Sodomi di Kalangan Pegiat Agama dan Sosial | Catatan LGBT Part ai??i?? 3

0 282

Kata Sodomi, dalam tradisi santri dikenal dengan nama liwat. Istilah ini, memang bukan baru dan sebenarnya, dalam Ai??kasus tertentu, Liwat,Ai??sudah menjadi fenomena yang sering terjadi di kalangan santri. Ai??Di lembaga pendidikan lain, yang menyelenggarakan pendidikan boarding,Ai?? penyimoangan perilaku sex ini, tidaklah jauh berbeda. Hanya saja kasusnya sangat tertutup, dan dari sisi prosentase sangat kecil.

Di kalangan mereka yang pernah mengenyam pendidikan berasrama, kejadian semacam ini, sesungguhnya sudah diketahui umum dan secara historis diketahuinya secara detil. Mengapa? Sebab kejadian liwat, dibaca mereka baik dalam Tafsir-tafsir al Qur’an, maupun dalam keterangan kitab Kuning, sebenarnya sudah terjadi sejak jaman Nabi Luth.

Pandangan mereka [kyai dan santri], bahkan bahkan di kalangan para pemangku seluruh agama yang benar, sikapnya sama. Mereka mereleas pandangan dan sikap keberagamaannya yangAi?? menyimpulkan bahwa liwat atau sodomi yang salah satunya melakukan hubungan seks melalui Anal, ituAi?? dilarang. Karena itu, hampir setiap agama memiliki pandangan dan sikap yang sama. Menolak perbuatan dan tindakan deviasi seksual ini.

Sejarah Deviasi Seks

Direktur Executive Daerah, Paguyuban Keluarga Berencana Indonesia [PKBI] Jawa Barat, Dian Mardiana, menyebut bahwa secara historis, fenomena deviasi sexs ini, sudah lama terjadi. Sebuah Paguyuban yangAi??membawahi 18 cabang di seluruh Jawa Barat ini, menyatakan bahwa perbuatan seks menyimpang; adalah isu baru di fenomena lama. Isu ini juga yang menjadi bagian penting dari kegiatan dan program kerja lembaga kami.

Organisasi yang dibiayayi funding [dalam dan luar negeri] dalam bidang Kependudukan dan Kesehatan Reproduksi ini, menyatakan bahwa soal deviasi seks, termasuk soal Sodomi dan Lesbian, hari ini hanya bergeser dari karakternya yang tertutup menjadi permisif [terbuka]. Fenomena ini, sejatinya sudah lama terjadi dan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.

Lebih lanjut, Direktur Executive yang salah satunya dibiayai Global Fund dan diawaki WHO [organisasi Otonom PBB] dalam bidang kesehatan ini, menyebut bahwa, tradisi liwat [sodomo], patut diduga di di zaman sahabatpun terjadi. Beberapa tokoh terkenal, sebut misalnya Malik bin Anas yang umurnya diperkirakan sampai 160 tahun, ia tidak menikah. Ketidakmenikahannya dia, dalam analisa tertentu, patut diduga memiliki kecenderungan suka sesama jenis. Nuwas yang menjadi pencipta dongeng 1001 malampun sama. Dalam syair-syair yang dia buat, banyak di antaranya yang justru memuja ketampanan laki-laki, termasuk jika ia melihat raja yang tampan.

Hanya saja, karena mereka memiliki pemahaman, sikap, dan pandangan keagamaan [Islam] yang kuat, ia tidak menyalurkan kecenderungan dimaksud. Ini tentu hanya bersipat dugaan [spekulatif] yang tingkat kebenarannya perlu diuji.

Sodomi dan Life Style Baru

Fenomena penyimpangan seks, menurut Dian Mardiana, harus dibedakan antara kecenderungan [orientasi seks] dan perilaku atau perbuatannya. Dilihat dari sisi orientasi, penyimopangan sejenis ini, sebenarnya bersipat Native, Natural dan given. Dalam bahasa agama yang saya anut, namanya takdir. Kecenderungan seks sejenis ini, juga nyata dan terjadi di seluruh dunia. Ini yang tidak bisa kita bantah.

Persoalan kedua, adalah Perilaku Sodomi [liwat] yang dilakukan siapapun [Muslim atau bukan]. Yang ini yang dilarang. Dalam kacamata aktivis PKBI, perilaku sejenis ini, bahkan dapat disebut sebagai kekerasan seksual.

Harus diakui menurut Dian, soal ini sekarang menjadiAi??trend. Mereka yang senangAi??terhadap sesama jenis menjadi permisif tidak lagi tertutup seperti dulu. Bahkan di kalangan mereka yang sudah berada dalam posisi itu, kini seperti membuat sebuah nilai tawar atas haknya sebagai manusia dalam konteks kenegaraan.

Secara Sosiologis, menurut Dian, trend ini, seperti didorong oleh suatu kekuatan tertentu yang bersipat global. Ditambah ada kecenderungan tuntutan gaya hidup [life style] yang tidak lagi menyoalkan soal perilaku seks menyimpang. Dalam kasus tertentu, bahkan terdapat sinyalemen bahwa inilah trend modern dan mereka yang melakukannya dianggap sebagai kelompok modern juga.

Betul bahwa dalam soal perilakuAi??[liwat/sodomi]Ai??itu nggak boleh dan dianggao final bahkan oleh semua agama. Namun demikian, secara faktual, kondisi ini, di lingkup sosial sebenarnya banyak terjadi. Soal Sodomi [anal sex] misalnya, bahkan terbiasa terjadi di kalangan suami istri dalam melakukan hubungan sex. Padahal hubungan seks anal [melalui anus], bukan saja dilarang Tuhan. tetapi juga secara medik, sebenarnya tidak mungkin hubungan seperti itu dilakukan. Mengapa? Karena dubur tidak melahirkan pelumas [madi]. Padahal pelumas sangat dibutuhkan dalam hubungan seks.

Sodomi antara Alami dan Penularan

Data PBKI menyebutkan bahwa, orientasi sex yang alami sebenarnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang bukan alami. Kebanyakan, mereka yang memiliki perilaku menyimpang itu, terjadi karena penyebaran dan penularan. Pertanyaannya, mengapa semua itu terjadi? Dalam analisa PKBI Jawa barat, hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia mengalami pergeseran nilai. Semua itu terjadi karena perubahan gaya hidup atau perubahan trend tertentu yang berlaku di masyarakat.

Gerakan globalisasi budaya, termasuk budaya permisif personal, yang berkembang di Barat, malah ikut menjadi trend baru di Indonesia. Akibatnya, sebuah perilaku yang dulunya dianggap sebagai aib, kini menjadi sesuatu yang biasanya. Toleransi yang menjadi ciri masyarakat Indonesia, termasuk dalam soal yang seperti ini, yang dulunya sebearnya telah dilakukan meskipun bersipat tertutup, kini ada tuntutan baru bahwa toleransi atas soal dimaksud, untuk menjadi terbuka.

Persoalan lebih serius karena ternyata, trend baru itu, juga muncul di kalangan para pemangku jabatan negara. Hanya saja, di kalangan mereka, perilaku sejenis masih sangat tertutup karena pertimbangannya sebagai tokoh publik. Ekspresi mereka masih lebih bersipat hati-hati karena mereka pasti akan memiliki pertaruhan dengan jabatan, gengsi sosial dan self esteem lainnya.

Terhadap perilaku seks menyimpang inilah, sebenarnya, PKBI konsen. Lembaga ini bergerak dalam upaya memutus mata rantai HIV-AIDS, yang justru banyak menular karena perilaku seks sejenis ini. PKBI tidak bergerak dalam konteks boleh dan tidaknya hukum melakukan seks [sodomi atau anal], melainkan pada sisi kesehatannya. Lebih dari itu, PKBI tidak bertaruh atasnya. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.