Sosok Bagus Rangin Dalam “Perang Cerbon”

0 120

BAGUS Rangin, nama pejuang Cirebon yang fenomenal. Dalam catatan sejarawan Australia, Ricklef (2005), Bagus Rangin dikenal sebagai Raden Rangga. Dia saudara ipar Sultan Hamengku Buwana II dan kalangan bangsawan Yogyakarta. Pemberontakan ini berhasil di tumpas dengan mudah dan Rangga terbunuh. Tetapi, putranya Sentot Alibasyah Prawiradirdja, masih hidup dan memainkan peranan penting dalam Perang Jawa.

Perlawanan rakyat Cirebon yang dipimpin oleh Bagus Rangin ternyata menyebar ke seluruh wilayah yang waktu itu termasuk Keresidenan Cirebon. Sekarang dikenal dengan nama Ciayumajakuning. Lebih dari itu, perlawanan tersebut bahkan meluas juga sampai ke Subang dan Karawang. Selain itu, perlawanan tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat panjang sekitar 13 tahun (1805-1818). Luasnya areal dan lamanya perlawanan menunjukkan bahwa Bagus Rangin memiliki jasa “Bagus Rangin” terhadap bangsa dan negara. Hal ini karena ia mampu menggerakkan rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme.

Tidak dapat dimungkiri lagi bahwa Bagus Rangin adalah sosok ulama, elite pribumi, dan pemimpin yang berkelakuan baik. Namanya begitu disegani oleh rakyat karena menunjukkan sikapnya sebagai seorang pemimpin agama dan pemimpin pemerintahan. Selama memegang kekuasaan di Kebagusan Jatitujuh dan selama memimpin perlawanan, Bagus Rangin tidak pernah berkelakuan yang merugikan rakyatnya, tulis Nina Lubis.

Namun dalam naskah yang ditulis Van der Kemp, nama Bagus Rangin tak disebutkan sebagai tokoh yang di hukum mati. Pada Agustus 1818, Neirem, Serrit dan Jabin di hukum gantung setelah di adili Pemerintah Belanda di Pengadilan Semarang. Mereka di gantung di alun-alun Tangkil Cirebon (sebelah selatan Gedung Karesidenan saat ini).

Perang Gerilya

Menurut filolog Opan Safari Hasyim (Makalah, 2015), dalam menghadapi musuh, Ki Bagus Rangin dan pasukan santri menggunakan strategi atau gelar perang. Ada dua jenis perang yang dihadapi oleh laskar Bagus Rangin atau laskar santri. Jenis perang yang pertama adalah perang gerilya. Dalam perang gerilya gelar yang digunakan adalah gelar Gasiran. Gelar Gasiran ini dalam cerita perang jaya pernah digunakan oleh Senopatih Aswatama putra Mahadwija Dornacharya. Strategi Gasiran adalah dengan cara menyusup ke pusat pertahanan lawan dengan cara menunggu kelengahan lawan. Setelah itu, lawan diserang dengan cara mendadak kemudian pelaku serangan menghilang.

Para pejuang Cirebon sering menggunakan gelar Gasiran ini untuk melemahkan sistem pertahanan kompeni Belanda. Sasaran yang diserang adalah gudang penyimpanan harta benda dan makanan. Harta benda dan makanan yang dicuri dari pemerintahan kolonial Belanda dengan sistem culture stelsel-nya diambil kembali oleh para pejuang untuk dibagikan kepada rakyat yang sengsara akibat ulah kompeni ini. Pelaku dari gelar gasiran ini sering disebut oleh musuh dan masyarakat dengan sebutan maling durjana.

Ki Bagus Rangin sendiri tidak luput dari julukan itu. Sebagaimana disebutkan dalam naskah sejarah Wiralodra (Dermayu) yang mengatakan bahwa, “anggene jaya durjana // kadang wismanipun // putrane purwadinata // saking susah ribute wong Negara // wenten malih ingkang warta // tiang ngeraman sampun siyagi // makumpulaken tiyang wong desa // bantarjati // anang pernahe biawak jatitujuh // tiang kulincar lan panca ripis // sesek katahipun tiang // sangking pitungatus // juragane bagus kandar bagus rangin // surapersanda niki // bagus seja lan bagus sena//.

