Inspirasi Tanpa Batas

Soeharto Kembali Mengambil Kedigjayaan Baru | Catatan Buat Partai Golkar Part – 1

1 2

Konten Sponsor

Soeharto Kembali dan Mengambil Kedigjayaan Baru. Hidup dan mati datang silih berganti. Timbul dan tenggelam datang bergantian dan saling mengambil posisi. Tak terasa, 19 tahun sudah kata reformasi bergulir mengitari zaman Republik bernama Indonesia. Suatu fase yang relatif pendek jika digunakan untuk hal-hal yang produktif, tetapi cukup panjang jika digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif.

Orde ini, terkenal dengan sebutan Orde Paling Baru di Republik Indonesia. Suatu fase yang sering menyebut diri sebagai Orde Reformasi. Apa yang direformasi? Banyak orang tentu tidak tahu!. Yang pasti bahwa faktor dan aktor pembuat kebijakan politik, tidaklah jauh berbeda. Yanga ada hanyalah regulasi kekuasaan.

Mereka yang dulu di pinggiran, sekarang berada di kelas menengah dan atas. Yang dulu di lingkar kekuasaan, minggir entah ke mana. Hampir sulit dilacak. Mereka yang terbiasa muncul dalam ragam berita di Orde Baru sekalipun, kini entah di mana dan sedang memainkan apa.

Reformasi Politik

21 Mei 998 itulah awalnya. Awal di mana perubahan baru terjadi. Suatu masa di mana tampaknya akan datang kabar yang demikian menjanjikan. Janji kebahagiaan yang akan segera menjumpai masyarakat Indonesia. Setelah hampir 32 tahun kekuasaan Orde Baru digenggam Pak Harto, ia “terpaksa” harus lengser dari Jabatannya sebagai Presiden. Suatu jabatan empuk yang dianggap kelompok “oposisi” dihasilkan dari suatu proses revolusi yang keliru. Padahal entahlah siapa sesungguhnya yang keliru.

Upaya Soeharto untuk mempertahankan kekuasaannya melalui pendekatan kulturalpun tetap gagal mencapai hasil. Terlebih ia tampak kelihatan kaget, ketika Harmoko [Ketua DPR] yang lama menjabat sebagai Menteri Penerangannya, justru meminta Soeharto turun dari jabatannya sebagai Presiden. Pernyataan Harmoko pada 18 Mei 1998 dimaksud, dibantah Wiranto dengan menyebut hal itu sebagai pernyataan individual belaka. Tetapi gelombang atas desakan pak harto mundur terus menguat.

Akhirnya, “Sang Presiden” pada tanggal 19 Mei 1998, pukul 09.00 meminta bertemu dengan para ulama dan tokoh masyarakat serta intelektual. Pertemuannya dengan Nurcholish Madjid [Rektor Paramadina], Emha Ainun Nadjib [budayawan], Abdurrahman Wachid, Achmad Bagja dan Ma’ruf Amin [NU], Prof. Malik Fadjar dan Sumarsono [Muhamadiyah], Ali Yafie [MUI] dan Yusril Ihza Mahendra [Ahli Hukum Tata Negara dari UI], tidak mencapai hasil. Bahkan Emha Ainun Nadjib sedikit nyeleneh dengan menyebut bahwa Reformasi maknanya adalah pak Harto turun dari jabatannya sebagai Presiden. Jadilah 21 Mei menjadi hari bersejarah runtuhnya kekuasaan Soeharto.

Reformasi dan Nasib Rakyat

Yang pasti satu, dari dulu sampai saat ini, banyak rakyat yang hanya merasakan tetap menjadi rakyat kecil. Jauh dari panggang api untuk disebut telah menikmati kemerdekaan. Rakyat baru sampai pada apa yang disebut dengan gerbang kemerdekaan; baik dalam konteks politik, maupun dalam konteks ekonomi dan sosial budaya.

Reformasi khususnya dalam sepuluh tahun awal perjuangannya, hanya habis dipakai membuat kebijakan-kebijakan antitesis Soeharto. Lupa bahwa dalam kebijakan yang diambil era Soeharto itu, banyak juga yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Tetapi itu suatu zaman yang kalau roda kekuasaan berputar, seolah yang lain atau yang sebelumnya harus diputus dan harus dipandang salah.

Sampai kemudian, Saking Jangan Sampai ada Unsur Soeharto, termasuk misalnya Film Gestapu PKI-pun hilang di peredaran. Di buku-buku pelajaran sekolah entahlah. Yang pasti anak saya sendiri, ketika hari ini menonton Film dimaksud, bengong dan hampir tidak mengerti apa itu PKI atau apalagi tokoh-tokoh di baliknya. Ini menjadi tanda bahwa ternyata soal kooptasi kekuasaan yang dilakukan segerombolan orang dengan menculik Jenderal-jenderal Angkatan Darat dimaksud, tidak lagi diajarkan.

Kooptasi yang mendramatisasi “Perang” kaum elite negara itu, telah menyebabkan akhirnya, Mayor Jenderal Soeharto, menjadi Presiden. Suka atau tidak, itulah Presiden Republik Indonesia. Ia sama dengan Soekarno, Habibie, Abdurahman Wachid, Megawati, Soesilo Bambang Yudhoyono serta saat ini, Joko Widodo. Mereka semua ada orang hebat yang hadir bersamaan dengan situasi yang mengitari mereka.

Yang menjadi pertanyaan penulis saat ini adalah sederhana. Di mana saat ini Golkar berada …. inilah yang akan menjadi ulasan berikut dalam dua atau tiga tulisan ke depan. Bersambung ke Akan kah Golkar By. Prof. Cecep Sumarna

  1. Faisal amir berkata

    Siap mebunggu tulisan beriktnya prof.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar