Inspirasi Tanpa Batas

SUAMI TAKUT ISTRI: Sebuah Persepsi Publik yang Ambigu

0 10

Konten Sponsor

SUAMI TAKUT ISTRI – Terminologi booming ini selalu menjadi trending topic dalam berbagai situasi. Suami yang disimbolkan dan dipersepsikan sebagai pribadi kuat dan tegas, piawai dan berkharisma, berani dan penuh perhitungan. Suami tercipta sebagai pribadi yang harus mampu menaungi sang istri. Dalam konteks religi juga disebutkan bahwa perbedaan suami dan istri adalah ada pada tanggungjawabnya. Suami memiliki lebih besar tanggungjawabnya dari istri.

Suami harus mampu menanggung kebutuhan keluarga, menjaga harga diri keluarga, membimbing keluarga, dan mengajaknya ke surga sebagai punjak tujuan. Dengan demikian, suami memiliki kewajiban besar bagaimana keluarganya mampu dibahagiakan baik lahir maupun bathin.

Kebahagiaan lahir dapat tercermin dengan terpenuhinya kebutuhan sebagaimana manusia sebagai makhluk sosial. Sementara kebutuhan bathin adalah sebuah kenyamanan hati dan ketentraman yang diberikan karena perlakuan seorang suami kepada istrinya dan kasih sayang kepada anak-anaknya.

Suami takut istri nampaknya telah menjadi isu besar yang tidak pernah usang. Isu itu muncul tenggelam seiring peristiwa-peristiwa baru yang muncul dari pasangan-pasangan baru yang memiliki kesamaan tema.

Perbedaan Pendapat Pada Keluarga

Persepsi suami takut istri sebenarnya muncul karena perilaku seorang suami yang sering keliru bahkan salah dalam membedakan antara kasih sayang kepada istri dan ketegasan sebagai suami. Perbedaan persepsi itu muncul akibat seorang suami yang gagal paham tentang perasaan irrasional dan tindakan realistis empirik.

Suami seharusnya mampu menyeimbangkan antara perasaan dan rasionalitas dalam mengambil keputusan untuk keluarga. Keduanya harus senantiasa berdampingan agar terhindar dari mispersepsi. Kecenderungan terhadap perasaan akan berakibat tindakan yang tidak terukur, begitu juga ketika terlalu mengedepankan sisi rasionalitas maka aspek kasih sayang akan terabaikan.

Suami Berwibawa dan Istri Menghargai

Pada dasarnya bahwa suami yang takut kepada istri menunjukkan bahwa suami tidak kurang bahkan tidak memiliki kualitas diri dalam membangun komunikasi yang baik. Permasalahan rumah tangga yang sering muncul tenggelam butuh dikomunikasikan dengan cermat.

Bilamana permasalahan itu tidak mampu dikomunikasikan, kebanyakan suami memilih untuk diam dan menunggu keputusan istri. Sehingga, hal ini menyebabkan kevakuman komunikasi dan saat itulah sang suami kalah oleh perasaan istri.

Suami yang memiliki wibawa di depan istrinya adalah mereka yang mampu mengelola komunikasi, menempatkan istri sesuai kondisi dan situasi dan peka terhadap urusan rumah tangga. Menempatkan istri sesuai kondisi dan situasi ini dimaksudkan bahwa seorang suami harus paham kapan istri itu dimanja dan dididik.

Mendidik Istri membutuhkan strategi khusus

Mendidik istri tentu butuh strategi hebat yang tidak bisa disamakan dengan teori-teori belajar dan pembelajaran di kampus atau di sekolah. Suami harus cerdas untuk memberikan pelajaran hidup kepada sang istri. Kapan waktu yang tepat untuk memberikan didikan tentang cara istri menerima tamu dari saudara, berkomunikasi dengan teman suami dan bermasyarakat dengan senantiasa menjunjung harga diri suami dan dirinya.

Butuh cara tepat, bahasa yang tepat dan waktu yang tepat pula. Jika sang suami mampu menghantarkan pendidikan rumah tangga itu dengan tepat kepada istri, maka sang istri akan patuh kepada suami.

Kepatuhan istri kepada suami ini akan semakin baik dan terjaga bila suami senantiasa menjaga komitmen dirinya atas apa yang sudah disampaikan kepada istrinya. Suami tidak boleh sebatas instruksi dan menuntut kepada istri sementara dirinya tidak memiliki komitmen untuk menjadi suami idaman.

Kesimpulan

Suami idaman adalah mereka yang mampu menjaga harga diri istrinya, menutupi kekurangan istrinya, dan memuliakan istrinya baik di dalam keluarga maupun di hadapan publik.

Menceritakan kejelekan istri sama halnya dengan membuka aib suami sendiri. Walaubagaimanapun, istri adalah pakaian suami dan begitu pula sebaliknya. Keduanya tidak dapat terpisahkan selama dalam ikatan pernikahan yang suci.

Menjadi suami yang mampu mendidik istrinya akan lebih mudah dibandingkan dengan suami yang bisa berkomitmen atas didikan yang telah diberikan kepada sang istri. Istri akan melihat dan mencermati terhadap perilaku diri suami dalam menjaga komitmen. Jika komitmen itu dapat saling dijaga, maka akan terciptalah suami berkharisma dan istri yang patuh. **


Penulis : Nanan Abdul Manan
Editor   : Acep M Lutvi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar