Suratan Tuhan Dalam Pucuk Surat Cinta Part-3 “Akhir Penantian Panjang”

0 39

Suratan Tuhan Dalam Pucuk Surat Cinta– Rizal meminta Gina untuk mengajak Ainun ke suatu tempat makan yang sedikit jauh dari hiruk pikuk pondok, bertujuan agar tidak ada fitnah antara mereka. Rizal yang tengah terduduk di meja nomor 7 ditemani secangkir kopi. “Assalamu’alaikum ka, maaf lama. Tadi minta ijin dulu ke pengasuhan.” Gina menepuk pundak Rizal dan langsung duduk disampingnya. 
“Oh iya gin ga masalah kok, temenmu mana?” 
“tuh” sambil menunjuk ke arah belakang. Perempuan berkacamata dengan berpakaian gamis bertemakan shabby berjilbab merah marun telah duduk di depan Rizal. Mereka sama-sama bertukar sapa. “mmm.. Aku kebelakang sebentar ya, kalian ngobrol aja dulu” Gina pergi meninggalkan mereka. “Mau minum apa, de?”  “kopi aja, ka” jawab Ainun sambil terus tertunduk malu. 

Mereka saling bertukar cerita, bertukar pengalaman, pun bertukar hati. Tak terasa jam menunjukan pukul 15.20.

 “astagfirullah, aku harus pulang. Dikasih waktu sampai jam 15.00, Gina malah udah pulang duluan”

“Oh yaudah, kamu berani pulang sendiri?” 

“insyaallah” 

Pertemuan pun berakhir, meskipun rindu masih tetap saja ingin bertamu. Rizal melupakan sesuatu, seharusnya ia memberitahu Ainun tentang amanah ayahnya. “oh ya rabbi.. Gimana ini” 

Rizal sempat akan mengirimkan surat melalui Gina, namun hari itu dan lusa Gina tidak pulang ke rumah karena kesibukan menyambut milad pondok. Dengan berat hati Rizal pergi dengan waktu yang cukup lama. Tanpa lambaian tangan, tanpa selamat tinggal untuk Ainun. 

“Ainuuuun…” teriak Gina sambil lari menuju Ainun yang sedang duduk di teras kamar. 
“iya, kenapa gin? Sini duduk dulu, ngos-ngosan gitu” 
“ka Rizal, beliau udah ga ada” 
“innalillahi, maksudmu?” jawab Ainun tercengang
“bukan itu, beliau pergi keluar Jawa diamanahkan Ayah untuk mengajar disana” 
“Oh, alhamdulillah bagus dong” 
“iya sih, tapi kenapa ka Rizal ga kirim surat atau memberitahu kita?” 
“mungkin beliau belum sempat gin” Sambil tersenyum untuk menyembunyikan kecewa yang sangat memporak porandakan hati. 

Ah, Rizal. Kepergianmu begitu sangat tiba-tiba. Ada luka yang menyayat hati, ada nyeri yang tak bisa aku ucapkan. Disini, dengan bodohnya aku menaruh harap pada kita yang mungkin hanya aku yg merasakan. 

Kenyataan ini, membuat Ainun sangat terpukul, keteguhan hatinya rapuh seketika bersama hujan yang turun sore itu. Ainun berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis namun air mata sudah mulai mengalir di pipi. Ainun menjalani hari-hari seperti biasanya. Luka hatinya ia lampiaskan dengan menyibukkan diri, walau pun masih sangat nyeri dengan kepergian tanpa lambaian tangan itu. Satu bulan setelah itu, Rizal mengirimkan surat untuk Ainun. Surat beramplop merah marun, dengan sebuah box berisikan beberapa foto. 

“Assalamu’alaikum, Ainun.. 
Maaf ku untuk mu. Aku pergi tanpa memberitahumu. 
Tanpa lambaian tangan terlebih dulu, 
Ini memang sudah lalu, 
Tapi maafku sangat perlu. 
Ainun, semoga kau mengerti.. 
Aku disini, menjalankan amanah Ayah. Kurang lebih dua tahun mengabdi di daerah yang sangat jauh dari keramaian kendaraan. Mungkin jika kau memberi balasan surat, akan sampai di tanganku 5 hari kemudian. 
Disini, setiap sore.. 
Aku selalu duduk di teras rumah berukuran minimalis di temani secangkir kopi seperti biasa dan atap yang dihiasi jingga nya senja. 
Ah, aku sampai lupa menanyakan kabarmu, aku sangat ingin kau selalu bahagia. 
Kau tau? Disini sangat beda dengan kondisi kota. Setiap jam 3 pagi mereka berbondong-bondong menimba air untuk berwudlu. Aku sangat merindukan suasana pondok disana. Aku tak terlalu berharap balasan darimu, namun aku tunggu kabarmu.

Rizal. “

Ainun tersenyum sumringah. Ada senang, namun tetap merasa kesal atas kepergiannya. Ainun langsung mengambil pena dan kertas untuk membalas surat Rizal.

“Assalamu’alaikum, Rizal..” 
Tujuh hari dalam seminggu, tiga puluh hari dalam sebulan. Selama itu aku menunggu kabar darimu. Berulang-ulang hingga sekarang. 
Memang benar, aku harus sesegera mungkin memaafkanmu. Walau saat itu, sungguh aku sangat ingin mengejarmu agar kau tak jadi pergi. Namun aku tak bisa. 
Memang benar, aku rindu. Tapi juga benar bahwa aku masih sanggup menunggu. 
Namun, dengan tetap menunggu hingga detik ini, adalah sakit yang menjadi candu. 
Jadi, biar saja. Jika menyakiti diriku ini kulakukan, itu semua karena aku percaya, kamu yang menyayangiku juga menyakiti dirimu sendiri untukku. 
Aku berdarah, namun tak ada luka di tubuhku. Seperti halnya siklus menstruasi yang tiap bulannya menyapa. Aku bahkan sudah siap dengan pembalut dan kemudian membuangnya. Menjijikkan! Rasa ini, entah bagaimana hadirnya. Aku sangat rindu.

Ainun. “

Setelah itu, Rizal sangat jarang mengirimkan surat lagi, sebaliknya dengan Ainun yang setiap minggu nya selalu mengirim surat untuk Rizal. Berharap ada balasan yang akan membuatnya tersenyum sumringah, lagi. 

Ginaaaaa.. “ Ainun berlari menghampiri Gina yang hendak akan pulang ke rumah pagi itu. 
“iya nun?” 
“afwan, aku mau nanya. Nanti di hari wisuda beliau pulang?” 
“kurang tau juga, nun. Soalnya beliau gatau wisuda kita kapan” 

Ainun terdiam. Harapan nya tak akan terjadi, harapannya harus terkubur. Sampai di hari wisuda, seluruh keluarga datang menyaksikan Ainun berdiri memakai toga dan memakai selendang bertuliskan “Santriah Teraktif”.

Akhir Penantian Panjang

Ainun melihat sosok lelaki yang tak asing. Mereka bersilang tatap di jarak sedekat itu, Rizal berhenti. Mungkin kedatangannya kali ini memang menegaskan sebuah keputusan, walaupun Ainun masih bertanya-tanya kapan ia datang. 

“selamat ya, berbahagialah” ucap Rizal samar-samar, tapi cukup keras dalam ruang pendengaran ku, cukup kuat menancap dalam hati. 
“terimakasih, untuk apa kamu datang?” tanya Ainun kesal. 
Tapi Rizal segera meraih tangannya dan membawa Ainun ke halaman belakang. 
“apa?” tanya Ainun kesal
“aku ingin menatap ainunmu” 
“maksudmu?” tanya Ainun lagi
“matamu. Matamu yang sudah lama tak ku tatap. Kantung nya yang besar karena selalu begadang.” 

“kita selesai.” ucap Ainun mengagetkan Rizal. 
sungguhkah kita selesai? Mengapa?” 
“kamu masih bertanya mengapa, bukankah kamu tau jawabannya? Kita belum mampu menerima bahwa kita tak bisa bersama, bahwa segala hal yang ingin kita lakukan berdua dulu hanya wacana. Beranjak darimu tidak mudah. Kamu bahkan tidak memintaku untuk bertahan. Lalu, mengapa masih saja, aku memaksakan untuk bergenggaman?” Ainun berusaha menyembunyikan tangisnya yang mulai turun. 

“maaf untuk kesekian, saat itu aku terlalu mengabaikan kita. Tapi sungguh aku sangat ingin membalas surat-suratmu, namun waktu selalu beralasan.” 
“kau selalu menyederhanakan kabar. Kabar baik ataupun kabar buruk, untuk orang yang mencintaimu, kabar apapun itu selalu berharga untuk didapat. 
Perihal saling memiliki, aku tau diri. Aku hanya ampas kopi yang selalu dibuang setelah manis nya tertelan. Sedang kau adalah senja yang setiap hati selalu dinanti.”
“Ainun, aku sudah gagal dalam memilih pasangan hidup. Pertama, karena Allah belum merestui. Kedua, ia menginginkan sahabatku. Ketiga, kamu. Karena hanya tidak berkabar? 

Meninggalkan sama sekali bukan gaya ku. 
Dimana lagi aku temui perempuan semacammu? Tilawahmu tidak terlalu merdu, tapi kesantunan meluluhkan hatiku. Aku tidak melupakan amplop-amplop lusuhmu, surat rindumu. Jika memang orangnya bukan kamu, semuanya berbeda. Aku ingin berhenti. Bersamamu”

Rizal tersenyum dan memberikan tissue untuk segera Ainun menghapus air matanya. 
“mau kan, berjalan sejajar dengan sepatuku di karpet merah esok lusa?” lanjut rizal
“maksudmu?” 
“Sawf yatazawwajni?” (will u marry me) 
Ainun menganggukkan kepala dan wajah sumringah nya, datang lagi.

[October 2016 : Putri Naviza]

Cerpen Suratan Tuhan Dalam Pucuk Surat Cinta All Edition

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.