Syeikh Abdul Qadir Penutup Aib dan Pemaaf dalam Shufi Cinta Part-8

0 23

Dunia Islam, saat di mana Syeikh Abdul Qadir Jailani tumbuh sebagai seorang intelektual shufi di Baghdad. Secara historis bukan saja sedang dihinggapi berbagai penyakit moral yang sangat jauh dari cita-cita Islam, tetapi juga sedang berada dalam titik kulminasi kemajuan dilihat dari sisi kemajuan peradaban. Karena itu, menjadi dapat dimengerti mengapa pesan-pesan yang dia sampaikan –saat di mana dia menjadi intelektual shufi itu– demikian histeris dilihat dari isi atau content kalimatnya yang sarat nilai spiritualitasnya.

Dalam serial percakapan Syeikh Abdul Qadir dengan para muridnya itu, dia berkata: “Seorang Syeikh (dapat juga disebut ilmuan untuk kalimat Indonesia–), tidak dapat mencapai puncak spiritual tertinggi, kecuali memiliki 12 karakter. Kedua belas karakter itu harus mendarah daging dalam dirinya. Menyatu seperti aliran darah dengan sel (peny) yang merayap dalam urat-urat manusia tanpa mampu dipisahkan, meski sangat mudah dibedakan. Kedua belas karakter yang bakal membawa manusia ke puncak itu adalah sebagai berikut:

Penutup Aib dan Pemaaf

Menutup aib atau kelemahan orang lain (sattar/B. Arab) dan pemaaf (ghafar) adalah dua dari 99 asma-asma Allah yang terpuji. Inilah maqam pertama dari ajaran yang disampaikan Syeikh Abdul Qadir –pendiri dan mursyid thareqat Qadariyah— yang masyhur sampai hari ini. Tanpa dua karakter ini, tidak mungkin seseorang naik ke maqam lain, meskipun secara intelektual dalam kajian atau bidang yang digeluti sang alim, dimilikinya secara mendalam.

Begitupun dalam posisinya sebagai pemaaf. Menurutnya, setiap manusia pasti memiliki kelemahan dan dosa yang tidak ada tara besarnya. Namun, haruslah juga diyakinkan bahwa ampunan Tuhan jauh lebih luas dibandingkan dengan jumlah dosa yang dibuat dan dimiliki manusia. Karena itu, memaafkan kesalahan orang lain atas apa yang dilakukannya, baik secara disengaja maupun tidak disengaja, sejatinya dapat mendorong dirinya menjadi alim yang sempurna.

Dalam kalimat yang sedikit alegoris, Abdul Qadir Jailani sempat juga mengatakan,. Bahwa kayu yang bengkok kadang dapat menahan bobot yang jauh lebih besar dan berat dibandingkan dengan kayu yang lurus. Jika kayu bengkok itu diilustrasikan dengan keburukan dan kelemahan manusia, maka, dalam kasus tertentu, yang tidak lurus itu, juga memiliki nilai manfaatnya bagi hajat hidup manusia. Karena itu, memberikan maaf atas semua kesalahan manusia, setara dengan menjaungkau kemanusiaan itu sendiri. Inilah dua sipat Tuhan yang semestinya melekat dengan jiwa manusia. ** By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.