Ibnu Arabi dan Filsafat Panteisme dalam Intelektual Muslim Part-22

0 237

Ibnu Arabi adalah Sufi falsafi yang cenderung panteistik. Panteisme atau falsafat Monisme, sering disematkan kepada tokoh asal Andalusia ini, yang kemudian populer dengan sebutan Ibnu Arabi. Jika kita cermati secara mendalam, pikiran Ibnu Arabi soal panteisme ini, dalam konteks filsafat, sebenarnya tidak terlalu mengherankan. Mengapa? Sebab mulai dari Plato, Plotinus, Al Razi, Ibnu Sina dan al Farabi, gagasan panteisme ini, sebenarnya benihnya sudah muncul, khususnya ketika membicarakan soal al fayd (Arab) atau emanasi (Inggris). Hanya kalau boleh disebut, memang terdapat sesuatu yang sangat spesifik yang dikembangka Ibnu Arabi tentang teori pancaran ini, karena Ibnu Arabi membawanya sampai ke persoalan panteisme dan monisme.

Konsep Pancaran Ibnu Arabi

Panteisme atau falsafat Monisme Ibnu Arabi, bermula dari suatu konsep yang menyebut bahwa seluruh alam dan jagad raya ini, bermula dari penampakan Tuhan dari wujud ilmu menjadi wujud materi dalam apa yang hari ini kita sebut dengan alam. Ia menginterpretasikan bahwa segala wujud yang ada itu sebagai theophani abadi dari wujud yang juga abadi. Ia mengilustrasikan alam sebagai tanda adanya Allah yang dapat dihayati oleh manusia. Kemampuan manusia menghayati alam yang menjadi symbol keberadaan Tuhan itu, jika didalami lebih jauh, dapat mendorong manusia untuk berhadapan secara langsung dengan Tuhan.

Jika anda belum tahu makna Theophani abadi, maka, istilah ini sebenarnya terambil dari Bahasa Yunani Kuna. Kata ini, berstruktur dari Theos yang berarti Allah atau Tuhan dan phani dari kata Theophania yang berarti penampakan. Jadi theophani berarti penampakan Tuhan dalam wujud nyata di alam. Konsep ini juga yang menjadi landasan bagi theologi Kristen akan eksistensi. Isa Al Masih sebagai penampakan Alah ke dalam alam materi kemanusiaan.

Ciri yang paling hakiki akan penampakan Tuhan beserta seluruh sipatnya itu, terletak pada hakikat Muhammad. Inilah cermin terunggul yang dimiliki Tuhan saat diri-Nya ingin bercermin tentang wujud kesejatiannya sebagai Tuhan. Ini juga yang menjadi landasan penting akan teori hulul yang dikembangkan al Jilli atau wihdat al wujud yang dikembangkan Ibnu Arabi. Melalui kesejatian Tuhan dalam hakikat Muhammad yang digagas Ibnu Arabi ini, dalam jangka panjang menyimpulkan bagi dirinya sendiri akan apa yang disebut dengan wihdat al adyan (penyatuan agama). Ia menyebut bahwa agama adalah tunggal, Karena bersumber dari sumber yang Tunggal yakni Allah.

Proses Penciptaan Alam Menurut Ibnu Arabi

Menurut Ibnu Arabi, proses terciptanya alam selalu berawal dari proses emanasi (Inggris) atau al-faid (Arab) yang berasal dari zat Allah itu sendiri. Alam, menurutnya, lahir karena keluarnya alam melalui proses pengetahuan Allah. Kalimat ini menyiratkan bahwa meski benar bahwa alam bukan merupakan dzat Allah secara mutlak, namun, ia tidak berbeda dengan Tuhannya secara mutlak juga. Menurutnya, alam bukan wujud keduanya yang benar-benar terpisah dariNya.

Konsep ini, dipengaruhi juga oleh filsafat monoisme yang menyatakan bahwa Tuhan dan alam adalah satu dari segala yang Ada. Alam hanyalah bentuk penjelmaan Tuhan yang bergerak dari alam ilmu ke alam nyata. Filsafat monoisme dengan bahasa lain memiliki relevansi makna dengan konsep emanasinya Ibnu Arabi dan sejarinya telah menjadi prinsip dasar dalam dunia tasawuf.  Dalam perkembangan lebih lanjut, ia menyatakan bahwa agama bersumber dari wujud yang satu, yakni wujud yang mutlak.** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.