Inspirasi Tanpa Batas

Spektrum Prof. Cecep Sumarna tentang Investasi di CSI

0 59

CIREBON – Prof. Dr. H. Cecep Sumarna memberikan pernyataan terkait dengan pernyataan OJK tentang CSI dan dua lembaga lainnya, yang dinyatakan bahwa ketiga lembaga dimaksud melanggar UU. Baca (CSI Lakukan Kegiatan Investasi Melawan Hukum). “Secara institusional ke-Indonesiaan, lembaga ini (OJK) lebih memiliki otoritas untuk menentukan status lembaga keuangan dibandingkan “mohon maaf” dengan lembaga-lembaga lain”. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna. Cirebon, Selasa, (01/11/2016). Berikut petikan wawancara kami di rumahnya beberapa saat setelah beliau pulang dari kantor.

Apa Komentar anda tentang pernyataan OJK yang disampaikan Tongam Lumbang Tobing tentang CSI, PT Dream for Freedom dan UN Swissindo yang dinyatakan sebagai lembaga bodong?

Otoritas Jasa Keungan, lahir dan dibentuk atas Undang-undang (UU) RI Nomor 21 tahun 2011. Lembaga ini berfungsi menyelenggarakan Sistem Pengaturan dan Pengawasan yang terintegrasi dengan seluruh kegiatan usaha, khususnya di sector jasa keuangan. Karena itu, secara institusional ke-Indonesiaan, lembaga ini lebih memiliki otoritas untuk menentukan status lembaga keuangan dibandingkan mohon maaf dengan lembaga-lembaga lain. Karena itu, menurut saya, pernyataan Lumban yang mewakili putusan OJK terhadap status 3 lembaga keuangan yang menyatakan “bodong”, jauh lebih kredible. Soal status hokum, tentu itu nanti wilayahnya menjadi wilayah aparat penegak hukum.

Dalam rilis dimaksud, disebutkan bahwa CSI memberi imbal hasil minimal 5% dan Dream for Freedom memberi imbal hasil sebesar 1% selama 15 hari dan bonus aktif sebanyak 10% jika membawa nasabah. Menurut anda logis tidak keuntungan sebesar itu diberikan kepada para nasabah.?

Saya ini pelaku usaha. Kalau ditanyakan soal logis dan tidak logisnya membagi keuntungan sebesar itu, ya menurut saya logis. Hanya, saja mesti jelas dalam bidang apa sebuah lembaga itu berusaha. Itu saja persoalannya. Fakta, hampir tidak ada jenis usaha apapun, dalam sebuah perusahaan yang mengambil keuntungan lima persen ke bawah. Pasti di kisaran 5 persen ke atas. Tetapi, masalahnya, sekali lagi usahanya itu apa dan bergerak di bidang apa. Itu yang perlu diperjelas. Kalau sudah jelas mengapa tidak. Masalahnya, mungkin OJK belum menemukan titik jelasnya persoalan yang dihadapi atau dalam bidang apa mereka bergerak. Sehingga lembaga dimaksud, menyatakan ketiga perusahaan yang anda sebut tadi, sebagai perusahaan yang bodong.

Apa tidak cukup misalnya, Cakrabuana Sukses Indonesia (CSI) yang memiliki badan hukum sejak 2012 sebagai Koperasi Syari’ah dan Dream for Freedom sejak tahun 2012.?

Seperti dapat kita baca dan dengar dari berbagai pemberitaan, di situ disebutkan bahwa lembaga dimaksud menyelenggarakan  kegiatan investasi yang melawan hukum atau ilegal. Bahkan untuk kasus UN Swissindo dianggap sebagai kegiatan ilegal karena tidak berizin dari otoritas keuangan mana pun, sebagaimana dapat dilihat dari pernyataan Direktur Kebijakan dan Dukungan Penyidikan Tongam Lumban Tobing dalam jumpa pers di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta Pusat, Selasa (1/11/2016). Menurut OJK hal itu, mungkin dianggap belum cukup.

Besaran dana yang terkumpul dari masyarakat melalui ketiga lembaga keuangan dimaksud, disinyalir terhimpun sebesar 2 trilyun CSI, 3,5 trilyun Dream for Freedom dan Swissindo sebesar 300 juta. Ini potensi dana yang luar biasa. Menurut anda ini seperti apa.?

Ini yang luar biasa. Dan saya secara pribadi malah menjadi kagum, bagaimana mereka dapat meyakinkan nasabah. Ini yang mesti dipelajari. Sebab dana sebesar itu, pasti membutuhkan jumlah nasabah yang banyak. Saya yang bergerak dalam dunia usaha dalam waktu yang cukup lama dan panjang sekalipun, belum mampu menghimpun potensi dana sebesar 3 persen dari dana ketiga lembaga dimaksud.  Kita mesti berlelah-lelah dan menghabiskan hampir seluruh energi dan pikiran yang kami miliki. Dalam soal ini, sekali lagi kita mesti belajar. Namun demikian, dalam rumus bisnis itu, tidak ada sesuatu yang besar diperoleh dengan cara yang mudah. Psikologi bisnis semacam ini pula, yang jujur meragukan saya.

Ko Bahasanya meragukan Prof.? Apakah anda sempat ditawari berinvestasi di sana? Dan lembaga apa yang menawarinya.?

Ya meragukan saya. Saya dilatih suhu bisnis, yakni bapak saya almarhum, yang selalu mengatakan bahwa Islam anti dengan kebesaran diperoleh dengan cara kecil, dan kehebatan diperoleh dengan cara yang ringan. Bapak selalu bidang, kesuksesan itu akan sangat tergantung dengan tingkat kesulitan yang kita hadapi.

Soal apakah saya pernah ditawari, wah… itu sering. Karena saya dianggap memiliki potensi yang cukup untuk bergabung didalamnya.  Mereka bilang, investasilah di sini, paling tidak untuk mengatasi gajih karyawan dapat selesai di lembaga ini. Saya selalu mengatakan dengan halus, nanti dipelajari dulu. Itulah kalimat yang selalu saya sampaikan. Soal lembaga mana yang menawari saya, ya … itu rahasia.

Bagaimana sich cara menghitung rugi untung dalam menghimpun dana masyarakat ketika akan berusaha.?

Begini ya … kalau lembaga usaha yang kita kelola itu benar, funding resmi itu banyak, yakni Bank baik konvensional maupun syari’ah. Bunga nya juga rendah yakni 1 persen atau bahkan dibawahnya per bulan. Hanya memang dalam situasi tertentu, ada kondisi usaha yang butuh modal segar tanpa bantuan bank. Syaratnya kalau di perusahaan kami ada dua, yakni: Pertama, tidak boleh lebih 4 persen dari seluruh  asset perusahaan kami. Misalnya, ketika suatu usaha itu, membutuhkan modal sebesar 10 milyar, ya nggak apa-apa mengambil dana sebesar 400 juta dari pihak ketiga. Itupun untuk keperluan modal panas yang jarak kerjanya tidak lebih dari 4 bulan. Kedua, dana itu kami terima untuk keperluan bantuan pertemanan. Misalnya, Karena dia mau pensiun. Dia butuh modal hidup. Selain itu, seharusnya tidak perlu mengambil dana pihak ketiga Karena bebannya cukup berat.

 Apa Logika Bisnisnya Prof…?

Begini ya …. Bisnis itu, tidak pernah diukur dari kapasitas SDM, misalnya terdidik atau tidak terdidiknya pekerja, strategis dan tidak strategisnya tempat, bahkan besar kecilnya modal. Bisnis itu menghitung putaran yang dalam teori modern sering disebut dengan cashflow. Jadi umpama tadi butuh modal 10 milyard, seberapa banyak sich modal real yang dibutuhkan dalam kepentingan cashflow tadi. Jumlahnya pasti lebih sedikit dari 10 milyard tadi. Anggap saja memang butuh 10 milyard, tetapi, jika modal sudah terkumpul 10 milyard, mengapa terus-terusan mengumpulkan modal dibandingkan dengan melakukan ekspansi usahanya. Ini yang tidak logis mengapa saya misalnya tidak mau bergabung.

Saya umpamakan sederhananya begini. Kalau ada pertanyaan, berapa sich keuntungan jualan sorabi. Saya katakana, keuntungan pembuatan dan penjualan sorabi bisa mencapai 500 persen. Jadi jika ada seseorang yang berani memberi keuntungan 20 persen dari total modal serabi, logis tidak? Jawabannya pasti logis. Tetapi, jika pertanyaannya, logis tidak bisnis serabi itu diberi bantuan modal misalnya 100 juta dengan berbagi keuntungan sebesar 5 persen. Jawabannya tentu tidak logis. Yang tidak logis itu bukan lima persennya, tetapi, jumlah modal yang dibutuhkannya.

Inilah yang disebut dengan hubble modal. Akibatnya, keuntungan yang 500 persen dari produksi dan penjualan serabi itu, malah menjadi minus dengan hanya diambil 5 persen dari berbagi keuntungan usaha serabi gara-gara diberi modal sebesar 100 juta tadi. Ko bisa? Kenapa tidak ekspansi serabinya? Ya kita bisa mengukur berapa banyak sich suatu daerah membutuhkan serabi. Dengan modal sebanyak itu, itu berarti berlebihan. Mengapa, karena ia harus mengeluarkan uang sebesar 5 juta dari setiap penjualan yang dia lakukan. Jadi kalau untuk bisnis sorabi, dikasih modal 250 ribu saja sudah cukup. Nggak perlu besar-besar.

Nah berbagai investasi yang disebutkan tadi, menurut saya tidak logisnya dari sisi itu, ditambah ada ketidakjelasan dari usaha apa yang dilakukan dan betulkah usaha dimaksud, membutuhkan modal sebesar itu. Itu saja masalahnya

Mengapa masyarakat begitu gandrung mengikuti kegiatan investasi semacam ini?

Ya inilah masalah bangsa kita. Bangsa ini gampang terprovokasi oleh sesuatu yang sipatnya instan. Sejak kecil kortek otak bangsa Indonesia, selalu dilatih dalam wilayah abu-abu yang mengambil peran abu-abu juga. Kita belum mampu tampil secara benar sebagai bangsa dengan julukan pekerja keras dan jujur atas setiap dinamika yang ada. Mengapa demikian, tentu factor dan aktor yang mempengaruhinya cukup banyak.

Inilah petikan wawancara kami bersama Prof. Cecep Sumarna, di belakang rumahnya.  Beberapa hari ke depan, kami akan menayangkan wawancara kami bersamanya terkait dengan isu agama dalam pemilihan pemimpin. **(TLI)

 

Komentar
Memuat...