Perang Terbuka

Jenis perang yang kedua adalah perang terbuka. Dalam perang terbuka ada beberapa gelar perang yang pernah diterapkan. Di antaranya adalah:

Buaya Mangap

Gelar perang yang pertama adalah gelar perang Buaya Mangap. Gelar ini pernah digunakan di Bantarjati ketika melawan pasukan kompeni Belanda dan pasukan dari Indramayu. Di setiap janur kuning yang menuju tenda disiapkan tiga prajurit. Jumlah janur kuning yang menuju tenda ada dua puluh janur. Di setiap sasaknya dijaga lima puluh prajurit. Di sekeliling tenda disiapkan parjurit inti yang bersembunyi dan akan keluar menunggu perintah komando. Jebakan bentuk buaya mangap ini dapat menghancurkan seluruh musuh.

Tutup Kembu

Tutup kembu adalah wadah ikan hasil tangkapan memancing. Gelar perang tutup kembu adalah gelar perang untuk menjebak musuh, pintu masuk (penutup) adalah sungai Ciwaringin, lingkaran jebakan ada di sekitar tegalan yang sekarang disebut Palebon (kebon) Tiyang.

  • Ki Bagus Serit, Ki Kuwu Sarman, Buyut Bala Ngantong dan anak buahnya berada di barisan timur menghadapi pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Mulder.
  • Ki Bagus Rangin, Ki Kuwu Berong dan Ki Buyut Beber Layar beserta anak buahnya berada di lingkar utara menghadapi devisi pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Le Couvreur.
  • Ki Bagus Arsitem, Ki Kuwu Raksa Penanga, Ki Buyut Salimudin berserta anak buahnya berada di lingkar selatan berperang melawan pasukan yang dipimpin Kapten Van Bent.
  • Ki Buyut Kinten, Ki Kuwu Ganisem, Ki Buyut Singanala dan pasukannya berada di pintu masuk / tutup kembu yang berada disekitar sungai Ciwaringin. Pasukan yang dihadapinya dipimpin oleh Letnan Van Steenis.

Gelar Perang Cakravayu yang digunakan Senopati Kurawa Mahadwija Dornacharya untuk menjebak Abimanyu ditiru oleh para pejuang Cirebon dalam menjebak pasukan Kompeni di Palebon Tiyang (dalam bahasa Cirebon gelar itu disebut dengan gelar perang tutup kembu)

Gelar Suluhan

Gelar perang suluhan, menurut Opan Raffan adalah gelar perang yang dilakukan pada waktu malam hari. Gelar ini pernah dicatat oleh Ki Konjem dan Ki Siti Siwan (1896 – 1946) dalam naskah Brahmakawi Perang Jaya. Pada episode Perang Jaya Suluhan. R. Gatotkaca merupakan inisiator dari gelar perang ini. Dalam gelar perang suluhan Raden Gatotkaca diperintahkan untuk memancing senopati Kurawa, yaitu Adipati Karna untuk menggunakan senjata pamungkasnya. Senjata Panah Konta Wijayadanu dilepaskan Adipati Karna untuk mengakhiri perlawanan Gatotkaca. Kemenangan atas gugurnya Gatotkaca disambut gembira oleh pasukan Kurawa. Namun Adipati Karna sangat sedih dengan kemenangannya, sebab keesokan harinya ketika berhadapan dengan Arjuna, yaitu musuh yang lebih penting yang harus dihadapinya, Karna tidak memiliki senjata sakti yang dapat melawan Pasopati. Pasopati adalah senjata milik Arjuna. dalam lakon jaya tandingan ini senopati Karna tewas di tangan Arjuna  (ibid).

Kejadian pertempuran di Pedamaran ini masih dikenang oleh keluarga besar Martasinga, Ciwaringin, dan penduduk sekitar desa Kedongdong. Tempat penyalaan obor pertama disebut Pedamaran dan diabadikan menjadi situs Pedamaran. Para pejuang Cirebon seperti Ki Bagus Rangin dan lain-lainnya sangat menguasai medan perang dan strategi perang yang dipelajarinya dari literatur Perang Parit (Khandaq) Prakarsa Salman Al Farisi seorang sahabat Nabi Muhammad.

Selain itu juga para pemimpin perjuangan di Cirebon juga memelajari strategi perang yang digunakan dalam Perang Jaya (Bharatayudha). Ki Konjem dan Ki Gedog dan tokoh dalang-dalang lainnya adalah seniman yang aktif mensosialisasikan propaganda anti kolonialisme. Pemerintah kolonial juga pernah memberlakukan larangan para dalang untuk melakokan episode Bharatayudha atau lakon Perang Jaya.***

Oleh: Nurdin M.  NoerWartawan Senior dan Peminat Sejarah.

Bahan Bacaan:

Hasyim, Opan Safari  (makalah, 2015),

Kemp, Van der  (Perang Cerbon,  Idayu 1979)

Ricklef,M.C (Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004, Serambi,2005)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.