Soe Hok Gie Tak Pernah Mati, Berbahagialah Dalam Ketiadaanmu “Gie”

0 54

Perkembangan zaman sangat berperan besar terhadap pertumbuhan jiwa dan karakter manusia. Di era modern ini dengan segala perkembangannya sangat berpengaruh terhadap kenormalan akal sehat anak muda. Tapi sangat disayangkan, jika  perkembangan zaman tidak diimbangi dengan perkembangan akal dan budi generasinya. Jika hal itu terjadi maka yang lahir adalah generasi yang hanya menjadi sang pemimpi abadi dan oportunis sejati.

Tetapi tidak selalu demikian sejarah telah menjawab bahwa karakter zaman memang tercermin dalam karakter manusia pada masanya. Berlalunya waktu memang sudah semestinya, tapi terkadang pemikiran bisa melintasi batas ruang dan waktunya. Tubuh boleh binasa tapi semangat dan pemikiran akan terus abadi sepanjang masa. Ada satu sosok anak muda yang menurut penulis semangat dan pemikirannya tetap abadi dalam sejarah pergerakan mahasiswa. Sosok yang ikut andil dalam perubahan di masa akhir orde lama, sosok tersebut kita kenal dengan nama Soe Hok Gie.

Soe Hok Gie dilahirkan 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik, seorang yang berdarah indo-cina dengan idealisme yang tinggi dan berani jujur terhadap diri sendiri, tetapi sayang nampaknya semesta tidak merestui sang idealis berumur tua perjalanan hidupnya tidak panjang ia meninggal pada tanggal 16 Desember 1969 sehari sebelum ia genap berusia 27 tahun, memang hidupnya tidak berumur panjang tapi ia mewarisi semangat dan pemikiran yang tidak termakan batas usia. Semasa hidupnya Soe selalu membuat orang gerah dan tidak nyenyak tidur akibat kritikan-kritikan pedasnya.

Soe disamping seorang aktivis ia juga seorang intelektual yang merdeka, kritis, rasional tanpa kompromi, berani dengan lantang mengkritik dan berkata yang salah itu salah dari mulai guru, kawan seperjuangan, pejabat bahkan Tuhan-pun tak luput ia kritik apabila tidak sesuai dengan pemikirannya, meskipun ia mengerti bahwa konsekuensinya akan pahit. Diasingkan, tidak popular, bahkan dimusuhi banyak orang, tapi ia tidak gentar dan tetap memegang teguh prinsipnya karena menurutnya “tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran” idealisme dan pemikirannya yang anti kompromi merupakan satu jawaban atas pertanyaan dasar terhadap dirinya, yang ia tulis dalam catatan hariannya, “Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin menvenangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidakpopuleran, karena ada satu yang lebih besar yaitu kebenaran”.

Pada akhir tahun 1961 ia masuk perguruan tinggi tepatnya di jurusan sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Ia bukan tipe mahasiswa seperti kebanyakan sekarang. Mahasiswa yang seolah seperti kerbau yang harus selalu nurut, hanya duduk manis di dalam ruang kelas sambil mendengarkan ceramah dosen yang seolah tidak pernah salah layaknya dewa. Masa perkuliahan adalah pintu awal bagi kehidupan barunya yang menghantarkan namanya melambung tinggi melebihi tingginya Semeru tempat dimana ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Kecintaannya terhadap buku sastra dan di topang dengan latar pendidikannya sebagai mahasiswa sejarah mengantarkan ia menjadi seorang mahasiswa sekaligus aktivis kritis, dan bersikap skeptic yang rajin menulis, tulisan-tulisan bernada kritikan hasil karyanya banyak dimuat di Koran-koran nasional waktu itu, akibat tulisannya tak jarang ia mendapat banyak cacian bahkan terror seperti surat kaleng yang berisi tulisan “Cina tak tahu diri, pulang sana ke negeri asalmu” tapi itu sama sekali tidak membuatnya gentar dan mundur karena ia menyadari betapa berat dan sukarnya perjuangan menuju kebenaran.

Sikap idealis yang dipegang kuat olehnya membuat Soe Hok Gie bersebrangan dengan banyak kawannya sampai sampai ia dikucilkan tapi baginya itu bukan masalah. Ia tetap memegang teguh prinsipnya. Baginya ketika kita berikrar menjadi idealis dan intelektual merdeka maka harus siap mengakrabi kesepian dan ketidakpopuleran. Seorang idealis hanya akan dan harus berfikir,berkata dan bersikap atas nama kebenaran dan apa adanya bukan ada apanya. Itulah ia Soe Hok Gie seorang mahasiswa idealis yang akan terus menjadi inspirasi dan referensi perjuangan mahasiswa Indonesia.

Ketika kawan-kawan yang dulu berjuang mengkritik kebobrokan para pejabat negri bersamanya telah duduk manis di senanyan dan mulai dengan perlahan kehilngan idealismenya Soe Hok Gie tetap mempertahankan idealismenya, “baginya politik adalah barang yang paling kotor, jika kita tidak bisa menghindar maka terjunlah”. Dalam catatan hariannya ia pernah menulis “lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan “inilah salah satu konsekuensi dari sikap idealisnya dan ia bertanggung jawab atasnya.

Belajar dari Sosok Soe Hok Gie

Jika kita melihat dengan jujur atas banyaknya permasalah bangsa yang begitu pelik. Bangsa ini butuh generasi muda yang sadar akan masa depan bangsanya. Generasi muda yang mau turun tangan memberi solusi bukan hanya pintar mencaci maki, generasi muda yang tidak hanya kritis tapi rasional dan dibarengi dengan hal praksis. Mahasiswa sebagai bagian terpenting dari bangsa sudah saatnya menjadi actor perubahan bukan hanya agen bagi perubahan. Setiap orang setiap generasi punya hak untuk menuliskan sejarahnya dan mari menulis sejarah perubahan yang lebih baik jangan malah menjadi bagian dari kebobrokan yang terjadi.

Belajar dari sejarah belajar dari Sosok idealis yang selalu mengatakan kejujuran dan berbuat atas nama kebenaran. Dia telah berhasil menulis sejarah bagi dirinya dan bangsanya namanya tak lekang dari ingatan banyak orang. Semoga semngat yang ia wariskan tetap ada dan akan terus berlipat ganda. Ialah Soe Hok Gie (17 Desember 1942 – 16 Desember 1969), sesuai dengan apa yang Gie tulis. Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah berumur tua, berbahagialah mereka yang mati muda. Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu “Gie”. [Fajar Rahmawan]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.