Syahadat Sebagai Persaksian Serta Komitmen Membangun Kesalehan Individu dan Sosial

0 50

Agama tidak bisa dipisahkan dari doktrin dan keyakinan. Keyakinan terhadap adanya Tuhan sebagai sumber hukum dan nilai yang mengatur seluruh kehidupan manusia. Keyakinan dan pengakuan tentang Tuhan dalam Islam diikat dengan suatu persaksian yang disebut syahadat. “Aku Bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah”. Kepercayaan dan pengakuan manusia tentang Tuhan mengharuskan umat beragama untuk berperilaku sesuai doktrin yang ia yakini. Dengan demikian, dalam menjalankan kehidupannya, umat beragama (Islam) haruslah dapat menjalin hubungan baik dengan Allah swt. Hubungan baik dimaksud dapat diimplementasikan dengan cara merefleksikannya dalam bentuk ketaatan melaksanakan kewajiban-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketaatan ini diharapkan nantinya akan membentuk kesalehan individu. Tetapi tidak berhenti di individu, karena Islam bukan agama individualis. Setelah kita bersaksi bahwa “tiada Tuhan selain Allah” disana terdapat satu komitmen untuk menebar cinta kasih kepada seluruh makhluk yang diciptakan-Nya. Oleh karena itu, keyakinan terhadap-Nya pun harus terefleksi dalam dimensi kehidupan sosial seperti berbuat baik, menolong orang lain, menyantuni fakir miskin, dan membela mustad’afin. “Siapa menjadi muslim yang baik, dengan sendirinya akan menjadi sosialis” begitulah kiranya ungkapan HOS Cokroaminoto.

Dalam agama Islam hubungan yang mengatur manusia dengan Allah SWT dan hubungan yang mengatur manusia dengan makhluk-Nya termuat secara sistematis dalam suatu norma hukum yang kita kenal sebagai fiqh. Ini sebagai aturan main umat islam dalam beribadah dan dalam kehidupan sehari-hari. Sistematika pembahasan fiqh diawali dengan masalah ubudiyyah, mengatur hubungan manusia dengan Allah swt. Lalu, dilanjutkan dengan pembahasan muamalah, aturan main manusia dengan sesamanya. Sistematika pembahasan fiqh ini mengisyaratkan bahwa manusia harus mampu menjalin hubungan baik dengan Tuhannya sekaligus dengan sesamanya. Atau, ini sebuah komitmen bahwa manusia yang telah bersaksi bahwa Allah-lah Tuhannya dan diterjemahkan dalam bentuk ketaatan terhadap-Nya niscaya harus bisa mengimplementasikan keyakinannya dalam kehidupan sosial, beriman dan beramal shaleh (QS 95:6)

Shaleh Secara Individu Belum Tentu Shaleh Secara Sosial

Namun pernyataan demikian, dalam implementasinya tidak dapat diwujudkan dengan mudah. Tidak semua orang yang rajin beribadah mampu membangun hubungan baik dengan sesamanya. Tak jarang orang yang rajin beribadah masih belum bisa meninggalkan perbuatan- perbuatan tidak terpuji seperti berbuat curang, menipu, mengeksploitasi, melanggar hak- hak orang lain, dan korupsi. Ini yang menjadi keprihatinan umum ketika orang menilai perilaku sosial bertolak dari agama. Perilaku keagamaan seharusnya mencerminkan perilaku sosialnya. Keyakinan terhadap agama dan segala doktrinnya harus mampu membentuk kesalehan individu dan kesalehan sosial pemeluknya. Jika hal tersebut tidak terwujud maka, terdapat sesuatu yang salah dalam diri pemeluknya.

Apabila umat beragama (islam) telah berhasil menjalankan komitmen beragamanya yaitu beiman dan beramal shaleh maka, ia pantas menyandang gelar “ahsani takwim” (QS 95: 4). Namun, apabila umat beragama menciderai komitmennya maka, ia mendapat kehinaan serta ditempatkan ditempat yang paling rendah dihadapan-Nya (QS 95:5).

Oleh karena itu, syahadat bukan hanya persaksian kita terhadap Allah swt tapi, ia juga mengandung satu komitmen untuk berbuat baik terhadap makhluq ciptaan-Nya. Semoga kita senantiasa ada dalam bimbingan-Nya [] Fajar Rahmawan

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.