Sunan Ampel, Pemimpin Para Auliya

0 57

IDEALISME  Sunan Ampel dalam mendakwahkan agama Islam benar-benar menjaga agar Islam tak tercampuri dengan adat-istiadat yang tak diajarkan dalam Islam. Dalam suatu musyawarah para wali, Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat Jawa, seperti slametan, bersaji, dan sebagainya dimasuki rasa keislaman, maka Sunan Ampel pun bertanya, “Apakah tidak menghawatirkan di kemudian hari,  adat istiadat upacara lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam,sebab kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadi bidah ?”

Pertanyaan  Sunan Ampelm dijawab oleh Sunan Kudus,”Saya setuju pendapat Sunan Kalijaga, sebab menurut pelajaran agama Budha itu ada persamaannya dengan ajaran Islam, yaitu orang kaya harus menolong fakir miskin. Adapun mengenai kekhawatiran Tuan, saya mempunyai keyakinan, bahwa di kemudian hari akan ada orang Islam yang akan menyempurnakannya.” (Syamsu, 1996).

Kehebatan Raden Rahmat, dikisahkan pramucarita  Masduki Sarpin (Mei 1985), konon di suatu hari selagi Raden Rahmat berjalan di pesisir utara, beliau melihat seorang wanita yang sedang menangis memelas. Wanita itu mengatakan, suaminya yang baru saja menikahinya tiga hari lalu diculik oleh beberapa orang tak dikenal dengan tanpa kemanusiaan. Mendengar itu Raden Rahmat segera berlalu dari tempat tersebutdan melepas sorbannya sambil berdoa kepada Allah swt semoga wanita malang itu malang itu dikurangikesedihannya.

Beberapa detik kemudian setelah Raden Rahmat membaca doa,tiba-tiba sorbannya yang dilepas tadi menjelma menjadi suami wanita (hanya sementara). Selanjutnya Raden Rahmat mencari para penculiknya untuk disadarkan. Raden rahmat dalam berdakwah menyamar sebagai pendeta Hindu. Puluhan tahun melalui penyamarannya secara pelahan ia berhasil mengembangkan agama Islam ke seluruh negeri Majapahit. Dengan keberhasilannya itu Raden Rahmat membangun sebuah masjid Agung di Pedukuhan Ampel lengkap dengan pesantrennya yang banyak dikunjungi orang dari berbagai daerah, sehingga akhirnya Raden Rahmat (Sayid Ahmad Rahmatullah) dikenal dengan nama Sunan Ampel. Hingga kini makamnya berada di daerah Ampel Surabaya Jawa Timur.

Siapa Raden Rahmat.?

ing pasanggamanira ibrahim jainuddin al akbar lawan déwi candrawulan manak tapirang siki/ rwang siki pantaranya yata ali al mustada ngaranira/ mwang ali rahmatullah ngaranira//ali al mustada tekéng  jawadwipa sinebut tubagus ngalimin i sedeng rayinira ali rahmatullah sinebut tubagus rahmat athawa susuhunan ampél/ ikang sayuktinya sakwéhing sang kamastwing athawa (sine)but wali/ kumwa juga sunan la(wa)n dang  acaryāgaméslam ri nusa-nu(sa)  i bhumi nusāntara mwang (na)gari  yatiku hujung mendini/ campa/ kamboja/ bharata nagari/parsi/ (atha)wa sakéng masarik tekaning magribi mwang lénya wanéh/ hana ta putropādananing rasul muhammad

Dari pernikahannya, Ibrahim Jainuddin al Akbar dengan Dewi Candrawulan lahirlah beberapa orang anak. Dua orang di antaranya yaitu Ali al Mustada namanya, dan Ali Rahmatullah namanya. Ali al Mustada datang ke  pulau Jawa disebut Tubagus Ngalimin, sedangkan adiknya, Ali Rahmatullah disebut Tubagus Rahmat atau Sunan Ampel. Sesungguhnya, semua yang digelari atau yang disebut wali termasuk pula sunan dengan para pemuka agama Islam di pulau-pulau di bumi Nusantara dan negeri-negeri ladin di Hujung Mendini, Campa, Kamboja, negeri India, Parsi) atau dari timur sampai ke barat serta yang lainnya lagi, adalah keturunan Rasul Muhammad. (Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara I-2)

Dalam kitab Pustaka Negarakrthabumi (1670), disebutkan Ali Rakhmatullah itu (oleh) orang Jawa disebut Susuhunan Ampel Dentha. Yaitu pemimpin seluruh para aulia di Pulau Jawa. Susuhunan Ampel Dentha selanjutnya berputra Makdum Ibrahim yang disebut Susuhunan Bonang. Adiknya itu namanya Syeh Munat (yang) disebut Susuhunan Drajat,  yaitu anak Susuhunan Ampel Dentha yang dari Negeri Cempa.

Setelah dua tahun Ki Syariph berguru, selanjutnya pergilah beliau ke Pulau Jawa, berhenti di Negeri Banten. Di sini masyarakat banyak yang sudah memeluk agama Islam. Sebab tugasnya Sayid Rahmat,  Ali Rahmatullah namanya lagi, itu wali di Ampel Ghading ialah disebut Sunan Ampel saudaranya juga. Oleh karena itu Sayid Kamil pergi ke Ampel dengan perahu orang Jawa Timur, sementara itu para wali di Pulau Jawa semuanya ada di sana. Mereka masing-masing  diberi tugas mengajarkan agama Islam kepada penduduk di wilayahnya yang menganut Siwabudha. Sementara itu Sayid Kamil mendapat tugas di Gunung Sembung, di sana bersama uwanya ialah Haji Abdullah Iman.

Dalam perjalanannya itu, Dipati Keling dengan tentaranya sebanyak sembilan puluh delapan ikut dengan Ki Syariph, sebab masuk Islam semua di Gunung Sembung. Ki Syariph disebut (juga) Maulana Jati atau Syeh  Jati, selanjutnya  membuat pondok, tidak lama antaranya masyarakat banyak yang berguru, datang kepadanya. (ibid,  Wangsakerta, 1670). *** Nurdin M. Noerwartawan senior, pemerhati kebuadayaan lokal.

Sumber pustaka :

  • Sarpin, Masduki (Pikiran Rakyat edisi Cirebon, Mei 1985)
  • Syamsu, Muhammad As Ulama Pembawa Islam di Indonesia, Lentera, 1996).
  • Wangsakerta, Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara I-2 dan Pustaka Negarakrthabumi (1670).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.