Inspirasi Tanpa Batas

Suratan Tuhan Dalam Pucuk Surat Cinta | Cerpen Lyceum Indonesia

0 69

Suratan Tuhan Dalam Pucuk Surat Cinta | Cerpen Lyceum Indonesia. Tergambar dalam sebuah khayalan dan Teringat dalam sebuah memory. Dua bulan sudah berakhir, Rizal berlibur dari rutinitas kampusnya di Berlin. Sempat sekali bertemu dengan Fani, seseorang yang dia cintai setelah wanita yang bernama Ibu. Mereka bertemu hanya sekedar menanyakan kabar, bertemu di sebuah cafe dekat dengan komplek rumah Fani. Saling bertukar cerita, bertukar rindu yang sedari dulu semu. Bertemu hanya sekali karena Fani seorang aktivis dakwah yang selalu dipanggil ke berbagai daerah.

Saat bertemu, mereka tak ingin ada satu spasi-pun yang membuat mereka terdiam. Saling bertukar rindu yang dulu sangat menunggu kedatangan tamunya. Saat mereka hendak pulang, Rizal memberikan surat dan kerudung yang sempat ia belikan untuk Fani di Berlin. Dua hari setelah bertemu, Rizal ditelpon untuk segera kembali ke Berlin. Tak sempat untuk mengucap selamat tinggal pada Fani, karena ia-pun sedang menjalankan dakwah di daerah Bandung. Selesai dakwah, Fani melihat handphone yang penuh dengan pesan dari Rizal.

“Aku harus kembali ke berlin, maaf belum bisa bertemu lagi”

Begitu kira-kira inti dari isi pesan Rizal. Belum sempat membalas, Fani membaca surat yang sudah dua hari ia diamkan bersama dengan kotak berisikan kerudung pemberian Rizal.

“Assalamu’alaikum, Fani..

Aku harap ketika kau membaca surat ini dengan keadaan sehat dan selalu bahagia. Aku mengenalmu tentunya karena aku sempat memilihmu menjadi teman hidupku kelak. Tak lupa juga selama satu tahun ini aku selalu menceritakanmu padaNya, tentang bagaimana kamu.

Selalu meminta petunjuk yang tak akan melukai aku ataupun hatimu. satu tahun memang bukan waktu yang singkat. Sekarang aku memutuskan untuk kita saling berbenah diri dulu.

Kau tau mengenai sesisi uang logam yang berbeda? Aku pernah memintamu begini dan begitu, memintamu agar seperti yang aku ingin. Betapa egoisnya aku dulu. Tapi, tetaplah begini, dan jangan pernah berubah, tetaplah seperti ini dan jangan berbeda. Maaf, kudiamkan engkau bahkan kutinggalkan engkau dalam satu halaman di buku harianku, yang kutandai dengan pita abu, membiarkanmu tertutup lembar-lembar baruku yang tentu menghimpitmu hingga sesak. Menjadikanmu hanya bagian tertandai yang sewaktu-waktu bisa kubuka hanya untuk kupandangi. Maaf, telah berani menjadikanmu cerita dalam hidupku yang telah lalu. Mungkin ini sebagian jawaban dari do’a Istikharah.

Aku masih selalu tengadahkan do’a agar bahagia selalu berpihak padamu.

Salam, Rizal.”

Hening, terdiam. Fani terus mengulang surat itu, berharap ia salah membaca atau bahkan bukan ini seharusnya surat yang ingin ia baca. Tak sempat lama setelah itu, Fani mengirim pesan pada Rizal berharap ini adalah kesalahan. Namun tak ada balasan darinya.

Disepertiga malam, Fani terbangun menjalankan sholat tahajjud yang tak pernah alpa ia lakukan. Fani melakukan nya lagi. Surat itu, masih tergeletak di atas bantal yang berada tepat disamping kepalanya. Sekarang hatinya mengerti, Fani lantas mengirim pesan kembali pada Rizal.

“Assalamu’alaikum Rizal..

Akupun berharap kau selalu bahagia disana. aku membaca suratmu setelah dua hari aku diamkan, karena aku menebak kau hanya mengirim puisi yang sering kau kirimkan padaku setiap minggu. Namun ini berbeda, aku membaca suratmu tepat dihari keberangkatanmu ke Berlin. Kita hanya bertemu satu kali saat kau disini, tak banyak yang aku ceritakan pun yang kau ceritakan.

Aku tak menyalahkan mengapa harus ini isi dalam suratmu, atau mengapa harus itu yang kau tuliskan untukku. Semoga setelah ini, tak ada yang tak enak antara hatiku ataupun hatimu.

 Salam, Fani.”

Sambil menatap foto yang ada di layar ponselnya, “Aku akan tetap bahagia. Kalaupun Allah menjadikan aku bukan untukmu”. Setelah berakhirnya mereka, jarang bahkan tak pernah terdengar atau tak pernah ada lagi surat yang Rizal kirimkan lagi untuk Fani. Sementara itu, Fani selalu berusaha untuk tenang walaupun belum bisa melepaskan sepenuhnya. Berikhtiar dan lebih mendekat lagi padaNya tak pernah Fani tinggalkan. Hingga 3 minggu setelah berakhir mereka, Rizal sempat memberi kabar bahwa ia akan pulang. “Minggu depan aku wisuda, setelah itu aku akan pulang” Begitu kira-kira percakapan penuh rasa hambar antara mereka. Namun, Fani akan menikah dengan lelaki sholeh yang dipilihkan oleh ayahnya.

Tepat dua hari setelah kepulangan Rizal ke Indonesia. Walau sebenarnya tatapan masih pada Rizal. Fani tak mungkin bisa menyambut atau berkunjug kerumahnya, lalu ia mengirimkan pesan untuk Rizal.

“Assalamu’alaikum, Rizal..

Bagaimana kabarmu? ….”

Fani menghapus pesan

“Assalamu’alaikum, Rizal..

Kau sudah pulang? Syukurlah.. aku sangat…”

Fani menghapus, lagi. “Ah, kenapa aku ini!” Fani mencoba lagi,

“Assalamu’alaikum, Rizal..

Maaf aku tak bisa hadir ketika kepulanganmu kesini. Bagaimana kabarmu? Aku harap sangat baik. Aku ingin sedikit bercerita tentang aku sekarang. Lusa, aku akan menikah dengan lelaki yang ayahku pilihkan. Lalu bagaimana dengan aku? Aku belum sepenuhnya menerima dan akupun tak tau bagaimana untuk menolak. Tentang hatiku dan keinginanku, tak perlu ditanyakan. Kau, bahkan keluargaku tau siapa yang hatiku bicarakan. Namun, seperti yang kau katakan “jika aku untukmu, maka Allah akan berikan untukmu” Enam bulan setelah perginya ‘Kita’ aku selalu mempelajari arti kata-katamu.

Rizal, aku mengenalmu cukup lama. Jika aku bahagia dengan pernikahanku lusa, maka aku akan membuatmu bahagia juga. Namanya Sarah, kau mengenalnya bukan? Saudaraku dari Jakarta. Aku memperkenalkanmu sudah lama, aku mengenal Sarah pun sangat baik. Mengatur hidupmu, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin memperkenalkan saudarku. Tak salahkan jika aku memperkenalkannya unutkmu? Kitapun dulu berawal dari perkenalan melalui Fandi, sahabatmu.

Aku tak akan banyak bercerita lagi, semoga bahagia selalu membersamaimu.

 Salam, Fani”

Rizal hanya tersenyum bahagia melihat Fani menemukan yang Allah pilihkan. Namun tentang Sarah, ia belum tau harus bagaimana menjawabnya. Saat pernikahan Fani berlangsung, Rizal datang bersama Fandi. Dulu aku dan Fani selalu memimpikan ini, akad, berjumpa dengan teman-teman, duduk dikursi pelaminan. Ah.. Allah memang selalu mempunyai rencana yang tak terduga-duga. “Terjadilah, maka terjadi”. Ketika Rizal hendak mengambil minum, ia bertemu dengan Sarah.

“Rizal, ya?

“Iya”

Percakapan yang tadinya hanya menanyakan pengalaman kuliah di Berlin, beralih ke topik yang lebih serius. “Bagaimana hatimu saat ini?” tanya Sarah sambil memegang gelas yang hampir sudah habis. “Mmm.. aku baik” sahut Rizal. “Sakitkah melihat Fani? Tambah Fani. “Tidak. Aku dan Fani sudah sama-sama saling merelakan, tentang dengan siapapun kami akan hidup. Dan kau? Bagaimana?” Rizal bertanya dengan sedikit takut dan juga penasaran benar atau tidaknya perkataan Fani pada pesan yang terakhir yang ia dapatkan bebehari lalu. “Aku hanya menunggu” Dengan sedikit senyum pipi memerah dan juga salah tingkah. “Hanya menunggu?” lanjut Rizal. “Maksudku, sambil berbenah memperbaiki diri dan selalu mendekatkan diri padaNya.”  jawab Sarah dengan senyum yang tetap tersunging.

Rizal cukup senang dengan cara dia mengatakan tentang hal-hal yang menurut Rizal menarik. “Sarah..” Tanya Rizal, lagi. “iya?” Sambut Sarah. “Allah ada dimana?.  “Ada di dalam hati orang-orang yang beriman”  Jawab Sarah. Rizal tersenyum, lalu menanyakan satu pertanyaan lagi yang jika diprediksi Sarah tak akan mampu menjawabnya. “Siapa manusia yang kau cintai di dunia ini?”  Sarah dengan senyum menjawab “Rasulullah”. “Mengapa?” sambung Rizal. Dengan cepat  dan penuh percaya diri Sarah Menjawabnya. “Mengapa? Mengapa harus dipertanyakan?” . Rizal tersenyum, dan berniat untuk melamarnya esok Lusa. (Besambung)***Navisa Aulia

Komentar
Memuat...