Suranggajaya Sang Adipati Yang Terlupakan Zaman

0 221

Melihat pesona Kabupaten Kuningan memang sudah tak di ragukan lagi sajian alam yang di persembahkanya. Daerah yang dingin, asri dan bersih ini jauh dari polusi udara seperti di ibukota. Masyrakat yang ramah tamah dan budaya lokal yang terjaga sangat pantas mengapresiasi Kabupaten Kuningan menjadi daerah yang tergolong benar-benar alami. Dari beberapa fenomena dan nama-nama dalam penyebutan jalan, gedung dan symbol-simbol terdahulu pun masih selalu di abadikan.

Namun, di balik itu semua, penulis ingin membahas satu bentuk ke prihatinan masyrakat Kuningan. Yang belum tau benar tentang sejarah terkait tokoh-tokoh yang ada di Kuningan. Yang lebih disayangkan adalah dalam dunia pendidikan, di sekolah  tidak terdapat pelajaran atau muatan lokal tentang sejarah kuningan. Selain itu juga pelajaran IPS  pun tidak dapat di selipkan tentang sejarah Kuningan. Jadi karena hal inilah, dalam rangka menjaga sejarah sudah menjadi kewajiban bagi semua masyrakat Kuningan untuk tetap melestarikan sejarah tersebut kepada anak dan cucu nanti.

Penulis ingin menganalisis tentang nama tokoh SURANGGAJAYA. Tokoh yang kalah terkenal oleh nama Arya kamuning dan Dipati Ewangga. karena bila dilhat dari sisi pengabadian di muka publik seperti nama jalan dan gedung megah kab. kuningan. Lain halnya dengan nama Suranggajaya yang hampir masyrakat tidak tau bahkan tidak di kenal atau mungkin belum di kenal ??

Suranggajaya Sang Adipati Tidak di Kenal Masyarakat Kuningan

Dalam data sejarah kuningan, kedudukan Suranggajaya justru lebih ‘’unggul’’ dari arya kemuning dan adipati ewangga.  Karena Suranggajaya itulah yang mendapat julukan Sang Adipati Kuningan Tempo Dulu (abad XV-XVI). Menurut sejarah juga bahwa arya kemuning sebagai kepala Pedukuhan Winduherang yang mengasuh Suranggajaya yang di titipkan Sunan Gunung Jati kepadanya sedangkan dipati Ewangga sebagai Senopati atau panglima perang yang di pimpiin oleh sang Adipati Kuningan atau Suranggajaya.

Ada bebrapa tokoh sejarah di kuningan yang sudah di abadikan namanya menjadi nama jalan yang mewakili zaman madya. Misalnya,  Langlangbuana ( diabadikan nama jalan di perempatan Citamba Kota Kuningan ke Sebelah Timur), Selawati ( nama jalan sebelah Barat masjid Syiarul Islam), Arya Kemuning (diabadikan di seputar jalan kota dan gelanggang), Dipati Ewangga ( nama gedung olah raga pendopo Kabupaten Kuningan), Syekh Maulana Akbar (nama jalan perempatan Citamba ke sebelah Barat), Ramajaksa (nama jalan di Winduherang).

Sementara nama tokoh bersejarah di Kuningan yang belum diabadikan namanya,  yang berasal dari tokoh sejarah zaman kuna dan madya adalah: Wiragati (Sang Pandawa), Sang Wulan, Sang Tumanggal, Demunawan/Seuweukarma/Ranghyangtang Kuku, Cakrawati (ayahnya Langlangbuana), Mayangsari & Mayangkuning (putrinya Langlangbuana & Ibundanya Selawati cs), Jayaraksa (Ki Gedeng Luragung), Nyi Ageng Larasati (istrinya Jayaraksa), Selawiyana & Dipawiyana (putranya Arya Kamuning), Suranggajaya (Sang Adipati Kuningan), Syekh Maulana Arifin (putranya Sy M. Akbar), Kencanawati (putrinya Sy M. Arifin + Selawati, juga istrinya Suranggajaya), Kusumajaya (Geusan Ulun Kuningan), dst (para putranya Geusan Ulun Kng)

Jadi mengaa di zaman modern ini nama suranggajaya tenggelam dengan nama-nama yang sudah kental di msyrakat. Maka, di pandang perlu untuk mensosialisakikan kembali kepada public atau masyrakat kuningan agar nama besar suranggajaya dapat di kenal. Dalam hal ini yang paling berkopetensi adalah pemerintah setampat mudah-mudahan dapat di apresiasikan.***Apandi Galapagos


Rujukan : Blog Sejarah Kuningan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.