Sosok Mellisa Claudhya dalam Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 12

Sosok Mellisa Claudhya dalam Misteri Sang Ksatria Cinta-Part 12
0 123


Sosok Mellisa Claudhya:
Kurang lebih pukul 13 Allent baru datang ke Kantornya, di salah satu City Tower Jakarta, lantai 18. Tampak dalam ruangan besar sudah pada duduk para komisioner perusahaan, terutama Alberta dan istrinya Hypatia. Semula mereka bingung, karena Allent yang seharusnya datang di Kantor Pusat Jakarta pukul 8.30 pagi, ternyata jauh melesat. Hanya supir memberi tahu kalau Allent mengantar temannya ke Bandung, yang suaminya mati akibat  kecelakaan di TOL Cipali tadi pagi.

Rapat Pemegang Saham Ditunda

Muka Alberta agak sedikit memerah saat Allent datang. Hanya Hypatia yang masih berkenan bertanya kepada Allent, siapa yang kecelakaan itu, sehingga membuat kamu tidak memberi ruang untuk hanya supir kantor saja yang mengantar dia ke Bandung. Allent mengatakan yang meninggal itu adalah suami dari Mellisa Claudhya. Seorang dokter spesialis kulit dan ahli genetika asal Indonesia. Ia bersama diriku mengikuti seminar yang diselenggarakan para ilmuan tersohor dunia di Tokyo University Jepang beberapa hari ini.

Sesaat Alberta bengong karena nama Mellisa Claudhya itu. Tentu nama itu, tak asing di telinga dan bahkan dipikirannya. Perubahan muka Alberta dari merah padam menjadi demikian sendu, membuat banyak orang heran, tak terkecuali Hypatia dan Allent sendiri. Hypatia lalu bertanya, siapa itu Mellisa Claudhya, ko kayaknya papah mengenalnya.

Alberta segera berpaling dan mengatakan, bukan begitu. Itu yang meninggal pasti masih muda. Saya ko tiba-tiba merasa amat kasian. Sejenak suasana kembali hening. Alberta merasa tidak memiliki lagi hasyrat untuk melakukan lanjutan rapat pemegang saham. Ia membubarkan acara dengan alasan sudah terlalu lama menunggu Allent. Kita bertemu di minggu depan saja. Peserta rapat-pun bubar tanpa alasan lain.

Di Lift, Hypatia mengingatkan Alberta yang harus berangkat ke Amerika Latin. Kakak Allent yang sedang melakukan riset Teknology digital meminta untuk dikunjunginya. Ia kerepotan tinggal di Amerika Latin karena cucunya itu terlalu cengeng. Sementara itu, istrinya, kurang telaten dalam mengurusi anak yang mereka lahirkan. Kita sudah beli tiket pesawat lho pah dan tidak bisa ditunda.

Alberta mengatakan, kita sepakat minggu depan akan melakukan rapat ulang pemegang saham. Kalau aku ikut ke sana, kan tidak mungkin hanya seminggu. Aku tahu, kamu pasti berkunjung ke beberapa bagian di sana. Bagaimana kalau mamah saja yang berangkat ke sana. Alberta tetap datar agar tidak mencurigakan. Dengan mimik muka yang seperti berat meninggalkan Alberta, Hypatia, akhirnya memahami situasi yang dihadapi perusahaan saat ini. Kamu tinggal menitip pesan apa akan keberlangsungan rapat minggu depan.

Allent yang selalu kesepian

Oke lah kalau begitu. Pesawat Garuda Indonesia Airway, diperkirakan akan berangkat nanti malam pukul 10.30. Papah hati-hati ya tinggal di Indonesia. Tolong banyak dihibur tuch si Allent yang selalu kesepian. Aku pulang duluan karena mau prepare dulu kata Hypatia. Ya sudah, aku yang mengantar pulang kata Alberta penuh semangat.

Topi koboy dan setelan kantor yang masih menempel, membuat Alberta tetap gagah, meski usianya sudah menginjak 56 tahun. Rambutnya tetap hitam dan tidak menunjukkan unsur putih. Ia menampilkan diri sebagai sosok Kakek dengan 1 cucu yang masih kelihatan keren. Wajahnya yang tampak 20 tahun lebih muda itu, masih menyimpan segenap pesona kekinian yang terus ter up to date.

Jam 0.8.00 malam, Alberta ke luar rumah bersama supir dan tentu Hypatia. Ia didampingi seorang Baby sitter asal priangan yang akan diajaknya ke Amerika Latin. Ketika mereka baru duduk di jok tengah Lamborgini, Alberta mengingatkan Hypatia, barangkali obat jantung yang menjadi teman setianya selama 30 tahun, lupa tidak dibawa. Jangan khawatir pah … untuk yang satu itu, agak sulit kulupakan untuk tidak kubawa.

Lalu Alberta menelephon Altair (Sang Bintang) yang saat itu berada di Amerika Latin. Ia mengatakan: Hello boy … I’m not so set off there. Only your Mom and your babby sitter were there. Understandably shareholders’ meeting this afternoon was postponed. You Know, ordinary Allent make trouble. Present too late. Keep your mom there, oke … Ok Dad … said Altair. Keep your health and don’t sleep too late, oke … let ageless. Mom Let with me here. Desire please to live in Indonesia alone. Oke boy …Thank you

Sampailah di Bandara satu jam berikutnya. Ia masuk ke dalam ruang tunggu dan Alberta kembali pulang. Ia memegang HP, lalu, segera menelephon Santi. Hampir tiga kali dia memijit nomor tujuan, tetapi, sekaligus dimatikan. Dia takut, Santi dalam keadaan kacau dan berada dalam lingkungan yang sedikit crowded atau khawatir sedang mendampingi suaminya dalam mengurusi segala dinamika kematian.

Melisa

Alberta gelisah. Namun tiba-tiba telephonnya berdering. Nomor dan nama yang memanggilnya tidak asing. Ia kikuk mau kalimat apa yang pertama kali diluncurkan. Tetapi ketika ia mengangkat telephon itu, Santilah yang justru mengatakan: Hello sayang … apa kabar. Aduch bahagianya aku, kata Alberta. Aku tidak jadi menelephonmu karena takut situasi yang dihadapi situ lagi tidak mungkin untuk aku telephon.

Nggak apa-apa, tenang saja. Suamiku lagi mertuaku. Ada apa yang …. kenapa kelihatan begitu serius. Ya aku serius. Anakku, tadi pagi datang ke kantor sangat siang. Padahal, itulah moment penting bagi dirinya. Aku mau marah. Tetapi, ia menjelaskan kepadaku, bahwa ia habis mengantar seorang temannya langsung saat turun dari Bandara ke Bandung, karena suami dari temannya itu meninggal dunia. Lalu Hypatia bertanya, siapa nama perempuan itu. Ia mengatakan Mellisa Claudhya. Aku jadi tidak marah.

Jujur aku terperanjat. Bukankah itu nama anakmu dan berati suami yang mati itu adalah menantumu? Santi selalu lebih tenang dan mengatakan, ya … anakku baru menikah beberapa bulan yang lalu. Kini dia sudah menjadi janda, meski, aku tak yakin mereka sudah atau belum melakukan hubungan suami istri. Lho ko bisa kata Alberta. Iya, sebab perkawinannya dilakukan saat Mell belum berangkat ke Hongaria. Dua hari setelah menikah, undangan dari Hongaria yang dia tunggu cukup lama, datang dan ia harus segera berangkat ke sana pada saat itu juga. Kan ada dua malam bersama. mengapa kamu ragu. Ya tentu saja aku ragu, karena saat perkawinan berlangsung, Mell sedang mensturasi. Kan dilarang dalam agama.

Oooh begitu ya … bagaimana kalau Mell dan suaminya nekad, melakukan hubungan suami sitri saat mensturasi? Kayaknya nggak dech, kata Santi membalas. Anakku lebih Islami dibandingkan dengan aku sendiri. Kamu mengerti kan maksudku? Alberta tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Santi. Hanya mereka berdua yang tahu mengapa mereka tertawa terbahak-bahak dalam telephon itu.

Istri Allent Sakit Permanen

Santi, Allent juga aneh. Ia memiliki istri, tetapi bertemu dengan istrinyapun bisa dihitung dengan jari dalam dua tahun ini. Istrinya sering tinggal di Tiongkok karena kebetulan dia memiliki kangker ganas di rahiem. Dia berobat di sana. Makanya, sampai sekarang, jangankan memiliki anak, sempat mengandungpun, rupanya belum terjadi. Mengapa ia menikahi istrinya itupun, karena menurut Allent kasian, jika, perempuan itu ternyata memiliki penyakit yang mematikan.

Hanya sekali-kali Allent ke Tiongkok.  Saya sebenarnya ragu. Tetapi, kamu tahu watak Allent sejak kecil. Suka menyembunyikan beban hidupnya. Ia terlalu berani dan memiliki watak seperti aku. Kamu tahu watak aku? Iyalah jawabannya aku tahu, kamu Ksatria. Ya begitu juga dengan Allent. Beberapa kali istrinya menyarankan agar Allent menikah lagi. Besanku juga menyarankan demikian. Kasian sama Allent. Tetapi, dasar si Allent, kalau sudah memilihnya, ia tidak suka diganggu. Apapun resikonya.

Aduch kasian juga tuch si Allent kata Santi. Iya aku juga kasian. Tetapi apa daya. Terlebih saat ini, katanya, penyakitnya semakin memburuk dan berada pada studium 4. Secara medik agak sulit ditolong. Ya Allah ya Rabby, semoga ada jalan kebaikan ya … buat Allent dan istrinya. Ya semoga ada keajaiban yang membuat mereka pada akhirnya kembali sehat.

Santi, saya tidak tahu tepat atau tidak aku bicara, malam ini. Tetapi satu kalimat beberapa kata abadi, malam ini ingin aku sampaikan: I Love You Forever, Whatever, However and Whenever. Kau tidak usah menjawab ya …. aku tahu kau lagi Crowded. Dan aku sudah tahu jawabannya dalam siatuasi seperti itu, yakni Me Too. By. Charly Siera

Komentar
Memuat...