Sumber Ilmu Berbasis pada Empirisme dan Rasionalisme | Epistemology Part – 4

0 111

Sumber Empirisme. Sejarah lahirnya dua sumber ilrnu seperti terlihat dari corak pengetahuan Barat temporer, tampaknya berakar dari tradisi dialektika filosof Yunani awal. Salah satunya apa yang dikembangkan filosof Helenis abad kelima dan kekempat sebelum Masehi. Karena itu, lahir dan berkembangnya dua aliran tadi, dalam beberapa hal dapat disebut sebagai lanjutan dari kontradiksi pemikiran masa lalu. Sebut misalnya, apa yang digagas Plato [dualis] dan Aristoteles yang empiris.

Gagasan Plato tentang Pengetahuan

Plato yang dalam beberapa hal sangat Socratian, menyebut bahwa pengetahuan dapat dicapai dengan sifatnya yang sempurna. Pengetahuan harus benar-benar nyata dari bentuk aslinya. Karena Plato menyebut ada kebenaran universal, maka, pengetahuan, menurutnya bersipat permanen. Ia tidak dapat berubah.

Gagasan Plato yang menyebut dunia pada dunia deal dan dunia indrawi, menyimpulkan bahwa empirisme justru akan menjadi janggal, jika hanya dianggap sebagai satu-satunya sumber ilmu. Akal juga sama. Ia adalah suatu fenomena yang pada akhirnya akan selalu berubah seiring dengan perubahan dunia indrawi. Karena itu, dalam anggapan Plato, suatu obyek empiris tidak akan pernah benar-benar berdiri menjadi satu-satunya sumber pengathuan yang tepat dan akurat

Sebagai contoh, bagi Plato, satu-satunya pengetahuan dan ia dapat disebut sebagai pengetahuan sejati adalah apa yang disebutnya sebagai episteme, yaitu: suatu pengetahuan yang tunggal dan tidak berubah sesuai dengan ide-ide abadi. Oleh Plato, pengetahuan ditafsirkan sebagai hasil ingatan (rasio) yang melekat padanya (a priori) yang berlangsung berdasarkan intuisi (wahyu) yang dialami jiwa manusia.

Gagasan Aristoteles tentang Pengetahuan

Berbeda dengan Plato, Aristoteles yang menjadi murid Plato, mencoba mengganti pemikiran gurunya justru dengan abstrak. Aristoteles beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil pengamatan terhadap kenyataan deiigan melepaskan unsur-unsur universal. Pengetahuan didapatkan dengan cara penumpukkan aspek-aspek empiris yang particular. Jika abstraksi itu diteruskan, maka menurut Aristoteles akan melampaui batas inderawi, melampaui tarap dugaan (A.C. Ewing, 1962)

Aristoteles berpendapat bahwa dunia yang sesungguhnya adalah yang nyata dan real. Dunia ini memang bermacam-macam. Karakternya selalu bersifat relatif dan berubah. Karena itu, dunia ide, sebagaimana dianggap Plato, menurut Aristoteles hanya bersipat abstrak yang bersifat semu, dan itu terlepas dari pengalaman.

Akal tidak mengandung ide-ide bawaan, melainkan menjadi alat yang mengabstraksikan dunia nyata ke dalam ide. Karena itu, pengetahuan hanya bersipat persepsi, dunia natural adalah dunia nyata. Persepsi dan pengalaman indrawi, karena itu dapat menjadi dasar bagi lahirnya pengetahuan Khusus dalam soal abstraksi tersebut, menurut Aristoteles ada tiga, yakni: Abstraksi Fisis [empiris], Abstraksi Matematis [logis], dan Abstraksi Teologi [Metafisis]

Pikiran Aristoteles yang bercorak empiris-liberalis tadi, secara serkastis memperoleh penolakan yang luar biasa dari kaum Gereja setelah tokoh-tokoh penting Yunani dimaksud mati. Beberapa abad setelah meninggalnya tokoh- tokoh besar Yunani, perlahan-lahan pemikiran yang demikian itu terasa usang dan hampir tidak memperoleh tempat baik di masyarakat maupun hanya sekedar di kalangan filosof dan snintis.

Bapak-bapak Gereja (Patristik) yang berusaha memahami pikiran Aristoteles, memang harus diakui ada. Tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan mereka yang menolaknya. Kevakuman pemikiran yang digagas Aristoteles, mati suri dalam jangka waktu yang panjang. Sebab pembedaan dan penelusuran kembali akan arti pentingnya pemikiran ini baru mulai muncul pada abad ketujuh Masehi oleh suatu komunitas yang kemudian dikenal dengan istilah komunitas Muslim di Mediterania.

Islam dan Tradisi Dialektika

Di era Islam, pikiran-pikiran Yunani khususnya lagi pemikiran Aristoteles, kembali dipungut dan dikembangkan. Sebagian tokoh. Muslim bahkan menyebut pemikiran Aristoteles yang empiris-liberalis itu bahkan “diramahkan” oleh suatu proses yang disebut dengan “islamisasi”. Proses Islamisasi ini sering jtiga digunakan fakultas-fakultas manusia (idera dan rasio) sambil berusaha memasukan unsur intuisi dan wahyu pada ilmu.

Pikiran ini setidaknya dapat kita lacak dari pikiran Syed Hussein Nasr yang menyatakan bahwa dalam dunia Islam melalui para filosofnya, hubungan yang mendalam antara realitas pokok dan primordial yang menempatkan suatu Yang Qudus dan sumber segala yang Qudus ke dalam ilmu pengetahuan, itu terjadi.

Namun demikian, ketika filsafat Yunani yang telah mengalami proses ‘islamisasi’ itu, khususnya filsafat dan Ibnu Sina dan lbnu Rusyd masuk dunia Barat, karya-karya mereka diperkenalkan dalam keadaan yang sudah terpotong-potong sehingga kehilangan kandungan spritualnya. Barat justru mengembalikan citra keilmuan yang sangat empiris dan sangat rasional seperti pernah terjadi pada era Yunani (C.A. Qadir, 1991).

Filosof dan saintis Barat mengadopsi secara total permikiran Aristoteles. Bahkan sering disebut oleh sebagian penolak pemikirannya, Barat tidak berdaya hanya sekedar untuk melakukan kritik pada pemikirannya. Posisi dunia Islam yang demikian, ternyata tidak menjadi jembatan bagi dunia Barat dalam melahirkan ilmu pengetahuan seperti yang terjadi dalam dunia Islam itu sendiri.

Dunia Islam, bagi Barat, ternyata hanya menjadi jembatan bagi pengembangan Helenisme Aristoteles yang memang sangat empiris-rasional, kalau bukan sarna sekali liberal. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.