Inspirasi Tanpa Batas

Surau dan kakekku | Aku dan Buku Usangku Part I

0 19

Konten Sponsor

Di surau inilah tempat aku merenung dimana setiap baitnya tercipta disini bersama Ilalang, burung bersiul, aroma perkampungan dan suasana yang sejuk. Aku menari-nari dalam fikiran membayangkan sesuatu hal yang belum aku rasakan, membayangkan sesuatu yang aku dapatkan dan miliki, membayangkan sesuatu hal itu tercipta nyata dan bukan sekedar mimpi, sungguh dari surau inilah intuisiku dilahirkan.

Satu buku tulis kosong pemberian kakekku yang sangat berharga bagiku. Menjadi teman setia di setiap bait-bait langkahku, pendengar setia di setiap bait-bait ceritaku, menjadi pendaping setia ketika kakekku tiada. Kakek ku pernah berpesan, “Tidak banyak yang bisa kakek berikan padamu Bi, menyekolahkan mu pun kakek tak sanggup, rawat baik-baik buku ini”, Pesan itu seolah menjadi pertanda kepergian kakekku.

Sudah lama memang aku tak berjumpa dengan kedua orang tuaku setelah kejadian itu, seolah aku terasingkan di rumah kakekku, belajar hidup sederhana, menuntut ilmu seadanya. Dari kakekku, aku tahu akan sebuah kemandirian. Walau terkadang akupun rindu seperti halnya anak-anak lain bisa di sayang kedua orang tuanya. Bersama kakekku aku banyak belajar segala hal, kakek ku pernah berpesan “hiduplah seperti pohon, merangkak dari biji sebelum menjadi batang dan dahan yang kokoh” kamu harus yakin pada mimpi-mimpimu karena itu adalah doa mujarab bagi mu, tutur kakekku.

Kakekku yakin kelak aku akan menjadi orang sukses, ujarnya sambil melihat bait-bait cerita pada bait-bait buku usangku. Dia sering melihat tulisanku sepulang dari surau, selalu memperhatikan seksama setiap bait-baitnya dan sesekali dia mengurai air mata sambil memelukku. Aku tak tahu apa yang di tangisinya tapi aku nyaman dalam pelukannya. Aku memang seorang pemimpi yang dalam setiap bait tulisan ku semua adalah mimpiku, mungkin kakekku tersentuh dengan keadaan saat itu yang tidak bisa memberikan hal lebih untuk mimpiku. Tapi aku berterimakasih pada kakek ku hingga kini aku bisa seperti ini.

Kakek adalah sebagian dari kisah-kisahku yang telah aku bumikan dalam bait-bait tulisanku. Pahlawan penjemput mimpiku yang selalu memotivasi, walau pada saat itu kehidupannya pas pasan. Dia yang selalu mendorongku untuk terus menulis, mencatat setiap mimpi-mimpiku dan menghayal setiap keinginanku. Ku yakin, kini dia tersenyum di alam sana.

Sebelum aku bercerita lebih jauh perkenalkan nama ku ALBI. Seorang pengarang dari dunia mimpi, pekerjaan ku melukis tulisan, mengukir cerita menjadi bahagia dan cinta, mengukir cerita cinta menjadi derita. Megukir cerita cinta, bahagia dan derita menjadi drama. Dilahirkan dari kedua orang tua yang baik, pernah hidup bersama sang kakek dan darisinilah awal mula ceritaku.

bersambung……

Penulis: Kiki AB

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar