Inspirasi Tanpa Batas

Suami Pintar Memahami Karakter dan Menghargai Tugas Istri

0 49

Konten Sponsor

Semakin Mengenal Istri: Istri adalah komandan rumah tangga. Komandan yang dimaksud adalah seseorang yang paham tentang seluk beluk keseharian di rumah dan pengendalian kegiatan teknis di dalamnya. Seorang istri juga dapat dikatakan sebagai seseorang yang luar biasa tanggung. Terkesan ia hanya berada di rumah dan mengerjakan pekerjaan di situ-situ saja, namun tanpa kita tahu dan tanpa kita sadari bahwa frekuensi aktivitas di dalam rumah tidak bisa dianggap sepele oleh mereka yang beraktivitas di luar rumah.

Aktivitas yang ia lakukan berbeda dengan kegiatan orang lain yang bekerja di kantor atau tempat kerja di luar rumah. Pekerjaan rumah itu meliputi semua hal dan semua ruang yang harus dilalui. Mulai depan rumah, ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, WC, dapur, halaman dan tempat lain yang berada di rumah. Lebih hebatnya lagi, seorang ibu rumah tangga dalam melakukan pekerjaannya tidak selesai satu kali urusan untuk melalui satu tempat di salah satu ruangan yang ada di rumah.

Dapat kita bayangkan berapa kali seorang ibu rumah tangga mengelilingi rumah. Keliahatannya mereka hanya berkutat di wilayah rumah saja, namun putaran dan pijakan kaki untuk menyelesaikan berbagai urusan di masing-masing tempat yang ada di rumah mampu melebihi jarak yang ditempuh oleh orang yang bekerja di kantoran atau di tempat kerja lainnya. Sungguh tangguh dan perkasa sang Ibu Rumah Tangga-Istri setia menunggu suami dan anak yang tidak kenal lelah.

Rumah adalah Kantornya

Rumah adalah Kantornya

Suami yang memahami kegiatan istri di rumah tentu adalah mereka yang sangat memahami betapa beratnya pekerjaan rumah. Suami demikian biasanya mampu memberikan apresiasi dalam bentuk bahasa santun, apresiasi materi maupun saling memahami untuk bisa membantu pekerjaan istri sesuai daya jangkau suami. Namun, tidak sedikit pula para suami yang puas dan merasa berjasa ketika pulang dari kantor atau pulang dari tempat pekerjaan, mereka dengan mudah menyalahkan sang istri ketika sedikit saja kurang memberikan pelayanan sesuai yang diinginkan suami.

Suami seperti ini cenderung beranggapan bahwa pekerjaan dirinya jauh lebih rumit dan lebih melelahkan dibandingkan dengan pekerjaan istrinya. Padahal, persepsi demikian justru memberikan dampak yang kurang baik dalam pola hubungan suami istri dalam rumah tangga yang semestinya saling memahami tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Pekerjaan yang dilakukan suami sebagai pemenuhan kebutuhan rumah tangga atau nafkah seakan selesai dengan pola kerja suami di kantor. Suami egois kebanyakan lepas tanggung jawab atas segala urusan yang terjadi di rumah. Suami model ini biasanya tinggal datang istirahat, makan, dan tidur. Ia tidak mau diganggu dengan urusan-urusan rumah yang dianggap akan menambah beban pikirannya. Terlebih ketika dalam rumah tangga itu sudah dikaruniai momongan.

Tugas Istri dalam Rumah Tangga

Sang istri harus lebih ekstra lagi untuk memanaje pekerjaan rumah, mengurus suami dan mengurus anak pula. Karena tidak semuanya pasangan suami istri yang sudah menikah dan punya anak dapat mempekerjaan pembantu rumah tangga. Dalam kasus keluarga yang kurang mampu untuk membayar pembantu rumah tangga, hal ini akan menjadi satu pekerjaan luar biasa bagi sang istri sekaligus ibu dalam pekerjaan rumah.

Selelah apapun suami ketika sudah bekerja dari kantor maupun dari tempat pekerjaan, suami tidak sepatutnya melepas tanggungjawab begitu saja untuk urusan rumah. Suami yang bekerja di kantor pasti akan berhadapan dengan pekerjaan kantoran, begitu juga ketika suami yang berwirausaha sendiri akan melakukan pekerjaan sesuai dengan pekerjaan dirinya. Dalam kegiatan suami di tempat pekerjaan itu pasti ada waktu jeda yang bisa diatur sesuai dengan keinginannya. Tapi bagaimana dengan istri yang bekerja di rumah dan sudah memiliki anak.

Baca Juga: Kesabaran Istri, Menahan Suami Untuk Tidak Berbuat Tercela

Sungguh berat pekerjaan sang istri; mengurus rumah, mengurus suami dan sekaligus mengurus anak pula. Pekerjaan yang tiada henti ketika dimulai dengan pekerjaan rumah sembari menidurkan sang buah hati yang masih kecil, ketika pekerjaan rumah belum juga selesai disambung dengan tangisan sang buah hati yang bangun dan harus diurus, ditemani dan dilayani.

Sesegera kemudian waktupun tidak terasa beranjak siang dan sore saatnya suami pulang. Maka pekerjaan berikutnya adalah menyediakan makanan dan segala hal yang berkaitan dengan penyambutan kepada suami. Sebuah rangkaian pekerjaan yang tidak mudah untuk disederhanakan dengan kata-kata dan analogi.

Suami Harus Menghormati Tugas Istri

Suami Harus Menghormati Tugas Istri

Oleh karena itu, seorang suami tidaklah mudah mengatakan sederhana dan menyederhanakan pekerjaan istri sebagai ibu rumah tangga. Kesalahan dan kekurangan dalam pelayanan di rumah tentunya harus menjadi permakluman oleh sang suami. Suami bijak senantiasa belajar memahami tugas secara detail istri di rumah agar mampu menyeimbangkan satu persepsi negatif dengan realitas yang sungguh di luar pemahaman suami.

Pemenuhan kebutuhan rumah tangga tidaklah sesederhana sekedar memberikan uang untuk dibelanjakan. Lebih dari itu, sang istri harus mampu mengelola, membelanjakkan, mengolahnya ke dalam beberapa hal; ada yang dibelikan makanan untuk dimasak dan adapula diberikan barang-barang untuk keperluan tertentu. Semua itu terbukti jelas bahwa istrilah yang mampu mengelolanya.

Seorang suami harus terus belajar dan saling memahami tugas masing-masing. Berikanlah penghargaan kepada istri yang mampu memelihara rumah, menjaga anak, dan melayaninya dengan baik. Kekurangan dan kesalahan dalam pelayanan terhadap suami tidak serta merta karena keteledorannya yang dibuat-buat.

Bisa jadi bahwa keterbatasan kemampuannyalah yang menjadikan ketidakpuasan suami. Namun, ketidakpuasan suami tidaklah harus diperbesar dan dijadikan alasan untuk memojokkan istri. Justru menelusuri masalah tersebut dan dengan mudah memaklumi merupakan karakter suami sejati. Suami sejati senantiasa belajar memahami karakter dan tindakan istri.

Tidak mudah menjustifikasi sederhana terhadap kegiatan istri karena apa yang dilakukan oleh sang istri jauh lebih melelahkan dengan harga sebuah cemoohan dan mempersalahkan untuk satu atau dua hal saja.  Suami sejati adalah ia yang mampu memahami keberadaan istri dan suami ksatria adalah ia yang mampu menghargai jerih payah istri yang selalu berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik bagi suaminya. (*)


Penulis : Nanan Abdul Manan
Editor  : Acep M Lutvi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar