Stop Bertanya Kapan Nikah? Ini Dampaknya

0 111

Kapan nikah? Sebuah pertanyaan yang tidak asing di dengar bagi mereka jomblowan dan jomblowati dikala hari raya tiba. Sensitive memang, namun pertanyaan ini sepertinya masih menjdi ternd, bahkan hampir setiap tahun, meme tentang jodoh dan hari raya berseliweran di media social.

Memang ini seperti sudah membudaya, dan orang tidak segan menayakan hal itu pada mereka yang cukup umur namun belum memiliki pasangan hidup, sudah mapan namun sendiri, atau mereka yang masih terobsesi dengan kesendiriannya.

Ada salah menyakan kalimat “Kapan Nikah” pada mereka? Hmm tentu perlu kita gali lebih dalam lagi. Dampaknya seperti apa pada mereka yang mendapat pertanyaan tersebut. Berikut ini hal-hal yang perlu kamu ketahui tentang pertanya Kapan Nikah? dampak dan pengaruhnya :

1. Menyakiti Jika Niatnya Menyindir

Jika pertanyaan itu terlontar pada mereka kaum hawa yang notabene sangat sensitive, tanpa disadari ini akan meyakiti. Apalagi jika pertanyaan itu dibumbubui dengan unsur menyindir karena kesanya akan seperti membuli.

2. Kapan nikah? bisa dianggap wajar jika

Pertanyaan ini bisa dianggap wajar, tentu karena pertimbangan bahwa “dipahami sebagai bagian dari kultur masyarakat Indonesia yang kolektif” (psikolog Roslina Verauli)

“Jadi jangan buru-buru ditanggapi bahwa itu adalah tekanan,” tambahnya. “Kalau kita memahami budaya kita, kita tidak akan tersinggung sebetulnya.”

3. Kapan nikah dan dmpaknya

Secara sikologis pertanyaan ‘kapan nikah’ tidak bisa dianggap wajar karena sebagian orang menganggap itu adalah isu sensitif yang mungkin tidak menyenangkan untuk dibahas, apalagi jika terlontar saat berkumpul.

4. Jangan sampai niat bercanda namun meyakiti

perlu dipahami juga bahwasanya ketika kumpul keluarga, kerabat, teman, atau sahabat sesungguhnya setiap orang butuh untuk merasa dekat. Artinya untuk mencapai kedekatan itu harus ada hal-hal personal. Jangan sampai niat bercanda namun menyakiti.

Sebaiknya, jika kita ingin tahu alasan teman yang masih menjomblo, sebaikya sebaiknya menggunakan pertanyaan lain yang lebih membangkitkan semangat. Dan untuk membuka kekakuan bisa dengan bahsan lain dan menyasar kesana dengan klise, atau juga bisa membahas tentang pendidikan, jurusan kuliah, dan pertanyaan-pertanyaan netral lainnya. [Ali Alamsyah]

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.