Take a fresh look at your lifestyle.

Syarat Perawy yang Layak Meriwayatkan Hadits

0 37

Syarat Perawy Hadits yang Layak Meriwayatkan Hadits. Dunia ilmiah adalah tradisi dunia Islam. Bayangkan oleh anda, bagaimana para ulama masa lalu, menilai perawy hadits. Yang mereka nilai bukan hanya pada generasi tabi’it tabi’in, tabi’in, tetapi juga di generasi sahabat. Mereka selalu berhasyrat untuk menerima informasi yang tingkat akurasinya tinggi. Ilmu yang mengkaji sisi positif negatif perawy dimaksud, kemudian dikenal dengan nama al Jarhu wa Ta’dil.

Mustafa al Syiba’i, mendefinisikan jarah dan ta’dil sebagai ilmu khusus yang mengkaji dan mengevaluasi perawy hadits.  Melalui kajian atas ilmu ini, seorang kritikus dapat menentukan misalnya, apakah seseorang layak atau tidak untuk menjadi periwayat hadits.[1]

Karena itu, menurut Syiba’i, kjian atas perawy hadits dimaksud, menghasilkan penilaian; negatif dan positif terhadap apa yang disebut perawy. Pertanyaannya, mengapa butuh kajian dan penilaian atas mereka? Jawabannya ternyata, penilaian terhadap perawy hadits dilakukan karena diketahui bersama, kalau hadits pernah mengalami fase pemalsuan. Pemalsuan atasnya pernah berada dalam posisi yang massif dan dahsyat.

Kondisi hadits yang  banyak dipalsukan itu, menyebabkan hadits harus dievaluasi. Kajian dan penilaian tidak dimaksudkan untuk menurunkan derajat perawy, tetapi, justru untuk mencari dan membedakan mana hadits yang sebenarnya dan mana yang bukan.

Landasan utama atas peninyinga penilaian itu, didasarkan atas firman Allah dalam surat al Hujarat [49]: 6 yang artinya:

“wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.

Syarat Perawy Hadits

Secara singkat, ada dua syarat untuk menjadi perawy hadits. Kedua syarat itu al adalah dan Dhabit. Al adalah adalah jiwa adil yang dimiliki seorang perawy. Misalnya, apakah dia berbuat adil ketika harus menentukan suatu pilihan atau menetapkan sesuatu. Seseorang layak disebut memiliki karakter  al adalah, apabila oleh ulama al jarhu wa ta’dil [kritikus] disebut adil atau tidak.  Para kritikus umumnya juga melakukan penela’ahan atas asumsi publik terhadap sosok perawy hadits. Ketika dia masyhur [terkenal/populer] di masyarakat sebagai orang yang adil, maka, kemungkinan besar dia akan disebut adil.

Seorang perawy disebut dhabit apabila diketahui bahwa periwayatannya tidak bertentangan dengan perawy lain. Terutama, ia terbebas dari perawy yang lebih populer dengannya [tsiqat].

Persoalan selanjutnya adalah, apakah al jarhu dan ta’dil [positif-negatif] diterima tanpa dijelaskan sebab-sebabnya. [2] Di sini tampak berbeda antara jarah dan ta’dil. Jarah tidak diterima kecuali dijelaskan sebab-sebabnya. Meskipun sebenarnya, ulama jarah sendiri akan sangat berbeda satu sama lain ketika melakukan kesimpulan atas perawy yang diteleitinya.

Ketika kritikus menyebut sisi-sisi negatif seorang perawy, penting bagi kritikus untuk menyebutkan sejumlah alasan atasnya. Dan jika hal itu dilakukan, maka, yang demikian tidak termasuk menjadi masalah. Di situlah justru letak pentingnya penyebutan kelemahan perawy hadits. Agar apa yang disebut cacat itu, secara sadar ataupun tidak, dievaluasi pula oleh masyarakat banyak.

Berbeda dengan sisi negatif, sisi positif seorang perawi [al ta’dil], sekalipun tidak disebutkan alasannya, dapat diterima.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kalau ada seorang perawy yang diketahui sisi negatif dan sisi positifnya secara bersama? Ulama jumhur sepakat bahwa yang didahulukan adalah sisi negatifnya. Kecuali sifat negatif itu masih bersifat samar.

Apabila yang terjadi seperti yang terakhir, maka, yang didahulukan adalah sisi positif. Hal ini memberi isyarat bahwa betapa kritikus hadits demikian berhati-hati dalam membela sunnah dan juga membela muru’ah umat Islam.

Daftar Rujukan

[1] Lebih lanjut, Mustafa al Syiba’i dalam buku Sunnah dan Peranannya dalam Menetapkan hukum Islam. Terj. Nurcholish Madjid. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995. Mustafa al Syiba’i menyebut Ilmu Jarah dan Ta’dil adalah Ilmu yang agung. Salah satunya yang membuat ilmu ini disbut agung adalag terdapat kerumitan dalam melakukan penelitian. Menyangkut aspek-aspek yang bersipat pribadi perawy, bisa jadi sisi-sisi subjektif penelitian hadits akan juga muncul pada setiap pengkritik hadits.

[2] Abdurahman al Mundzir Attamimi al Razi. Al Jarhu wa al Ta’dil. Dalam Mukodimah.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar