Take a fresh look at your lifestyle.

Marah – Strategi Semu Menutupi Kekurangan Diri

0 117

Marah – Strategi Semu Menutupi Kekurangan Diri – Bagi seorang pemimpin didunia perusahaan maupun lembaga pendidikan, memimpin harus ditafsirkan sebagai sebuah seni. Seni yang dimaksud adalah seni peran yang selalu dinanti oleh pemirsa dalam setiap episodenya. Sesi-sesi memimpin harus menjadi satu adegan menarik dan mengajak publik agar merasakan dan mengikuti pada alur cerita yang dibawakan. Dalam setiap adegan akan menjadi tontonan yang excited jika disajikan dalam bentuk komunikasi dan performa aktor/ aktris yang variatif. Gaya variatif ini akan dapat membawa para penonton untuk hanyut dalam cerita yang dibawakan oleh sang sutradara, meski penonton di awal sadar bahwa apa yang ia tonton adalah fiktif belaka. Namun pada kenyataannya, mereka pun terbawa emosi sejadi-jadinya; marah, kesal, menangis dan luapan-luapan emosi lainnya sebagai akibat dari penampilan para aktor.

Memimpin sebuah perusahaan atau lembaga adalah masalah performa. Performa yang dipahami sebagai seperangkat penampilan yang memadukan antara gaya komunikasi, berpenampilan dan  mimik. Performa ini akan memberikan satu citra bahwa seorang pemimpin yang memiliki cita rasa tinggi dalam seni akan memimpin dengan cara-cara yang menarik dan menyenangkan bagi bawahannya. Memperlakukan orang lain, memengaruhi orang lain, mengarahkan orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai instruksi pemimpin merupakan realitas dalam proses kepemimpinan. Secara teoritis, semua proses itu memiliki kesamaan pada setiap pemimpin. Akan tetapi, kesalahan dalam menggunakan pendekatan yang memanusiakan manusia (humanize), maka proses kepemimpinan akan gagal total bahkan berbalik arah menjadi sebuah serangan dahsyat dari bawahan kepada seorang pemimpin.

Gaya Komunikasi

Kembali dalam bahasan utama yaitu berkaitan dengan gaya komunikasi. Komunikasi memiliki makna luas dan aplikasi varian. Setiap orang dapat pula tidak melakukan pembicaraan vulgar dan verbal sekalipun namun bisa disebut berkomunikasi. Semua penampilan nyata yang ditunjukkan oleh seorang pemimpin di depan publik dapat menjadi sarana komunikasi. Pakaian yang ia pakai, kendaraan yang ia gunakan, rumah yang ia miliki, terlebih gaya bicara yang ia lakukan akan memberikan persepsi komunikasi di depan bawahannya. Istilah marah bagi seorang pemimpin adalah lumrah. Sebagai manusia biasa, seorang pemimpin-dengan banyak agenda di otaknya dan kesibukan dalam kesehariannya-sangat wajar mendapatkan kondisi dirinya dalam kepenatan dan ketidakstabilan emosi ketika berhadapan pada momentum tertentu. Maka kondisi marah atau emosional adalah sebuah kewajaran sebagai sifat dasariah manusia yang fluktuatif dan tentatif.

Namun dibalik semua itu, ada satu kajian mendasar bahwa seorang pemimpin diciptakan sebagai seseorang yang harus penuh polesan. Polesan ini dipahami bahwa seorang pemimpin harus memiliki kecukupan pengalaman, kemapanan ilmu dalam konteks kepemimpinannya, dan memiliki kepiawaian dalam membangun komunikasi masa. Dari ketiga kriteria tersebut, seorang pemimpin harus memilki kelebihan pengetahuan dari yang lain dan kestabilan emosi jauh lebih baik dari bawahannya. Hal inilah sebagai penciri atau pembeda seseorang sebagai pemimpin atau bawahan.

Bila seorang pemimpin memiliki gaya yang sama dengan bawahannya, berarti ia telah gagal membangun citra diri sebagai pemimpin anak buahnya. Salah satu kriteria sederhana yang harus dihindari oleh seorang pemimpin adalah marah. Marah merupakan satu sikap dimana seseorang mengalami ketidakstabilan emosi yang diekpresikan ke dalam bentuk peninggian intonasi dalam berbicara, pilihan kata yang menukik dan penekanan-penekanan pada ungkapan tertentu dalam komunikasi. Dalam kondisi individu lain, marah juga dapat diekspesikan dalam bentuk perubahan kebijakan dan pemutusan komunikasi.

Memimpin; Bermain Seni Peran

Menurut dari tulisan di atas bahwa memimpin sama halnya dengan seni peran. Jika dalam penampilan seni peran ini seorang pemimpin selalu menyajikan satu penampilan dengan gaya sama maka akan monoton. Yang lebih parah lagi adalah bila seorang pemimpin menyimpulkan jika kebijakan dan instruksinya akan jalan apabila dia marah. Maka marah dipahami sebagai sebuah strategi jitu untuk menegakkan aturan, dalam versinya. Semakin sering marah terhadap bawahannya, seorang pemimpin akan hilang kewibawaannya. Bawahan akan menganggap biasa lagi jika kena marah atasannya. Bawahan akan memahami bahwa ternyata marah hanya sebatas sifat atau watak saja yang harus ditanggapi biasa-biasa saja. Ia tidak harus ditanggapi serius.

Fenomena bawahan mengabaikan instruksi pimpinannya karena kekeliruan strategi komunikasi sang pemimpin yang menempatkan marah sebagai strategi jitunya akan berakibat fatal dalam konteks perusahaan dan lembaga. Tidak ada satu teoripun yang menyatakan pembenarannya bahwa dengan marah-marah kondisi akan membaik. Justru sebaliknya, kondisi perusahaan atau lembaga akan semakin memburuk jika seorang pemimpin terus marah-marah.

Dalam proses kepemimpinan, reward and punishment yang dinyatakan dalam regulasi yuridis formal kelembagaan harus menjadi tonggak hukum bagi semua individu yang ada di dalam perusahaan atau lembaga tersebut. Strategi komunikasi yang tepat adalah cara untuk menyampaikan kebijakan-kebijakan itu.  Marah hanya salah satu strategi saja untuk memecahkan masalah yang memerlukan pendekatan marah. Sehingga, marah dapat memberikan efek takut bagi bawahan jika itu dilakukan atasan. Namun tidak dimaknai bahwa pemimpin pemarah akan disegani, karena marah hanya berakibat takut tapi tidak untuk disegani.

 By. Nanan Abdul Manan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar