Sumber Ilmu Pengetahuan| Filsafat Ilmu Part – 10

Sumber Ilmu Pengetahuan dalam Filsafat Ilmu Part - 10
0 6.215

Ilmu dalam Perspektif Filsafat. Sumber ilmu pengetahuan yang menjadi kajian di bab ini adalah aspek-aspek yang mendasari lahirnya ilmu. Aspek- aspek tadi, mungkin telah memperlihatkan perkembangan yang ada atau mungkin muncul di tengah kehidupan umat manusia. Pentingnya mengkaji sumber ilmu pengetahuan didasarkan atas: 1) Adanya perbedaan pandangan di kalangan filosof dan saintis tentang apa yang menjadi sumber ilmu; dan 2) Perbedaan ini ternyata berkonsekwensi pada perbedaan paradigma yang dianut masing-masing komunitas masyarakat dalam memandang dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan.

Misalnya, dunia Islam melalui para filosof dan saintisnya, ternyata memiliki paradigma khusus dalam merumuskan sumber ilmu pengetahuan. Dan ini berbeda secara signifikan dengan sumber ilmu pengetahuan yang dikonstruk filosof dan snintis Barat kontemporer yang mengadopsi secara total pradigma keilmuan Yunani Kuna yang sangat Aristotalian yang sekular.

Di kalangan filosof dan saintis Muslim, berkembang sebuah pemikiran bahwa sumber utama ilmu pengetahuan adalah wahyu. Bagi umat Islam, hal itu termanifestasi dalam bentuk al-Quran dan sunnah. Sumber al Qur’an ini bukan hanya mendampingi sumber pengetahuan lain, misalnya sumber empiris yang faktual/induktif dan rasional/deduktif. Al- Qur’an bahkan dapat dianggap pemegang otoritas lahirnya ilmu. Kenapa demikian? Sebab dalam perspektif Islam, alam yang menjadi sumber empiris pengetahuan moderen, adalah wahyu Tuhan juga. Ia adalah simbol terendah dari Tuhan yang Maha Tinggi dan sekaligus Maha Qudus.

Jikapun ada perbedaan pandangan di kalangan masyarakat Muslim, umumnya lebih pada prioritas dalam merumuskan fungsi wahyu, yakni; apakah wahyu menjadi alat infonnasi (pembenar) atas penemuan fakta empiris-rasional atau justru menjadi alat informasi terhadap lahir dan jalannya ilmu pengetahuan. Perbedaan itu sekali tetap ada! Tetapi perbedaan itu sama-sama masih mempertahankan wahyu sebagai surnber, baik sebagai surnber utama (informasi) maupun hanya menjadi sumber sekunder (konfirmasi) terhadap segala capaian yang dihasilkan alat indera dan rasio manusia.

Berbeda dengan sumber ilmu dalam Islam, di kalangan filosof dan saintis Barat umumnya, ilmu pengetahuan dibatasi hanya pada dua sumber utama. Kedua sumber ilmu pengetahuan yang ada di komunitas masyarakat terakhir ini adalah pengetahuan yang lahir atas pertimbangan rasio (akal/deduksi) dan pengetahuan ynag dihasilkan melalui pengalaman (empirs/induksi). Sumber pengetahuan yang mendasari kebenaran pada pengalaman ini diistilahkan dengan empirisme, sedangkan kebenaran yang pertimbangannya pada rasio dikenal dengan istilah rasionalisme. (Jujun S. Surisumantri, 1982).

Dari berbagai rujukan yang berhasil dibaca, di kalangan masyarakat Barat saat ini, masa yang sering disebut sebagai informasi agung bagi perkembangan filsafat, sains dan aplikasinya dalam teknologi, temyata hanya menyajikan dua sumber ilmu pengetahuan. Kedua sumber dimaksud adalah empirsme dan rasionalisme. Kedua sumber dimaksud dalam istilah AC. Ewing Noeng Muhadjir (2004) menambahkannya dengan istilah sensual. Sehingga rumusan yang dipakai tokoh terakhir ini sering diistilahkan dengan rasional sensual dan empiris sensual.

