Sunan Kalijaga, Tokoh Syiah di Jawa

2 497

MASA awal Islam yang dicirikan dengan adanya berbagai mazhab yang dianut para  sunan, tidak membuat saling tuding  dengan fitnah yang  keji. Mereka hidup damai seiring  sejalan dalam berdakwah Islamyiah. Kecuali itu penganut Syiah terkemuka Syekh Siti Jenar (Baca: Sang Guru Kejawen Syekh Siti Jenar) yang hendak merebut kekuasaan politik dari Sunan  Gunung Jati. Kemudian ia ditangkap dan diadili serta dihukum mati oleh Sunan Kudus dengan keris Kaki Kantanaga (Sulendraningrat, Babad Cirebon). Para santrinya kemudian digiring ke satu tempat bernama “Kesunean” (sebelah timur Keraton Kasepuhan, saat ini). Mereka dicuci otaknya dan diberi amnesti (pengampunan) di Kampung Pengampon. Menurut filolog Oppan Raffan Hasyim, nama Kesunean beraawal dari kata “kesunyian”,  sedangkan Pengampon berarti “pengampunan”.

Sedengīra sunan khalijaga kawitan nira manganut hanapi tumuluy şyiah ri hu-wus şira syéh lemahabang angemasşisisya nira sunan khalijaga akwéh īng jawa wétan mwang jawa kulwan pirang siki pantaran nira ya ta kyagheng pamanahhan kya gheng séla yata ki juru martani ngaran nira wanéh pangéran trenggono sutawijaya.

(Sedangkan Sunan Khalijaga pada mulanya menganut Hanapi, kemudian Syiah setelah Syekh Lemahabang meninggal dunia.Murid Sunan Khalijaga banyak di Jawa Timur, dan Jawa Baratbeberapa orang, di antaranya yaitu Ky Agheng Pamanahhan, Ky  Agheng Sela yaituKi Juru Martani namanya yang lain, Pangeran Trenggono, Sutawijaya.)

– Dari Kitab Negara Kertabhumi tulisan Pangeran Wangsakerta (1670) –

simbol Macan Ali
Doc: M Noer

hana pwa jaka tingkir anak[k]ira ki kebo kenanga bupati pengging  ikang nguni pinejah[h]an dé nira sunan kudus  i sedeng ki kebo kenanga hana ta sisya nira syéh lemah abang  juga syéh lemah abang pinejah[h]an dé nira sunan kudus  apan inajuan dénira sultan demak radén patah  kālāntara ri kala radén tranggono dumadi sultan demak  adiwijaya ya ta jaka tingkir ngaran nira dumadi sénapati  wadyabala demak  mwang makastri lawan putri nira sultan tranggono  ri huwus arya penangsang pejah  adiwijaya amagehi rājya demak.

makaratu jawa wétan  tumuluy pengging dumadi kithāgheng mwang gumanti ngaran pajang  i sedeng putra ning kyagheng pemanah[h]an ya ta sutawijaya ngaran nira duma dyaken arpākanāk déning sultan pajang adiwijaya  mwang sira kyagheng pemanah[h]an dumadyaken bupati mataram  ri sāmpunnya arya penangsang kaparajaya dénnira pangéran adiwijaya  witan ikang pajang lawan Cirebon mitranan  mapan pajang males[s]aken lara twas sira sunan jati  parāmatya  kulawānda nira sunan Cirebon  para nayama ndala mwang janapada rat sundabhumi.

Adapun Jaka Tingkir anaknya Ki Kebo Kenanga Bupati Pengging, yang dahulu dibunuh oleh Sunan Kudus.  Sedangkan Ki Kebo Kenanga adalah muridnya Syekh Lemah Abang, juga Syekh Lemah Abang dibunuh oleh Sunan Kudus disetujui oleh Sultan Demak Raden Patah. Pada waktu Raden Tranggono menjadi Sultan Demak, Adiwijaya yaitu Jaka Tingkir namanya menjadi senapati balatentara Demak, serta menikah dengan putri Sultan Tranggono. Setelah Arya Penangsang meninggal, Adiwijaya memerintah Kerajaan Demak, menjadi ratu (di) Jawa Timur, selanjutnya Pengging menjadi ibukota serta berganti nama (menjadi) Pajang.

Sedangkan putra Ki Ageng Pamanahan, yaitu Sutawijaya namanya dijadikan anak angkat oleh Sultan Pajang Adiwijaya, serta Ki Ageng Pamanahan dijadikan Bupati Mataram. Setelahnya Arya Penangsang kalah oleh Pangeran Adiwijaya, mulailah Pajang bersahabat dengan Cirebon, sebab Pajang membalaskan sakit hatinya Sunan Jati, para pembesar, keluaraga Sunan Cirebon, para pemimpin wilayah serta masyarakat bumi Sunda.

Dalam Kitab Negarakretabhumi (1670). Disebutkan, Sunan Kalijaga merupakan salah seorang tokoh penganut Syiah yang bisa berjalan beriringan dengan Sunan Gunung Jati. Dengan  para sunan lainnya dalam menyebarkan agama Islam. Tak ada konflik antarkeduanya. Sedangkan penganut Syiah sebelumnya Syekh Lemahabang (Siti Jenar). Harus dihukum mati, karena ia bersama pengikutnya hendak melakukan kudeta terhadap Sultan Demak. Ia ditangkap  di daerah Cirebon Girang. Lalu diadili di Masjid Agung Sang Ciptarasa dan diputus bersalah oleh majelis hakim dan dihukum mati melalui eksekusi Sunan Giri di alun-alun Kasepuhan.

Dalam berdakwah,Sunan Kalijaga berbeda dengan Sunan Giri. Menurut pendapatnya, menyampaikan ajaran  Islam perlu disesuaikan dengan keadaan setempat. Sedikit demi sedikit, Kepercayaan, adat istiadat dan kebudayaan lama tidak harus dihapuskan tetapi diisi dengan unsur keislaman. Sunan Giri sebaliknya berpendapat,bahwa Islam harus disampaikan menurut aslinya. Kepercayaan lama harus diberanttas, demikian pula adat istiadatserta kebudayaan lamayangtak sesaui dengan kebudayaan Islam (Ensiklopedia Islam Indonesia, 2002).

Simbol “Macan Ali” merupakan karakter dari tradisi Syiah

SIMBOL “Macan Ali” ditafsirkan sebagai peradaban Syiah di Cirebon
– SIMBOL “Macan Ali” ditafsirkan sebagai peradaban Syiah di Cirebon –

Sunan Kalijaga (Baca:Awal Kerajaan Cirebon ) memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam. Sunan Kalijagalah yang menggagas peringatan maulid di keraton-keraton Jawa (Cirebon. Pajang dan Demak),  pengaruhnya hingga pada tradisi mauled pada Mataram (Islam). Simbol “Macan Ali” merupakan karakter dari tradisi Syiah yang  pernah berkembang di Cirebon. Namanya “Macan Ali” dengan simbol dua pedang yang bersilang yang menunjukkan karakter sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib. Seorang ahlul bait yang dianggap sebagai leluhur Syiah. Tradisi-tradisi lainnya yang berkaitan dengan mazhab Syiah. Diantaranya peringatan khaul  dan 1 Asyura yang masih dilakukan dan dihormati masyarakat Cirebon.

“Macan Ali” memang pernah menjadi lambang kebesaran dan kejayaan masa lalu bagi Nagari Caruban. Suatu kerajaan yang dibangun Syekh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal sebagai Sunan Gunungjati pada awal abad 15. Hingga kini masih menyisakan warisan tiga keraton yang masih utuh, yakni Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan. Wallahualam. *** Nurdin M.Noer 

  1. Ihfandi berkata

    Kematian Syech Siti Jenar masih abu-abu ( tentang kematian yang bersingungan langsung dengan keyakinan ataukah sebuag politik semata) dan dalam beberapa versi yang saya baca, terdapat beberapa perbedaan.

    Bisa di tambah lagi bila perlu untuk meningkatkan kualitas dan pengalaman pembaca.
    Terimakasih.

  2. lyceum
    lyceum berkata

    Tampaknya perlu banyak alasan atas berbagai tragedi pembunuhan yang dilakukan para ahli agama (baca para wali) Indonesia dalam menyebarkan Islam. Salah satunya, menurut saya adalah asumsi sesat atas apa yang dilakukan para pemangku kebijakan. Betulkah murni atas nalar agama, atau ada unsur lain yang bersipat politis. Inilah tampaknya yang perlu direnungi ulang

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.