Suasana Kebatinan Cina Nusantara | Di Mana Pribumi Berpijak Part – 5

0 52

Suasana Kebatinan Cina Nusantara. Orang Tionghoa itu dirindukan, namun jangan lupa, mereka sekaligus dibenci. Dimintai bantuan sekaligus dicurigai. Dicaci maki namun tak aral, sadar bahwa mereka memang selalu dianggap hebat. Mereka diakui bukan hanya karena dianggap mampu menampilkan suatu entitas spesifik dalam konteks ekonomi Indonesia, tetapi, bahkan penguasa sesungguhnya di bumi pertiwi ini.

Itulah kalimat yang kami luncurkan, saat diskusi bersama Ko Iwan di Kantor Utama Perumahan kami di Cirebon, beberapa saat setelah Ahok dilantik menjadi Gubernur Jakarta, penerus Jokowie.

Jawaban ko Iwan tentu begitu memikat kami. Mengapa? Sebab ia juga mengkhawatirkan suasana semacam itu. Dia mengeluh bahwa, keterlibatan sebagian kecil keturunan Tionghoa dalam politik praktis, mesti tidak ada larangan, selalu mengkhawatirkan relasi mereka dengan masyarakat setempat. Meski Ahok ada di Jakarta, suasana kebathinan itu, akan terasa dampaknya sampai ke pelosok Nusantara.

Di lain sessi, saya juga pernah berdikusi ringan dengan Kun-Min. Diskusi sambil minum kopi saat dia berhenti di kantor layanan perumahan kami di Kuningan. Penjaja alat-alat dan barang-barang pecah, yang hampir seluruh waktunya ia habiskan di jalanan itu, terengah-engah saat TV-TV menayangkan jutaan umat Islam mengepung Monas Jakarta.Ai?? Ai??Mereka yang meminta Ahox di penjara, merasa akan memiliki dampak kepada mereka yang tidak mengerti apa-apa ribuan mil dari Jakarta.

Dengan pelan dia berkata: Jarang masyarakat yang sadar bahwa sesungguhnya, orang Indonesia keturunan Cina yang bernafsu berkuasa atau mereka yang memiliki kekayaan berlebih itu sangat sedikit. Bahkan mereka sesungguhnya tidak mampu mewakili kami. Kami ini, hidup dalam kesusahan akut dan kalaupun bisa hidup, dilakukan dengan cara yang sangat susah payah. Kami sesungguhnya ketakutan dengan kondisi itu. Khawatir kebencian merayap ke berbagai sisi. Kami yang “tidak berdosa ini”, terkena getah perbuatan masyarakat yang terbatas.

Mereka dengan mudah bisa kabur ke manapun mereka suka. Di belakang atau di atas rumah mereka ada Helikopter. Kami mau ke mana dan mau pulang ke mana. Indonesia bumiku dan tempat di mana kami berlindung, Hal yang relatif mirip sama ata apa yang disampaikan Kun-Min itu, diakui salah seorang wanita keturunan Jepang-Indonesia. Ia menyatakan kekhawatiran atas berbagai fenomena politik yang menjurus pada rasisme,

Bagi masyarakat Cina Indonesia lain, ternyata juga sama. Mereka kebanyakan khawatir atas suasana sedikit saja, yang mengganggu relasi mereka dengan apa yang disebut kaum pribumi. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang sesungguhnya merasa tereliminasi dan terdiskriminasi.Ai?? Suasana kebathinan itu, dirasa mereka sejak Nusantara masih dalam cengkraman Kolonialis Belanda, era Soekarno, Soeharto maupun reformasi.

Analisa Kebencian terhadap Cina

Arman Dhani dalam Tirto, 01 September 2016, sangat rinci menjelaskan tentang berbagai kejadian rasialis anti Tionghoa. Beberapa kejadian rasialis itu, mulai dari persekutuan kerajaan Islam yang menempatkan orang Cina sebagai pemungut pajak, kemudian diadopsi Belanda melalui VOC, yang berujung pada pembantaian massif, karena dianggap, Cina keturunan selalu membela siapapun yang berkuasa.

Rasis anti Cina bukan hanya terjadi saat ini, tetapi, jauh hari sebelumnya juga terjadi. Di akhir-akhir pemerintahan Rezim Soekarno, tak pelak ribuan orang Cina teraniaya bahkan mati. Hal ini terjadi karena menguatnya anggapan bahwa Indonesia memiliki hubungan mesra dengan Cina. Dan karena ideologi Cina itu komunis, maka, Cina Indonesia juga pasti komunis.

Sebagian orang Cina Indonesia yang Kristen Taat, Kong Khucu yang taat, atau yang Muslim taat, hilang dalam memori kolektif umat. Entah karena desain politik atau bahkan hanya sekeder ekonomi, yang jelas puluhan atau bahkan ratusan ribu orang Cina menjadi korban.

Sadar akan posisi yang demikian ekstrem, Presiden Soeharto mengeluarkan kebijakan baru dalam klasifikasi dan identifikasi mereka dengan sebutan Non Pribumi. Di waktu yang sama, Presiden Soeharto malah membuat persekutuan dengan kelompok kecil Cina dengan memberi berbagai fasilitas investasi.

Akibatnya, banyak di antara mereka yang menjadi kaya. Ini menjadi semacam bumerang karena mereka [yang kecil] itu, dianggap representasi etnis Tionghoa Indonesia. Kejatuhan Soeharto 1998, menjadi bukti nyata kemarahan massif massa yang menargetkan masyarakat Tionghoa sebagai sasaran kebencian dan bahkan pembunuhan.

PenyebutanAseng yang mendampingi kata Asing, dalam kode tertentu, harus difahami sebagai manifestasi rasa ketidaknyamanan kaum pribumi terhadap apa yang disebut dengan Tionghoa. Tetapi, sebetapapun mereka merasa ketidaknyamanan itu terjadi, hal dimaksud tetap menganggap Indonesia sebagai Syurga. Bukan hanya Syurga untuk kepentingan hari ini, tetapi, Syurga masa depan. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.