Take a fresh look at your lifestyle.

Socrates dan Pentingnya Taat Hukum

0 122

Socrates dan Pentingnya Taat Hukum. Socrates adalah filosof idealis Yunani Kuna. Ia bukan hanya menjadi guru bagi Plato, tetapi menjadi sumber pemikiran filosofis para filosof sesudahnya. Ia menjadi mata rantai penting akan berbagai pemikiran yang mengajak setiap manusia, termasuk umat hari ini, untuk mengerutkan dahi ketika membaca pikirannya.

Menurut Socrates, negara harus memiliki aturan main tentang pengelolaan negara. Itulah yang hari ini disebut dengan hukum. Hukum, menurut “manusia setengah dewa” ini, harus hadir untuk menjadi pijakan objektif dalam mencapai kebajikan dan keadilan. Terpeliharanya kebajikan dan keadilan yang bersipat umum, itulah tujuan terbentuknya hukum.

Menurut Socrates, hukum harus dibentuk atas landasan hakikat dan fungsi kemanusiaan. Hukum hanya akan mampu menertibkan umat, jika ia berada dalam upayanya untuk memfungsikan hakikat dan fungsi kemanusiaan.

Menurutnya, hukum tidak boleh dibuat untuk melanggengkan kekuasaan. Apapun itu alasanya. Hukum juga tidak dimaksudkan untuk membiarkan orang yang merasa dirinya kuat melakukan eksploitasi terhadap rakyat. Hukum dibuat untuk mengabdi pada tujuan kehidupan manusia yakni kebahagiaan (eudaimonia).

Hukum karena itu, tidak boleh mengabdi kepada perasaan subjektif. Termasuk perasaan subjektif kelompok tertentu yang disebut lemah. Hukum harus selalu berada di tengah. Menjembatani kepentingan upper structure and low structure negara.

Mentaati Hukum adalah Integritas

Socrates yang sangat popular itu, juga mengajarkan akan pentingnya taat kepada hukum negara. Karena itu, wajar jika Socrates menolak ajakan murid-muridnya untuk kabur dari penjara, padahal kemungkinan untuk kabur itu sangat mungkin dia lakukan. Diketahui bahwa ketika Socrates di penjara akibat dituduh makar, karena ia populer dengan gagasan konsepnya tentang negara ideal, sehari sebelum dia diracun, banyak-muridnya yang diam-diam datang ke penjara dia mengajaknya untuk kabur.

Saat kesempatan untuk kabur bersama dengan murid-muridnya itu ada, ia malah mengatakan bahwa biarkan tubuhku dipenjara, toch pikiranku tidak pernah terpenjara. Tetapi, jika pikiranku juga tidak berfungsi karena tubuhku terpenjara, maka, hati nuraniku akan selalu berfungsi. Aku tidak akan mengajarkan kepada kalian untuk melanggar hukum yang dipakai negara, sekalipun hukum dimaksud, sangat lemah dan merugikan kita. Besoknya, ia mati diracun karena dituduh melakukan makar.

Ia mati bersama secangkir racun di ruang sumpek tahanan Yunani Kuna. Ia mati pempertahankan konsepnya tentang hukum yang dianggapnya pasti akan menjunjung tinggi kepedulian terhadap kebijaksanaan dan kebenaran.

Konsep Socrates yang menjunjung tinggi keutamaan [primum et summum bonum], membuatnya ia terkapar. Tetapi bersamanya, tersemai dengan baik suatu konsep bahwa hukum butuh kebajikan. Inilah yang disebut Socrates dengan pengetahuan. Untuk mengetahui kebaikan, hanya dapat dilakukan jika mampu melakukan kebaikan. Kejahatan dan kekeliruan, lahir karena lemahnya pengetahuan. Inilah yang disebut dengan integritas. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar