nirlaba. Di mana segala praktik yang dilaksanakan hanya bertujuan untuk perubahan sosial dalam masyarakat. Namun, inovasi yang muncul dari kewirausahaan sosial justru menumbuhkan suatu hasil ekonomi sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Perilaku manusia yang selalu di dorong motif ekonomi. Dengan mendapat hasil ekonomi, manusia akan terpacu dan terus memelihara suatu usahanya. Peran sosial tercapai, kemiskinan dapat diatasi, dan keberlanjutan kegiatan lebih terjamin. Walau begitu, social entrepreneurship masih tetap mempertimbangkan faktor untung rugi layaknya bisnis pada umumnya. Berbagai prinsip ekonomi seperti efisiensi pendanaan juga diterapkan.

Bukan Pekerjaan Namun Jalan Hidup

Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah orientasi keuntungan yang diraih akan dinikmati secara pribadi, atau bersama dengan masyarakat sekitar? Sebab, belakangan muncul asumsi bahwa kewirausahaan sosial tengah mengalami pergeseran. Kini tidak semata-mata hanya bicara soal sosial namun lebih kepada unsur bisnis. Dengan kata lain, kewirausahaan sosial berkembang menjadi salah satu private entrepreneurship. Namun anggapan itu disanggah keras Drayton dalam Jurnal Innovation 2006 dengan menyebutkan apa yang dilakukan wirausahawan sosial semata-mata guna menciptakan perubahan di bidang ekonomi dengan berbagai kegiatan sosial. “Apa yang mereka lakukan bukanlah pekerjaan, namun itu adalah hidupnya,” tegas Drayton.

Muhammad Yunus
Muhammad Yunus

Contoh sukses aksi kewirausahaan sosial ditunjukkan pria asal Bangladesh, Muhammad Yunus, dengan sistem Grameen Bank. Peraih Nobel Perdamaian 2006 ini tidak hanya menetapkan pola baru untuk kredit mikro bagi masyarakat kecil, namun juga menghilangkan jarak antara perbankan dengan masyarakat kecil yang selama ini selalu dianggap tidak layak bank (bankable). Sejak nama Yunus muncul, banyak orang bertanya-tanya, usaha yang ditekuninya ini bisnis atau sosial?

Di satu pihak, Muhammad Yunus membebaskan masyarakat dari kemiskinan, namun di lain pihak, lembaga yang ditanganinya dikelola secara profesional bisnis. Namun, Muhammad Yunus menjawabnya dengan tetap mempertahankan prinsip awal Grameen Bank sebagai bentuk kewirausahaan sosial, didasarkan kepada tanggung jawab sosial di masyarakat. Terbukti, Muhammad Yunus sukses memerangi kemiskinan di negaranya. Menurut Yunus, masyarakat menjadi miskin bukan karena mereka malas atau bodoh. Orang menjadi miskin karena mereka tidak memiliki struktur finansial yang dapat membantunya. Kemiskinan, kata Yunus, adalah masalah struktural, bukan persoalan personal.

Sayap Adalah Modal

“Supaya dapat terbang, Anda harus punya sayap. Bagi orang-orang miskin, modal yang termurah adalah sayap. Kalau tidak punya sayap, mereka tidak akan dapat keluar dari kemiskinan,” tandas Yunus.

Karena itu, Yunus memberi masyarakat di sekitarnya akses untuk mendapatkan sayap-sayapnya sendiri. Karena, ada orang yang terperangkap kemiskinan karena ulah mereka sendiri, karena cara berpikir yang keliru. Ada yang dibentuk nilai-nilai sosial yang dianut, ada juga yang mengalami kesulitan tertentu. Namun ada pula yang miskin karena “tidak punya sayap” seperti kesehatan, pendidikan, akses permodalan dan pasar, teknologi, infrastruktur, dan lain sebagainya.

Melalui Grameen Bank, Yunus telah berhasil menyelamatkan jutaan warga Bangladesh dari kemiskinan. Bahkan, sistem yang dia gunakan di Grameen Bank kini diadopsi di berbagai negara dunia ketiga untuk memerangi kemiskinan, termasuk Indonesia. (dhirga)

(masalah sosial)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.