Sunda Wiwitan dan Puncak Ketuhanan

0 411

Agak rancu memang, ketika kita mengamati munculnya Sunda Wiwitan yang eksis jauh hari sebelum Hindu-Budha datang ke Nusantara. Dengan munculnya Kitab Sanghyang Siksakanda ng Karesian yang ditulis pada Nora Catur Sagara 0-4-4-1 atau tahun 1440 Saka yang diperkirakan sama dengan tahun 1518 Masehi. Kerancuan dimaksud terletak pada munculnya ajaran dengan terbitnya buku pedoman Sunda Wiwitan.

Jika rujukan tahun lahirnya ajaran ini pada kisaran tahun dimaksud. Maka, berarti sistem Ajaran tersebut lahir jauh sesudah ajaran dan praktik Sunda Wiwitan ini eksis. Kita tahu bahwa ajaran animis dan dinamis jauh hari sebelum agama Hindu-Budha berkembang di Nusantara. Ia menjadi ajaran pertama dan utama masyarakat dunia, termasuk masyarakat Nusantara. Namun demikian, kitab ini dipandang penting. sebab bisa jadi, ajaran Sunda Wiwitan sebenarnya memang sudah ada sejak lama, namun proses pembukuannya baru dilakukan pada tahun dimaksud. Sebelumnya, ajaran ini sangat mungkin hanya berkembang dari mulut ke mulut dan dipraktikkan secara ketata dalam bentuk perilaku.

Buku yang menyimpan kitab ini, disebut Kropak 630 dalam Perpustakaan Nasional Indonesia. System ajaran dan kepercayaan yang tertuang dalam Kitab Sanghyang Siksakanda ng Karesian ini, kini telah menjadi penting untuk dibaca para penganutnya. Pengikut system ajaran dimaksud, hari ini terletak di Kanekes dan Ciptagelar-Banten, Cisolok di Sukabumi, Kampung Naga di Tasikmalaya dan Cigugur di Kuningan.

Sunda Wiwitan Kombinasi Berbagai Ajaran Agama Indonesia

Dengan pembukuan ajaran Sunda Wiwitan pada tahun di atas, membuat kita tidak harus heran jika ada yang menyebut bahwa, dalam system ajaran Sunda Wiwitan, tampak terjadi kombinasi berbagai ajaran agama Indonesia. Dalam kitab ini, ajaran agama Hindu-Budha, Islam dan bahkan Kristen tampak memiliki anasir-anasir yang sama. Hanya yang sedikit menarik dan tampaknya penting untuk manusia modern sekarang ini adalah karakternya yang demikian ramah terhadap apa yang disebut dengan alam. Ajaran ini menjadi demikian naturalism dengan menempatkan alam sebagai puncak dan pusat simetrik kemanusiaan.

Terhadap penyebutan Sunda Wiwitan sendiri, ternyata banyak istilah yang disandingkan dengannya. Misalnya ada yang menyebut dengan Jati Sunda, meski tidak sedikit yang menyebutnya dengan ajaran pertama ketuhanan manusia pertama.

Apa isi Kitab Sanghyang ng Karesian ini? Secara singkat ajaran ini berisi tentang pendidikan yang memberi aturan dan tuntunan moral kepada para penganutnya. Lalu, tentang bagaimana cara mereka dapat tumbuh menjadi resi (bijaksana atau suci) dengan menempatkan wujud yang bersemayam dalam Buana Nyungcung. Yang mereka sebut dengan istilah Sang Hyang (Yang Maha Kuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Maha Menghendaki), Batara Jagad (Penguasa Alam) dan Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib). Dan bagaimana mereka melaksanakan hidup secara simetri dengan sesama manusia.  Tentu yang paling penting adalah hubungan simetris manusia dengan alam. Prof Dr. H. Cecep Sumarna


Tulisan berikut akan mengulas ajaran Sunda Wiwitan tentang Simetri Alam

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.