Subardi dalam Lakon Politik Kota Cirebon

0 68

Subardi dalam lakon politik Cirebon, hampir masih sulit dilupakan. Nama panggilan singkat dan padat meski enggak tahu apa makna di balik namanya. Awalan Su yang terletak di awal namanya, jika mengacu pada tradisi China dan India, atau menganut tradisi Jawa yang penuh mistik, selalu mengandung keberkahan dan keberuntungan. Keberuntungan dan keberkahan itu pula yang mengitari perjalanan kariernya sebagai Walikota dalam dua periode di Kota Cirebon ini.

Wajahnya tidak terlalu ganteng meski patut dipercayai bahwa dia memiliki sejumlah penggemar; baik politik maupun sosial. Ketertarikan publik tentu bukan karena ia memiliki magic, tetapi, kesahajaan dan ketawadhuannya dalam menjalani hidup di lingkaran besar kaum dhua’fa yang dalam beberapa dasawarsa sebelumnya, selalu dibiarkan marginal.

Ia juga tidak begitu populer dari sisi pemikiran, meski harus dipercaya jika dia begitu lekat di hati umat, khususnya ketika mengingat rambutnya yang putih dan kumisnya yang relatif tebal. Belum kalau berbicara tentang kesahajaan dan kemampuannya mengartikulasi diri di mata publik jelata.

Orang memanggilnya dengan sebutan si raja dingin atau Mr. Cool. Sebutan ini, bisa jadi karena dia tidak gampang tergoda meski godaan yang menghampirinya demikian banyak dan kompleks. Mungkin karena faktor itu pula, sampai hari ini, ia termasuk tokoh birokrat-politik yang sedikit sekali tingkat persentuhannya dengan dunia hukum. Langkahnya tetap stabil meski jabatannya beberapa bulan lagi akan berakhir. Ia tampak tidak terlalu ambisius untuk merengkuh sesuatu yang berlebihan dalam konteks pertarungan politik, meski karier politik pada tingkat Kabupaten Kota sudah berakhir, mengingat masa jabatannya yang kedua kali, tidak mungkin untuk ditambah.

Pertemuan dengan Subardi

Saya bertemu secara pribadi dengannya dalam dua event. Event pertama terjadi pada tahun 2003. Ia datang ke kampus IAIN Cirebon –dulu namanya STAIN Cirebon—dengan pakaian putih dan peci koplo ala kaum abangan. Di kampus tersebut, ia disandingkan dengan beberapa figur dan kebetulan saya menjadi moderator. Gayanya sebagai pendidik praktis pada tingkat sekolah dasar, agak sulit meyakinkan kaum akademik mahasiswa untuk menjadi figur utama menakhodai masyarakat Kota. Ia tetap berani hadir dan hampir sedikit sekali orang yang yakin kalau dia bakal terpilih menjadi Walikota. Terhadap manusia sejenis ini, saya sendiri lebih banyak menghela nafas dengan kekaguman emosional yang luar biasa.

Tahun itulah, untuk pertama kali dia ikut dalam kompetisi heroik pilihan Walikota bersama Agus Al Wafier versus Soenaryo HW bersama Pangeran Arief Natadiningrat melalui pilihan di DPRD Kota. Ia menang tipis dengan suara selisih satu. Saat itu, dia berhasil menghentakkan jagat politik Cirebon, karena berhasil mengalahkan lawan politik handal dengan investasi politik dan ekonomi agak sulit untuk dikalahkan. Ia tampil sebagai David melawan Ghaliat yang secara teoretik hampir tidak mungkin dikalahkan.

Event kedua saya mengenalnya dalam pertemuan pribadi sebagai Wakil Rektor dari Universitas Muhamadiyah Cirebon di balaikota sekitar tahun 2008 beberapa saat setelah dia dilantik menjadi Walikota jilid dua. Pertemuan kedua ini memang tidak sehangat pertemuan pertama karena saat itu, dia sudah menjadi “raja” yang diatur segalanya oleh para pangreuhpraja di Balaikota. Cukup lama waktu yang saya habiskan di serambi Balaikota sambil menghisap beberapa batang rokok untuk membunuh kejenuhan.

Di akhir masa kejenuhan menunggu itu, saya malah hanya mampu berbicara dengannya di parkiran mobil belakang. Ia tidak banyak bicara –maklum teramat sibuk—tetapi, meminta perhatiannya agar membantu kampus kami. Pertemuan itu, menghasilkan salah satu komitmen yang menurut saya cukup pantastik dan implementatif. Wajah dan penampilannya tidak begitu berubah. Hanya pakaian dinas dengan sejumlah atribut yang menempel pada pakaiannya yang berubah. Mr. Cool itu ternyata tetap dingin dan nyantai. Saya sendiri tidak harus merasa kecewa, karena substansi yang menjadi target dari pertemuan dimaksud telah tercapai.

Tentu masih banyak aspek lain dan situasi lain yang tidak terlalu signifikan tetapi menambah referensi sehingga akhirnya saya menuliskan naskah ini. Koran-koran dan berbagai berita yang disampaikan beberapa aktivis –mahasiswa dan LSM lain—juga menambah wawasan saya tentangnya. Sebab semakin lama saya perhatikan, sosoknya ternyata cukup magnetis. Magnetismenya, ternyata bukan hanya memikat saya, tetapi, juga memikat para aktivis dan kaum politis yang dipersiapkan atau mempersiapkan dirinya untuk menjadi penggantinya.

Pemimpin Publik

Peristiwa yang menimpa Mr. Cool ini, menurut saya akan menjadi hikayat atraktif tentang bagaimana seseorang mesti turun dari jabatan penuh kekuasaan untuk menjadi resi pada situasi dan jenjang karier politik yang akan meramaikan situasi bathinnya di ranah yang sepi. Ia dapat ditahbiskan sebagai lokomotif politik etik yang mengedepankan prinsip-prinsip humanisme tanpa harus menyinggung apalagi meyakiti lawan politik secara atraktif.

Ketika wartawan Rakyat Cirebon bertanya, apa kiat menjadi pemenang dalam Pemilihan Walikota, dengan simpel dia mengatakan, dekat dengan keluarga tentara dan keluarga kepolisian. Tampak begitu polos dan tanpa tedeng aling-aling. Saya mempercayai soal sikapnya ini, meski dia masih menyimpan satu senjata kemenangannya yang tidak dia keluarkan dan menjadi core keberhasilannya.

Dia tidak mau menyebutkannya karena ribet dan butuh talenta terasah. Tidak mungkin dimiliki penguasa murni atau pengusaha murni. Dia menyimpannya dalam setiap uraian darah di nadinya. Core itu adalah kepiawaiannya dalam menjalani hidup bersama masyarakat bawah dan menjadikan dirinya sebagai bagian penting dari masyarakatnya. Ia mengurangi waktu tidurnya dan mengurangi sedikit banyak waktu istirahat dan waktu olah raganya untuk menjumpai rakyatnya.

Tetapi, apapun itu ceritanya, ia dapat menjadi contoh lain dari tipikal pemimpin yang dibutuhkan masyakat hari ini. Masyarakat yang tumbuh dan berkembang dalam ketidakpastiannya memang membutuhkan pemimpin yang mampu mendengarkan dan merasakan jeritan umat. Dan itu, ada pada dirinya. Selebihnya, siapa yang sanggup menggantikannya? Ya … wallahu ‘alam. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...