“Cintaku Pilihan Tuhan” Suratan Tuhan Dalam Pucuk Surat Cinta Part-2

0 44

Pertemuan dan perkenalan Rizal dengan sarah di acara pernikahan Fani membawa rizal pada dunia yang lain, dunia cinta yang sebelumnya memang hampa setelah fani menikah dengan orang lain. Kehampaan yang terobati karena pertemuan itu dan kata kata sarah yang membuat Rizal merasa Sarah lah pengobat dan penawar hati yang sebenarnya Tuhan beri saat itu. Rizal yang cukup senang dengan cara Sarah mengatakan tentang hal-hal yang menurut Rizal menarik. apalagi saat sarah menjawab pertanyaan Rizal tentang Tuhan, Manusia dan Cinta (Baca di Part-1) Rizal tersenyum, dan berniat untuk melamarnya esok Lusa dan niat itu diutarakanya pada Sarah di pertemuan itu. Sarah hanya tersenyum itulah jawaban satu-satunya dari gadis yang begitu anggun dan cerdas di mata Rizal.

Namun beberapa hari, setelah pertemuan dan perkenalan Rizal dengan Fani. Sarah mengirim surat untuk Rizal, sebuah surat yang menjawab apa yang diutrakan Rizal tempo hari…

“Assalamu’alaikum, Rizal..

“Aku mengenalmu melalui saudaraku, Fani. Kita berteman baik bukan? Kita sama-sama seperti burung yang terbang tinggi mencari tempat berpulang. Namun Rizal, janganlah putus asa. Mungkin Allah ingin kau lebih bersabar lagi menunggu ketentuannya. Tak ada niatpun untuk melukai keinginanmu. Aku hanya ingin memilih yang terbaik.”

Karena pernikahan bukanlah perkara yang kecil, bukan hanya mengucap ijab qabul di depan penghulu dan dua orang saksi, tapi bagaimana dan bersama siapa kita akan menjalani kehidupan yang baru. Aku sudah lama memendam ini, ada satu lelaki yang selama 2 tahun selalu aku ceritakan padaNya, ialah Fandi.

Maaf jika aku harus menuliskan ini.

Salam, sarah. “

Tidak ada kecewa di hati Rizal, karena sejatinya perempuan berhak memutuskan pilihannya. Saat itu Rizal bak Salman al-Farisi yang melamar seorang gadis, namun gadis itu memutuskan memilih sahabatnya, Abu Darda’. Membahas tentang jodoh adalah sebuah teka-teki yang sulit untuk menebaknya. Perjalanan untuk menjemputnya bukan perkara yang mudah, penuh abu-abu. Begitupun dengan perjalanan menjemput sepasang tulang rusuk milik Rizal.

Ialah Fani, perempuan yang sangat ia harapkan untuk menemani hidupnya, sekarang telah dibahagiakan oleh lelaki yang Allah pilihkan. Ialah Sarah, gadis penyuka warna merah marun dan keyakinan tauhidnya telah memikat hati Rizal untuk melamarnya, namun lagi-lagi Allah belum berkehendak. Sarah mencintai Fandi, sahabat kecil Rizal.

Selalu ada cara Allah untuk menunjukkan kebesaranNya, kita hanya perlu mengikhlaskan dan belajar menerima ketentuanNya. Seperti halnya Rizal, anak ketiga dari seorang Kiyai pondok pesantren ternama di Jawa. lulusan dari Berlin ini, untuk saat ini memutuskan untuk mengabdi pada pondok ayahnya. Walau ibunya ingin segera Rizal menikah.

“iya bu, suatu nanti akan Allah kirimkan untukku.” Begitu Rizal menenangkan ibunya. Saat bunda tercintanya menanyakan siapa wanita yang ada di hatinya, yang diharapkan ibunya mendampingi Hidupnya. Akhirnya Rizal mengabdi pada pondok ayahnya, mengajar santriah yang duduk di kelas 1 Madrasah Aliyah. Setiap hari selalu disibukkan dengan rutinitas kegiatan pondok yang begitu padat.

Hari itu, jatuh hati pun kembali hadir setelah beberapa yang lalu gagal. Salah satu santriah akhir, Ainun namanya. Santriah akhir penyuka Drumb Band dan sangat aktif dalam kegiatan pramuka ini telah mengalihkan pandangan Rizal dari masa lalu yang begitu rumit. Mereka tak sering bertemu, bahkan saat itu mereka belum bertukar nama.

Sore itu, Rizal tengah berdiri dibalik jendela kamar, melihat Ainun yang sedang meminta tanda tangan pada sang ayah.

“Dor.. Hayo lagi ngapain ka?
Rizal dikagetkan oleh adiknya, Gina.

” Astagfirullah, bikin kaget aja”. Tegur Rizal. Kaka lagi liat ayah aja, kayanya beliau kurusan deh ” tambah rizal.

” Ah, suka mengalihkan pembicaraan gitu, malah sekarang kiloan ayah naik loh”
Jawab Gina dengan tertawa kecil

“Oh gitu ya, yaudah mungkin salah perkiraan kaka”
Lanjut Rizal dengan beranjak pergi meninggalkan Gina.

“Liat ayah atau liat santriah nya tuh?”
Teriak Gina, mengagetkan Rizal.

“Apa sih Gina, so tau nya tinggi. Engga lah, namanya aja kaka gatau”
Rizal menenangkan

“Namanya Ainun, temen satu kelas, satu kamar, satu bagian aku juga”

“Oh gitu ya.. “
Jawab singkat Rizal sembari meninggalkan Gina.

Setelah Rizal mengetahui namanya, mereka sering bertemu dalam suatu acara besar pondok, tak jarang mereka saling pandang namun tak berani menyapa. Suatu sore, dengan jingga yang pekat ditemani secangkir kopi hangat dan kitab Shaidul Khatir yang tengah Rizal baca di ruang tamu.

Tok.. Tok.. Tok..
“Assalamualaikum.. “
Suara lembut dari seorang perempuan berjilbab putih bergamis biru dongker tengah berdiri didepan pintu memegang map merah.

“Wa’alaikum salam..”
Jawab Rizal yang langsung berdiri membukakan pintu.
Tak terduga, hati pun bergetar seraya ingin meledak.

“Afwan, ka.. Saya Ainun santriah akhir bagian sekretaris, saya ingin meminta tanda tangan Abi untuk berlangsungnya acara milad pondok lusa nanti”

“Oh, Abinya sedang pergi, mungkin insyaallah nanti malam pulang, de”
Jawab Rizal.

“Mmm.. Ya sudah kak, saya pergi dulu. Syukran. Assalamualaikum.. “

“Wa’alaikum salam”

Namun setelah itu, mereka jarang sekali bertemu, masing-masing mempunyai kesibukan yang berbeda-beda. Ditengah kesibukan nya mengajar kelas 1 aliyah, Rizal di amanatkan ayahnya untuk mengajar di salah satu pondok pesantren luar Jawa. Rizal pun mengiyakan amanah tersebut. Sebelum pergi, Rizal ingin bertemu dengan Ainun, untuk menyepakati suatu hal. (Bersambung)***Navisa Aulia

Komentar
Memuat...