Masalahnya, faktor apa yang menyebabkan dunia Barat hanya mengakui dua sumber ilmu pengetahuan dan menafikan sumber lain di luar dua sumber tadi seperti wahyu dan intuisi? Jawaban terhadap pertanyaan ini memang sangat komplek. Namun kita mungkin dapat merabanya dengan menyebut salah satu faktor yang menurut saya sangat penting, yakni, Iahirnya ilmu pengetahuan di dunia Barat didorong oleh semangat pembebasan kalangan filosof dan saintis yang bercita-cita membebaskan ilmu dari cengkraman Gereja. Dengan kata lain, ilmu lahir sebagai antitesis dari sistem dan doktrin Gereja yang mengontrol jalannya ilmu pengetahuan yang ancillia theologine. Hal ini tentu berbeda dengan tradisi keilmuan filosof dan saintis Muslim yang melahirkan ilmu justru atas dorongan atau spirit kewahyuan (baca al-Qur’an).

Mencermati berbagai kategorisasi ilmu di atas, ilm dari sumbernya dapat dibagi menjadi dua kategori besar. Dua kategori tersebut adalah: Pertama, ilmu yang diberikan Tuhan kepada manusia yang dipilih-Nya melalui para nabi dan rasul dalam bentuk wahyu dan kitab suci keagamaan; kedua, ilmu yang dihasilkan manusia melalui penalarannya terhadap alam dan manusia serta hubungan antara manusia dengan manusia dan antara manusia dengan alam.

Di lihat dari sisi pemanfaatannya, ilmu baik yang bersumber Tuhan (wahyu) maupun ilmu yang dihasilkan oleh kreativitas manusia, dapat dibedakan menjadi ilmu teoritis (berbentuk hipotesis-hipotesis) dan ilmu praktis (jabaran atau implementasi dari teoritis, atau serendahnya ilmu yang yang menguji kebenaran, kekuatan atau kesalahan dan kelemahan dari ilmu teoritis). Ilmu terakhir ini dihasilkan oleh kekuatan pancaindera manusia melalui pendekatan empiris dan rasional.

Bentuk praksis dari ilmu terapan, dikerjakan ilmuwan melalui tahap kerja yang simultan dan bertahap. Pertama, ilmuwan yang menghimpun sejumlah fakta dari suatu objek yang akan dikajinya, dilakukan melalui pendekatan induksi dengan basis empirisme. Kedua, ilmuwan “melukis” fakta dimaksud dengan cara: membentuk definisi yang bersifat umum, melakukan analisa terhadap fakta dan kemudian melakukan klasifikasi terhadap fakta-fakta. Ketiga, memberikan penjelasan terhadap fakta-fakta tadi dengan cara, membentuk sebab-sebab yang mendahului suatu persitiwa dan merumuskan hukum sebab akibat dan fakta- fakta yang ada.

Empiris-Rasional dalam Sorotan

Dilihat dari sejarah, lahirnya dua sumber ilmu pengetahuan seperti terlihat dari corak ilmu pengetahuan Barat kontemporer, sebenarnya berakar dari tradisi dialektis filosof Yunani pada abad kelima dan kekempat sebelum Masehi. Lahir dan berkembangnya dua aliran tadi dalam beberapa hal dapat disebut sebagai lanjutan dari kontradikis pemikiran Plato dan Aristoteles yang membawa corak rasional dan empiris.

Sebagai contoh, bagi Plato, satu-satunya pengetahuan dan ia dapat disebut sebagai pengetahuan sejati adalah apa yang disebutnya sebagai episteme, yaitu: suatu pengetahuan yang tunggal dan tidak berubah sesuai dengan ide-ide abadi. Oleh Plato, pengetahuan ditafsirkan sebagai hasil ingatan (rasio) yang melekat padanya (a priori) yang berlangsung berdasarkan intuisi (bisa dibawa wahyu) yang dialami jiwa manusia.

Berbeda dengan Plato, Aristoteles yang menjadi murid Plato, mencoba mengganti pemikiran gurunya justru dengan abstrak. Aristoteles beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil pengamatan terhadap kenyataan deiigan melepaskan unsur-unsur universal. Pengetahuan didapatkan dengan cara penumpukkan aspek-aspek empiris yang particular. Jika abstraksi itu diteruskan, maka menurut Aristoteles akan melampaui batas inderawi, melampaui tarap dugaan (A.C. Ewing, 1962: 31).

Pikiran-pikiran Aristoteles yang bercorak empiris-liberalis tadi, secara serkastis memperoleh penolakan yang luar biasa dari kaum Gereja setelah tokoh-tokoh penting Yunani dimaksud mati. Beberapa abad setelah meninggalnya tokoh- tokoh besar Yunani, perlahan-lahan pemikiran yang demikian itu terasa usang dan hampir tidak memperoleh tempat baik di masyarakat maupun hanya sekedar di kalangan filosof dan snintis.

Bapak-bapak Gereja (Patristik) yang berusaha memahami pikiran Aristoteles, memang harus diakui ada. Tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan mereka yang menolaknya. Kevakuman pemikiran yang digagas Aristoteles, mati suri dalam jangka waktu yang panjang. Sebab pembedaan dan penelusuran kembali akan arti pentingnya pemikiran ini baru mulai muncul pada abad ketujuh Masehi oleh suatu komunitas yang kemudian dikenal dengan istilah komunitas Muslim di Mediterania.

Di era Islam, pikiran-pikiran Yunani khususnya lagi pemikiran Aristoteles, kembali dipungut dan dikembangkan. Sebagian tokoh. Muslim bahkan menyebut pemikiran Aristoteles yang empiris-liberalis itu bahkan “diramahkan” oleh suatu proses yang disebut dengan “islamisasi”. Proses Islamisasi ini sering jtiga digunakan fakultas-fakultas manusia (idera dan rasio) sambil berusaha memasukan unsur intuisi dan wahyu pada ilmu.

Pikiran ini setidaknya dapat kita lacak dari pikiran Syed Hussein Nasr yang menyatakan bahwa dalam dunia Islam melalui para filosofnya, hubungan yang mendalam antara realitas pokok dan primordial yang menempatkan suatu Yang Qudus dan sumber segala yang Qudus ke dalam ilmu pengetahuan, itu terjadi.

Namun demikian, ketika filsafat Yunani yang telah mengalami proses ‘islamisasi’ itu, khususnya filsafat dan Ibnu Sina dan lbnu Rusyd masuk dunia Barat, karya-karya mereka diperkenalkan dalam keadaan yang sudah terpotong-potong sehingga kehilangan kandungan spritualnya. Barat justru mengembalikan citra keilmuan yang sangat empiris dan sangat rasional seperti pernah terjadi pada era Yunani (C.A. Qadir, 1991).

Filosof dan saintis Barat mengadopsi secara total permikiran Aristoteles. Bahkan sering disebut oleh sebagian penolak pemikirannya, Barat tidak berdaya hanya sekedar untuk melakukan kritik pada pemikirannya. Posisi dunia Islam yang demikian, ternyata tidak menjadi jembatan bagi dunia Barat dalam melahirkan ilmu pengetahuan seperti yang terjadi dalam dunia Islam itu sendiri. Dunia Islam, bagi Barat, ternyata hanya menjadi jembatan bagi pengembangan Helenisme Aristoteles yang memang sangat empiris-rasional, kalau bukan sarna sekali liberal.

Sumber Ilmu Dunia Islam

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, dunia Islam melalui karya filosof dan saintis skolastiknya, telah memperkenalkan sumber pengetahuan yang tampak berbeda dengan sumber ilmu pengetahuan Yunani di Barat Kontemporer. Islam selain memperkenalkan sumber empiris dan rasional, juga memperkenalkan sumber lain, yaitu: intuisi dan wahyu. Berikut adalah penjelasan masing-masing sumber ilmu pengetahuan yang dapat dirumuskan pada empiris, rasional dan intuisi- wahyu.

Empirisme

Empirisme adalah sebuah faham yang menganggap bahwa pengalaman yang bersifat faktuallah yang layak menjadi sumber pengetahuan. Di era modern paham ini diletakkan oleh Jhon Lock (1632-1704) dan George Barkeley (1685-1753). Aliran ini beranggapan bahwa seluruh ide datang suatu benda dalam (experience) dan tidak ada proporsi tentang suatu benda dalam kenyataan yang dapat diketahui sebagai kebenaran yang independent dari pengalaman. Empirisme adalah sebuah paham yang menganggap bahwa pengetahuan manusia didapatkan dan hanya didapatkan melalui pengalaman konkret, bukan penalaran rasional yang abstrak, apalagi pengalaman kewahyuan dan instuisi yang sulit memperoleh pembenaran faktual.

Menurut kelompok ini, gejala alamiah bersifat konkret, dan dapat dinyatakan lewat tangkapan pancaindera manusia. Paham kelompok ini, menjadikan pengetahuan sebagai kumpulan fakta-fakta, Paham ini, pada hampir mirip paham naturalisme ynag menganggap bahwa hanya alam otentik yang dapat dipercaya.

Paham naturalism menganggap bahwa sesuatu itu terjadi secara alami sebagai akibat dari berlakuknya hukum alam fisik. Misalnya, Gerhana Matahari terjadi sebagai hukum gerakan benda angkasa. Atau manusia tumbuh dan berkembang karena terjadinya konsumsi (vitamin, gizi dan berbagai kebutuhan bahan lain) manusia. Jika manusia tidak makan, tidak minum dan melakukan konsumsi apapun, maka sulit bagi paham ini akan muncul dan lahirnya perkembangan manusia. Pernyaan- pernyataan tadi memang memunculkan persoalan. Misalnya, bagaimana jika ada suatu kejadian di luar benda-benda empiris yang tidak mengikuti irama alam tadi.

Naturalisme cenderung mengambil salah satu di antara dua jurusan, yaitu: naturalisme dapat menjadi apa yang dinamakan “fisikalisme”, atau naturalisme dapat berpendirian bahwa hal-hal yang bersifat alami mungkin lebih dari satu jumlahnya. Mereka melihat alam dari gejala fisik yang bersifat material. Oleh karena itu, semua gejala dapat disimpulkan sebagai gejala materi yang bergerak. (C.A. Qadir, 1991). Paham empirisme ini, sejak awal kelahirannya di Yunani memang selalu debatebel. Sebab banyak dalam realitas kehidupan yang terjadi dengan tidak mengikuti hukum serta siklus alam.

Di era keemasan Islam juga sarna. Dikomunitas ini paham empirisme telah menjadi perdebatan sengit di antara tokoh- tokoh Muslim. Misalnya perdebatan itu terjadi antara al- Ghazali dengan para filosof yang menganggap bahwa ilmu lahir atas prinsip kausalitas. Al-Ghazali mengakui adanya regulitas (seperti kapas akan terbakar jika kena api). Namun kekuatan api untuk membakar itu berada di tangan Tuhan yang bersifat metafisik. Kekuatan api untuk membakar itu tidak inheren terdapat dalam api. Tuhan dianggap al-Ghazali dapat melakukan self-contradictory seperti diperlihatkan pada kasus tidak terbakarnya Ibarahim atas sengatan api.

Di abad modern, penolakan terhadap paham ini muncul. Tokoh setingkat David Hume yang dianggal sangat liberalis sekalipun, paham ini tetap memperoleh rejeksionis. Hume menganggap bahwa regularitas dianggap tidak mempunyai dasar logika matematika, oleh karena itu, menurutnya paham ini layak diingkari. Pada dunia empirical, setiap terjadi A, maka akan berkonsekwensi pada lahirnya B dan seterusnya. Padahal tidak setiap A pasti akan lahir B, atau B akan melahirkan C. sangat mungkin malah setelah lahir A akan lahir A- atau A+ bahkan mungkin Z. dasar dari harapan yang demikian, menurut Hume tidak mengandung logika.

Namun demikian, harus pula diakui bahwa paham ini akan mengajak orang untuk mau bertanggung jawab terhadap apa yang dianggapnya benar. Sebab memalui paham ini, dapat pula terumuskan pola pertanggungjawaban dalam memahami kebenaran. Setidaknya kebenaran yang dapat ditangkap oleh indera manusia.

Rasionalisme

Rasionalisme adalah sebuah aliran yang menganggap bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui pertimbangan akal (reason). Dalam beberapa hal, akal bahkan dianggap dapat menemukan dan memaklumkan kebenaran sekalipun belum didukung oleh fakta empiris.

Di era modern perkembangan faham rasionalisme oleh tokoh seperti Rene Descartes (1596-1650), Barucl (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-17-16). kelompok ini, dalam setiap benda sebenarnya terdapat ide-ide terpendam (innate ideas) dan proposisi-proposi (general proposition) yang lazim disebut proposisi kemiscayaan (“necessary” atau “a priori”) yang dapat dibuktikan kebenaran dalam kesempurnaan atau keberadaan empiris. (Joel Feinberg, 1969)

Rasionalisme menganggap bahwa ilmu lahir dari indul produk sebuah rangkaian penalaran bukan dari rangkaian fakta empiris seperti digagas oleh faham empirisme. Dalam rangka kerjanya, kelompok yang disebut rasionalis mendasarkan diri pada cara kerja deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis-premis yang dipakai dalam mmmbuat rumusan keilmuan harus jelas dan dapat diterima oleh pertimbangan-pertimbangan akal. Ide-ide dianggap kelompok ini Ide-ide dianggap kelompok ini bukan diciptakan manusia. Ide sudah ada sebelum manusia berusaha memikirkannya, Faham ini sering juga disebut faham idealism atau realism. .

Paham ini menganggap bahwa eksistensi objek tergantung pada diketahuinya objek tersebut. Sistem kefilsafatan kaum ini menganggap bahwa dengan sesuatu atau lain cara, hal yang adanya terdapat di dalam dan tentang dirir dan yang hakekatnya tidak terpengaruh oleh seseorang. Biasanya, penganut faham ini mampu membedakan antara “apakah sesuatu itu yang senyatanya” atau “bagaimanakah

tampaknya sesuatu itu”. Ukuran kebenaran, kelompok menurut kelompok sesuatu itu” Ukuran kebenaran, menurut kelompok ini diukur dari apakah gagasan itu benar-benar memberikan pengetahuan kepada manusia atau tidak (Louis O. Kattsoff, 987).

Intuisi dan Wahyu

Cara lain yang juga dapat disebut -sebagai sumber pengetahuan adalah intuisi dan wahyu. Kelompok yang menganggap bahwa intuisi dan wahyu dapat menjadi sumber pengetahuan adalah mereka yang masih menjunjung tinggi peranan wujud tertentu di laur dzat atau benda fisik yang tarnpak dan dapat dibuktikan oleh alat inderawi manusia.

Intuisi dapat dianggap dapat menjadi sumber pengetahuan karea melalui intuisi manusia mendapati ilmu pengetahuan seeara langsung tidak melalui proses penalaran tertentu. Melalui intuisi, manusia seeara tiba-tiba menemukan jawaban dari permasalahan yang dihadapinya. Eksistensi intuisi sebagai sumber ilmu, diakui juga Maslow dan bahkan oleh Nietzsche. Maslow misalnya menyebut intuisi sebagai peak experience (pengalaman puncak), sementara Nietzsche menyebut intuisi sebagai sumber ilmu yang paling tinggi. (Jujun S. Suriasumantri, 1982: 55-56).

Namun, Nietzsche sifat intuisi sangat personal dan tidak dapat ditransformasi kepada manusia lainnya. Sementara kebenaran ilmiah harus dapat digeneralisir dan tentu sangat berbeda dengan kebenaran intuisi. Dengan demikian, menurut Nietzsche, intuisi tidak dapat diandalkan. la hanya dapat dijadikan hipptesis yang membutuhkan analisis lanjutan.

Kelemahan terpenting dari posisi intuisi sebagai sumber ilmu adalah adanya suatu kenyataan bahwa intuisi hanya berbentuk pengalaman personal atau individual. Karena ia bersifat pengalaman personal, maka pengalaman seseorang tentu tidak dapat digeneralisasi dan diikuti oleh orang lain. Padahal sifat ilmu yang paling penting adalah proses generalisasi. Di sini dan dalam konteks inilah, kelompok empiris dan rasionalis menolak intuisi sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Namun demikian, saintis Barat hari ini mula eksistensi intuisi sebagai sumber ilmu. C.A. Qadir (1991) berpendapat bahwa adanya pengakuan kaum filosofat Barat modern terhadap eksistensi intuisi sebenarnya baru terjadi akhir-akhir abad ke 20, setelah produk rasional dan empiric melahirkan sekularisme yang mekanistik mengenai realitas, dan ketika sama sekali tidak ada tempat bagi ruh atau nilai dalam pengetahuan manusia. Realitas diredul< proses, waktu menjadi kuantitas dan sejarah menjadi suatu proses entelekhi tansenden. Pengetahuan yang dihasilkan dunia Barat kontemporer menjadi salah satu tantangan yang berat karena tercerabut dari akar dan kehilangan tujuan yang hakiki.

Berbeda dengan intuisi, wahyu adalah pengetahuan yang didapati manusia melalui “pemberian” Tuhan secara langsung kepada hamba-Nya yang terpilih yang disebut Nabi dan Rasul. Agama menjadi kata kunci dalam wahyu. Ia memberi tahu mengenai kehidupan manusia saat ini dan proses eskatilogik yang akan diarungi manusia setelah kehidupannya di dunia. Agama menerangkan kepada manusia tentang sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau maupun yang tidak terjangkau oleh manusia. Agama bahkan dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus menjadi sumber keyakinan. manusia. Agama bisa menjadi informasi dan konfirmasi terhadap ilmu pengetahuan yang didapapti manusia.

Edward O. Wilson berpendapat bahwa agar nilai penting dalam kehidupan umat manusia. Kebe di anggapnya bersifat tetap dan sulit untuk dika apapun. Wilson dalam hal ini menyatakan:

“Agama akan bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Ia akan menjadi suatu daya hidup bagi masyarakat. Agama bagi manusia, ibarat raksasa Anteus yang mendapat tenaga dari ibunya, yaitu bumi. Agama tidak dapat dikalahkan oleh mereka yang rnembuangnya. Kelemahan spiritual naturalisme adalah akibat tidak adanya sumber daya perdana yang sama spritualnya. Kendati mampu menjelaskan sumber- sumber biologis kekuatan emosional agama, sains dan filsafat, dalam perkembangannya tidak dapat memapfaatkan sumber- sumber tersebut. Teori evolusi yang menolak kehidupan setelah mati, hanya mampu ditunjukkan secara eksistensial bagi manusia. Penganut faham humanisme, tidak akan pernah dapat merasakan kenikmatan dan kesenangan sejati tanpa pertobatan spiritual dan ketaqwaan. Sejujurnya, ilmuwan tidak dapat berfungsi sebagai pendeta atau ulama”. (Donald B. Caine, 2004)

Stephen R. Covey (1997) menyebut bahwa, agama terlintas dan berada dalam relung hati dan perilaku keseharian manusia. Jadi menurutnya sekalipun manusia modern secara teoretik menolak agama, tetapi agak sulit untuk meyakinkan bahwa agama tidak dipakai manusia. Ia menyebut bahwa agama akan menuntun orang kepada perilaku positif dan menuntun manusia untuk bersatu dengan tTuhan yang Qudus. Agama akan menjadi sikap pandang dan keinginan untuk bersatu dengan wujud-Nya. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...