Spektrum Profesor Cecep Sumarna dalam Dunia Pendidikan

Profile Prof. Cecep Sumarna
0 157

Wartawan lyceum Indonesia, minggu, 5 Agustus 2016, mewawancarai Prof. Dr. H. Cecep Sumarna. Penggagas dan pendiri lyceum Indonesia. Di rumahnya, Jalan Pontianak Blok B1 Nomor 14 Kota Cirebon, kami cukup asyik membincangkan berbagai dinamika dunia pendidikan. Di Belakang rumahnya dengan paviliun khusus, beberapa catatan penting berhasil didapatkan melalui wartawan kami Acep M. Lutvi, Aly Alamsyah dan Kameramen Althendy Dirghan. Berikut petikan wawancara kami dengan pengusaha dan Profesor Filsafat Ilmu di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Beliau juga pegiat dunia pendidikan dari TK sampai Perguruan Tinggi.

Kapan dan Di mana Anda Dilahirkan dan Dibesarkan?

Saya lahir di Tasikmalaya, tepatnya di Kampung Cikuya, Desa Sindangasih, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. Lahir bertepatan dengan perayaan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1971. Ibu beranama Hj. Siti Mardiyah dan bapak bernama H. Muslim Suryana (alm). Dua sosok yang memiliki latar belakang berbeda. Bapak memiliki trah intelektual dan ibu memiliki trah pedagang. Kakek ibu adalah raja tanah yang hampir menguasai sebagian besar tanah milik di sebuah tempat yang hari ini telah menjadi tiga desa.

Dibesarkan dalam kultur keluarga yang juga berbeda. Bapak kerjaannya selain mengajar di sekolah, ya membaca dan membaca. Tahun 1970-an, bisa anda bayangkan kalua bapak saya itu sudah menjadi pelanggan Jurnal Panji Masyarakat. Sebuah Jurnal yang banyak mengulas pemikiran M. Natsir, Muhammad Room, Nurcholish Madjid, Amien Rais, Buya Syafi’i Ma’arif dan Abdurachman Wachid. Tentu selain Hamka dan belakangan beberapa tulisan Azyumardi Azra dan Qomarudin Hidayat.

Sepulang mengajar, di balai rumah kami, bapak kadang membaca dengan keras di kursinya. Sambil merokok Gudang Garam Merah, seruputan kopi pahit. Setelah lelah, lalu dia ketiduran di atas kursinya dan terbangunkan saat ibu pulang dari melihat kebun atau sawah. Biasanya di situ, suka ada sedikit perdebatan antara keduanya. Menurut Ibu bapak dianggap lebih mementingkan membaca dibandingkan dengan melihat sawah atau kebunnya. Atau bahkan hanya sekedar ngasih makan ikan dan ayam di kolam atau di kandang ayam kampung.

Di Kampung itu, Orang Tua Anda Langganan Panji Masyarakat?

Ya … dan itu yang mengherankan banyak pihak. Bapak yang hanya menjadi PNS di kampung pedalaman seperti itu, langganannya Panji Masyarakat. Saya berharap Jurnal itu sampai sekarang semoga masih ada. Beberapa tahun yang lalu, bendelan masih ada di rumah. Entah sekarang ini ada atau tidak. Itulah jurnal yang membuat bapak dan ibu menangis saat mengetahui Prof. Buya Hamka meninggal dunia.

Saat itu, saya juga ditanya, kamu kalua sudah besar mau jadi apa? Ya mau menjadi Profesor, supaya kalau mati ditangisi banyak orang. Termasuk ditangisi oleh orang yang tidak mengetahui kita. Alasan apa yang menyebabkan dia harus manangis atas kematiannya, seperti bapak ibu ini. Menangisi sosok yang dia tidak tahu siapa ibu dan bapak ini. Saya ingat bapak dan ibu tersenyum kaget. Karena waktu itu saya masih kelas IV SD

Apa ada pengaruh budaya baca orang tua terhadap anda?

Tentu saja pengaruhnya besar. Kami menjadi terbiasa memiliki kultur baca. Sebab selain pelanggan Jurnal tadi, bapak juga suka langganan Koran, yakni Koran Pikiran Rakyat Bandung. Sekali-kali juga suka membaca Djiwangkara. Jadi membaca itu, sudah menjadi tabiat. Menjadi watak yang sulit ditinggalkan. Sampai sekarang saya tidak bisa tidur kalau belum membaca. Jadi kaya semacam kewajiban dan merasa berdosa kalau tidak membaca.

Makanya kumpulan buku kami hari ini, selain tersimpan di Perpustakaan, juga terletak di setiap tempat di mana saya sering istirahat. Misalnya di kamar tidur atau di tempat di mana saya biasa nonton televisi. Pasti di meja-meja itu tersedia buku.

Apa pengaruh khusus terhadap budaya baca orang tua tadi terhadap pikirannya?

Nah soal ini yang runyam sekaligus menyulitkan keluarga kami di masa lalu. Kerunyaman dan kerumitan itu, tentu bukan lantaran uang gajih bapak terpotong untuk jurnal, tetapi, pikiran yang kadang imaginer dan jauh melampui batas manusia biasa di zaman dan dikampungnya.

Bayangkan saja, tokoh-tokoh tadi. Khususnya untuk Nurcholish Madjid dan segenerasinya yang belajar di Barat, di tingkat nasional pun sering dianggap sebagai agen Yahudi dan Nasrani di Indonesia. Apalagi pada tingkat kampung pedalaman tempat di mana bapak kami tinggal. Akibatnya apa? Kegiatan pengajian mingguan dan bulanan di Masjid yang diwarisi nenek kami juga akhirnya, sedikit banyak mengalami pergeseran. Di situlah resonansi (benturan) terjadi.

Agak lucu, di kampung di mana bapaknya mengajarkan Kitab safinah, di waktu yang sama, anaknya yakni bapak kami mengatakan bahwa kitab-kitab dimaksud, khususnya yang berkaitan dengan fiqih Islam, tidak lagi cocok untuk ditransformasikan. Menurut bapak, banyak objek fiqih yang telah berubah dan bergeser. Inilah yang menyulitkan. Bapak dan ibu serta keluarga kami akhirnya sedikit terisolasi dan terganggu hubungan kekerabatan. Padahal bapak sendiri sebenarnya bukan hanya sekedar keturunan kyai, tetapi, bahkan lama mondok di Pesantren Bahrul Ulum Tasikmalaya dalam waktu yang cukup lama.

Dampak lainnya adalah, keluarga bapak dan ibu, umumnya mereka mendidik anak-anaknya di pesantren salaf. Bapak memilih tidak. Mengapa? Karena kata bapak, kalau ingin memperoleh ilmu agama harus diajar agama di tempat yang terbarukan. Islam sendiri datang  bersama Nabi Muhammad sebagai ajaran yang terbarukan baik dari sisi isi, model maupun meode pembelajaran. Akibatnya, anak-anaknya semua sekolah –kecuali satu–. Meski dalam pelaksanannya, anak-anaknya itu tetap sambal ngaji juga di pondok. Mungkin khawatir jika anak-anaknya tidak bisa menguasai ilmu agama.

Berapa lama anda tinggal di rumah bersama Bapak dan Ibu secara Intens?

Sampai saya memasuki usia SLTA. Bapak dan ibu menyekolahkan saya di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Ciamis, bukan di PGAN Tasikmalaya. Mengapa? Menurut bapak, di Ciamis lebih moderat dibandingkan dengan di Tasikmalaya. Semasa di PGAN Ciamis juga sama. Saya mondok di Pesantren al Hasan, pesantren dari trah Manonjaya, KH. Khoer Affandi yang tidak memiliki pertalian dengan orsospol dan bahkan dengan organisasi keagamaan termasuk dengan NU. Sangat kontras dengan pesantren Cijantung di Ciamis atau Pesantren Cipasung di Tasikmalaya.

Jadi saya tinggal bersama keluarga, ya kurang lebih 15 tahun. Setelah itu, kami jarang bersama kecuali libur panjang atau ada moment lain yang mengharuskan kami berkumpul.

Apa yang anda Baca waktu di PGAN Ciamis?

Saya paling senang membaca Novel-novel cinta. Banyak uang yang saya habiskan sewaktu di Al Hassan itu, justru menyewa Novel. Kebetulan di depan Pondok itu, ada tempat penyewaan buku-buku Novel milik orang Cina. Saya bersama Nurjamil kawan sesame pondok, banyak nyewa buku di situ. Bedanya kalau kawan saya banyak nyewa Novel Wirosableng 212, sementara saya Novel-Novel Cinta seperti karya Fredy dan lain-lain.

Terhadap pelajaran Pesantren tidak begitu intens. Mengapa? Sebab apa yang dikaji dipesantren itu, sama saja dengan apa yang diajarkan di pesantren keluarga kami, yakni di Miftahul Jannah. Sejak kelas IV SD sampai kelas 3 SLTA saya mesantren. Dan ketika SLTA kitab yang dibaca sama saja. Jadi saya lebih banyak membaca Novel. Buku serius yang sering saya baca, paling perbandingan agama karena ada pelajarannya di PGAN.

Apa ada Pengaruhnya Bacaan-bacaan tadi terhadap Sikap Anda?

Ya tentu banyak. Misalnya, dalam soal Novel, saya menjadi sangat puitis dan mampu mengimaginasi sesuatu secara sensual kadang-kadang melankolis. Memiliki imaginasi kreatif akan karya seni dan sastra pada umumnya. Sedangkan bacaan yang focus pada perbandingan agama, membuat saya, sejak dulu menganggap bahwa setiap agama yang dilahirkan Tuhan ke muka bumi, selalu memiliki nilai universalnya yang relative mirip sama. Hanya dalam soal-soal perpektif ketuhananlah yang berbeda.

Jadi meskipun saya tidak bercita-cita untuk pindah agama, atau meyakini kebenaran agama lain selain Islam, tetapi saya mafhum mengapa pengikut agama [lain], juga tetap kokoh mempertahankan agamanya. Saya kira, selalu terdapat nilai-nilai atau kebenaran universal yang plus minus sama. Tentu selain soal perspektif ketuhanan.

Bacaan ini pula yang menyebabkan saya tidak percaya pada shirat al mustaqiem di akhirat. Mengapa? Karena saya memperoleh keterangan yang original akan shirat al mustaqiem di akhirat itu, justru terdapat dalam ajaran agama zaratusta. Karena itu, ketika ustadz-ustadz mengajarkan sulam mutawfiq dan sulam munajat, saya, banyak protes. Perdebatan ini terus berjalan sampai kurang lebih tiga tahun. Saya lebih mengimani bahwa shirat al mustaqiem itu ya di dunia. Kita hidup di dunia ini harus benar-benar seimbang. Untuk apa? Agar kita dapat masuk ke dalam Syurga Tuhan.

Mengapa anda kuliah di IAIN Cirebon?

Inilah sejarah unik. Secara historis,  keluarga kami itu saya memiliki semacam guru di kampung yang umurnya tidak kurang dari 200 tahun. Ia meminta saya, kalau kuliah harus di Cirebon dengan dua pertimbangan. Pertama,  secara historis keluarga kamu memiliki ikatan primordial, meskipun sudah sangat jauh dilihat dari sisi silsilah. Saya sendiri disuruh datang ke sebuah tempat di sini, yang sampai saat ini, belum saya kunjungi. Kedua, Cirebon dalam analisa dia, akan menjadi Kota Ajaib sekaligus Kota Masa depan. Jadi pilihlah Cirebon kata dia. Jangan ke Bandung, Jakarta atau Jogjakarta

Tetapi selain itu, ada faktor lain. Kebetulan kami memiliki group sewaktu di SLTA itu, group bayang-bayang yang memiliki otak encer tetapi pergaulan agak sedikit unik. Mereka umumnya memilih Jakarta, Jogjakarta dan Bandung. Saya berpikir, jika saya berada di tempat yang sama seperti kawan-kawan tadi, kayaknya agak sulit berubah. Karena itu, ketika saya daftar untuk ujian di Cirebon, saya, diantar banyak kawan.

Sesampainya di Kampus Cirebon, saya dirayu lagi agar jangan mau di Cirebon. Soalnya kampung banget waktu itu. Tidak indah dan kurang nyaman dari sisi udara. Tetapi, saya menolak dengan tegas. Kakak saya yang waktu itu kuliah di Fakultas Ekonomi Unsil, malah sampai nggak mau nengok dan ngantarkan saya. Karena, dalam pandangan masyarakat waktu itu, dengan Tasikmalaya saja, Cirebon masih jauh lebih kampung. Hanya sekali kakak saya nengok. Itupun perjalanan kuliah saya sudah hampir selesai.

Aktivitas Apa Yang anda Lakukan saat Di Cirebon?

Kondisi ekonomi keluarga kami runtuh saat kami mulai kuliah. Pabrik Tapioka bapak berantakan dan kami jatuh miskin. Keluarga kami hanya mengandalkan dari sisa gajih bapak kami sebagai PNS dengan golongan gajih IV-b. Bapak tidak tidak naik pangkat lagi sampai pensiun. Sementara anak-anaknya mulai banyak membutuhkan biaya dan belum ada yang tuntas. Karena itu, saya, mengikuti berbagai event kajian agar mampu menghibur diri di tengah segenap kondisi yang melepuh.

Saya aktif di Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Cirebon dan sempat tidur di sekretariat HMI tidak kurang dari tiga tahun. Aktif di Koperasi Mahasiswa dan Senat Mahasiswa. Selain itu, saya mengikuti pendidikan Jurnalistik di LPBKI dan Akting Film di kampus yang sama. Berbekal mengikuti pendidikan Jurnalistik itulah, saya, kemudian menjadi penulis lepas di PR. Kegiatan itu, sudah saya lakukan sejak semester III. Jadi lumayan membantu kehidupan saya sewaktu kuliah. Ngajar agama di beberapa rumah dan kadang melakukan pelajaran tambahan mata pelajaran umum di rumah-rumah orang.

Apa yang anda Pikirkan sewaktu Kuliah?

Sejujurnya, saya tidak pernah berpikir menjadi PNS. Saya kuliah hanya ingin menguasai Bahasa Arab, agar kelak dapat menjadi TKI professional di Timur Tengah. Dan itu hampir kesampaian.  Kalau boleh dibilang saya memiliki angan-angan, adalah menjadi Bintang Film. Makanya saya kuliah di Akting Film juga meski sebentar. Lalu di tengah segenap kegalauan, saya belajar Jurnalistik. Guru Utamanya Nurdin M. Noor. Dia orang hebat yang dalam banyak kasus banyak membimbing saya menulis ketika untuk pertama kali menjadi penulis lepas.

Hanya saja, takdir berkata lain. Beberapa hari setelah saya siding akhir, dosen senior saya, namanya Dr. Yusuf Saefullah M., malah meminta saya menjadi asistensinya. Jadi saya ngajar di alamamter IAIN. Padahal, Paspor dan visa menjadi TKI sudah saya dapatkan untuk ditempatkan kalau tidak salah di food Market of King Abdul Aziz, Jeddah. Menurut PJTKI yang membantu saya, katanya saya dipromosikan menjadi calon kasier. Itu gagal saya lakoni.

Beberapa bulan kemudian, saya mengikuti pembibitan Calon Dosen melalui program S2. Lulus dan ditempatkan di Banda Aceh atas bantuan Dinbinperta Islam. Setahun kemudian, saya menerima SK sebagai PNS-dosen dengan ditempatkan di IAIN Cirebon

Apa yang Menarik Saat Menerima SK PNS-Dosen?

Lama sekali secarik kertas itu saya baca. Saya nggak percaya ko saya menjadi PNS. Cita-citanya apa, lalu ternyata menjadi apa. Tentu saja bangga meski dengan gajih yang hanya 10 persen dari gajih yang ditawarkan PJTKI kepada saya waktu itu. Lalu setahun berikutnya lagi saya pulang dan mengabdi di kampus ini kurang lebih 6 tahun. Setelah itu mengikuti S3 di UIN Bandung, dan lulus dengan predikan summa cumlaude. Satu tahun kemudian, saya ditetapkan sebagai Guru Besar dalam bidang Filsafat Ilmu di IAIN Cirebon.

Ketika saya melakukan promosi menjadi Guru Besar, saya menangis. Mengapa? Sebab dua minggu sebelumnya bapak saya meninggal. Sebelum meninggal ia selalu bilang sudah turun SK Guru Besar belum? Hanya ibu yang masih menyaksikan saya dipromosikan menjadi guru besar. Lalu kami tertawa kecil dengan ibu dengan mengatakan: Inilah jawaban sewaktu saya ditanya ibu dan bapak saya ketika HAMKA meninggal. Di usia yang sangat kecil, bahwa saya akan menjadi Profesor.

Dari situ saya juga menyimpulkan bahwa, cita-cita itu akan tersimpan di kortek otak kita. Selama ia berada di kortek itu, maka, ia akan selalu mengawal tujuan itu melalui langkah-langkah kita.

Siapa yang Mempengaruhi Pikiran Anda Sewaktu di IAIN?

Yang mempengaruhi tentu banyak. Semua dosen mempengaruhi. Tetapi, jika ditanyakan siapa yang paling berpengaruh, setidaknya ada enam tokoh. 1. Prof. Dr. H. Imron Abdullah; 2). Prof. H. Maksum, MA; 3). Prof. H. Adang Djumhur; 4). Prof. Dr. Muhaimin, MA; 5). Dr. Yusuf Saefullah dan; 6). Drs. H. Maman Supriatman, M.Pd. Mereka adalah sosok yang baik dan masing-masing unik.

Sebagiannya, tokoh-tokoh itu telah meninggal dunia. Tentu masih ada 4 orang yang masih hidup. Melalui mereka sebenarnya saya belajar hidup dan dinamikanya masing-masing yang cukup kompleks.

Lembaga Pendidikan Apa yang Terbaik Menurut Anda?

Lembaga pendidikan yang mampu merangsang peserta didik untuk mau belajar. Dan tempat terbaik bagi pelaksanaan pendidikan, bukan di mana-mana. tetapi yang pertama dan utama itu adalah di rumah. Jadi jika di rumah kita tercipta suatu iklim akademik, maka, dia telah menjadi institusi pendidikan terbaik. Jika di rumahnya, jauh dari nilai-nilai edukasi tadi, maka, sebenarnya agak sulit mengharapkan keberhasilan dalam dunia pendidikan.

Semua lembaga pendidikan dari jenjang TK sampai perguruan tinggi, itu hanya merupakan tempat penitipan anak. Yang jauh lebih strategis yang di rumah. Karena itu, jadikanlah rumah sebagai kampus bagi kehidupan.

Inilah petikan wawancara wartawan lyceum.id dengan Prof. Dr. H. Cecep Sumarna, Masih ada satu edisi lain dari hasil wawancara kami yang belum dipublikasikan dengan dirinya. Wawancara edisi kedua, menyangkut sepak terjang Prof. Dr. H. Cecep Sumarna dalam dunia pendidikan dan dunia usaha. Beberapa hari ke depan edisi perannya akan kami tampilkan juga. ** Team Lyceum Indonesia

Komentar
Memuat...