Take a fresh look at your lifestyle.

Superioritas Imam Ali dan Lahirnya Syi’isme dalam Islam

0 73

Syi’isme adalah aliran theologi paling tua dalam sejarah dan peradaban Islam. Mereka sering mengatasnamakan dirinya sebagai pecinta ahlul bayt. Suatu istilah spesial karena kecenderungan mereka yang “mengkultuskan” keluarga Nabi dalam posisinya sebagai kepala agama dan kepala pemerintahan.

Mereka memandang bahwa kualitas dan kebajikan pribadi Ali, adalah warisan yang sulit ditandingi. Posisinya selalu ditempatkan dalam tempat yang unik. Hal ini tentu menguntungkan atas anggota keluarga dan para sahabat Nabi Muhammad yang lain. Posisi ini pula yang mendatangkan kepadanya [Ali], kelompok teman yang taat dengan semangat tenggang rasa yang luar biasa setia.

Posisi Ali yang demikian, dicatat para pecintanya sudah ada bahkan sejak Nabi Muhammad masih hidup. Itu pula yang menyebabkan kelompok ini mengklaim bahwa syi’isme telah ada sejak zaman Nabi Muhammad masih hidup.  Hal ini juga diakui para heresiographer paling awal, saat al As’ary dan An Naubakhti, menyatakan dengan jelas bahwa syi’isme -dalam pengertian penghormatan dan apresiasi, khusus terhadap jasa-jasa pribadi Ali– telah timbul di masa Nabi Muhmmad masih hidup.

Selain itu, ide kualifikasi superioritas Ali untuk jabatan khilafah dikuatkan dengan serangkaian peristiwa yang terjadi semasa hidup Rasul. Beliau dalam anggapan mereka telah memperlihatkan perhatian khusus kepada Ali. Sebagian perhatian itu ditujukan sebagai bentuk ilustrasi seputar pertumbuhan Ali dalam prestige dan kemurahan hatinya sebagai penerus Nabi.

Beberapa Alasan Teologis Superioritas Ali

Terdapat banyak alasan untuk menempatkan Ali sebagai sosok yang memiliki superioritas lebih. Hal ini, secara sosiologis memungkinkan siapapun, untuk menempatkannya dalam posisi yang strategis. beberapa alasan dimaksud adalah sebagai berikut:

Pengikut Keluarga yang Paling Awal

Sejak awal missinya, ketika ayat, “Berilah peringatan kepada kerabat-kerabat terdekat, 26: 214 diwahyukan [kira-kira tiga tahun setelah wahyu Nabi Muhammad pertama, setelah Khalifah, Ali, dan Abu Bakar masuk Islam], Nabi mengumpulkan seluruh anggota keluarga Banu Abdul Muthalib dan mengabarkan kepada mereka tentang missinya dalam menjalankan tugasnya, ia meminta dukungan dan bantuan dalam memajukan tugas itu. Bukannya pertolongan, Nabi justru menerima cemooahan; kekecualian satu-satunya adalah Ali yang, meskipun ia baru berusia tiga belas tahun, ia memberi dukungan antusiasnya kepada karasulan Muhammad.

Persaudaran Religius dengan Nabi

Prereogratif persaudaraan religius antara Ali dan Muhammad, yang telah dikemukakan di atas, harus digarisbawahi dalam rangkaian event ini. Nabi mengangkat Ali sebagai saudaranya dalam iman [ukhuwah] baik sebelum map;un sesudah hijrah [Medinah]. Inilah fakta historis yang demikian mencolok sehingga tidak satupun sejarawan yang menolak. Kedudukan Ali hanya dapat diangkat di mata para sahabat ketika ia ditunjuk Muhammad sebagai pembawa panji baik di Badr maupun khaibar dan dalam peperangan lainnya.

Sahabat Kepercayaan Nabi

Penunjukkan Ali oleh Rasul sebagai wakilnya di Medinah sewaktu ekspedisi ke Tabuk, adalah catatan penting lain untuk daftar pujian lain kepada Ali. Dalam kesempatan inilah, hadits masyhur meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad berkata kepada Ali: “

Engkau bagiku seperti Harun bagi Musa. Hanya saja tak ada Nabi selain aku”. Hadits yang berkait dengan peristiwa Tabuk ini, telah dicatat hampir seluruh sejarawan dan Ahli hadits. Ketika kita melihat bahwa Muhammad mengacu pribadi dan missinya pada banyak keserupaan pada dengan Nabi-nabi besar lain di masa lampau, kita tak sulit menerima hadits ini.

Dalam suatu dari beberapa bagian al Qur’an menyangkut subjek ini, Musa memohon kepada Tuhan: “Dan jadikanlah untukku pembantu dari seorang saudaraku, [yakni] Harun. Saudaraku, teguhkan dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku” [20: 29-32] Pembanding Muhammad sekitar dirinya dengan Musa akan tidak komplet tanpa Harun; dan jelas tidak ada orang lain dalam keluarganya kecuali Ali yang dapat melayaninya sebagai Harun.

Pembawa Ayat

Lalu peristiwa sangat penting lain adalah pengumuman surat al Bara’ah [9: 19]. Di tahun ke 9 Hijriyah, Rasul mengirim Abu Bakar untuk memimpin rombongan yang akan menunaikan ibadah haji. Setelah Abu Bakar bertolak ke Mekkah, surat al Bara’ah diwahyukan kepada Rasul, untuk diumumkan kepada masyarakat, khususnya kepada kaum kafir.

Ketika jama’ah betanya kepada Rasul, apakah beliau akan mengamanatkan penyampaian surat itu kepada Abu Bakar untuk disampaikan atas namanya? Rasul menjawab:

“Tidak, aku tidak akan mengirim kepada siapapun kecuali kepada keluargaku [rajulun min ahli bayti]”. Lalu Nabi memanggil Ali dan menyuruh mengambil untanya dan langsung ke Mekkah agar menyampaikan pesan al Qur;an kepada Jama’aah atas namanya.

Dengan nalar-nalar tadi, sesungguhnya tidak terlalu rumit bagi kita untuk memahami, mengapa sebagian besar di antara para pengikut syi’ah dimaksud, begitu kuat kecenderungannya atas ahlul bayt. Bagi kita sendiri, sulit memang memahami mengapa di kalangan Islam awal sendiri, persoalan pergolakan politik dalam Islam, soal politik Islam, soal pergantian khalifah ini, menyisakan masalah. Masalah yang terus terwariskan sampai sekarang ini, yang menyebabkan salah satunya, umat Islam sulit dipersatukan.

Bahan Bacaan

Tulisan ini, disadur dari S.H.M. Jafri. Origin and Early Developement of Shi’a Islam. New York: Longman, 1979. Terj. Meth Kieraha. Awal dan Sejarah Perkembangan islam Syi’ah: Dari Syaqifah sampai Imamah. Jakarta: Pustaka, 1989

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar