Suara Ghaib Syeikh Abdul Qadir Jailani Terkenal dalam Shufi Cinta Part-7

Suara Ghaib Syeikh Abdul Qadir Jailani Terkenal dalam Shufi Cinta Part-7
0 291

Syeikh Abdul Qadir Jailani adalah shufi yang paling banyak direport para pengikutnya. Reportase sahabatnya dimaksud, baik menyangkut perkataan, perbuatan atau hal ihwal tentangnya. Ia memiliki pengikut yang demikian khidmat, misalnya, pernah suatu hari seorang ulama shufi yang menjadi pengikutnya, bernama Al Juba’i menyampaikan perkataan gurunya yakni Syeikh Abdul Qadir Jailani yang mengatakan:

“Tertidur dan bangunnya aku, sudah diatur. Banyak waktu di mana dadaku membisikan sesuatu yang secara kuat untuk menyampaikan sesuatu melalui kemampuanku dalam berbicara. Begitu kuat dorongan dimaksud, sampai aku merasa tercekik jika keinginan untuk berbicara itu tidak dilakukan. Namun demikian, ketika aku sudah berbicara, pembicaraan yang kusampaikan itu, tidak dapat dihentikan. Saya tidak tahu, dorongan apa yang membuat aku seperti itu, dan mengapa keinginan itu sulit dihentikan”.

Kalimat di atas, terkesan sangat dialektis. Tetapi, kalau kita mencoba mendalaminya dalam pendekatan bahasa, maka, apa yang disampaikan Abdul Qadir itu, sesungguhnya adalah wujud ketidakmampuannya untuk membahami bahasa ghaib, yang mungkin dalam kacamata tertentu, didorong oleh karakter spiritualitas yang sangat tinggi. Dorongan itu, sangat mungkin berasal dari wujud yang maha absolut yakni Tuhan.

Awal Kemasyhuran  Abdul Qadir Jailani

Dalam ungkapan lebih jauh, Abdul Qadir Jailani –masih dalam rujukan Imam al Juba’i di atas– ia berkata: Pada saat pertama aku berbicara di hadapan banyak orang itu, ada ada dua orang atau lebih yang mendengarkan kalimat-kalimat yang aku sampaikan itu dengan kalimat yang aku sendiri tidak tahu apa dan mengapa sehingga aku terdorong untuk berkata. Dari dua orang atau lebih itulah,  mereka kemudian menyampaikan pembicaraanku kepada orang lain. Setelah itu, entah mengapa, tiba-tiba banyak orang-orang dating menghampiriku dalam jumlah yang banyak baik di Masjid, di tengah kota yang dikelilingi lampu atau di tempat lain yang sangat sepi. Mereka tetap datang.

Ketika tempat di mana aku berbicara itu semakin padat dan tidak lagi cukup untuk berkumpulnya banyak orang, aku memindahkannya ke tempat lain yang lebih sepi dengan mengadakan kajian keislaman –tentu berbasis shufi– di malam hari yang gelap dan sunyi. Tetapi, orang-orang tetap datang sambil membawa obor sehingga tempat itu menjadi terang dan memenuhi tempat tersebut secara meluas. Ketika itupun aku sudah tidak lagi mampu menghimpun, aku lalu membawanya ke luar kota dan ditempatkan di sebuah mushala. Namun, orang-orang tetap datang kepadaku, dengan mengendarai kuda, unta dan keledai dan menempati tempat di sekelilingku secara ramai. saat suasana itu berlangsung, setidaknya telah hadir sekitar kurang lebih 70 orang wali yang diridlai Tuhan. ** Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...