Home » Sastra Budaya » Novel » Syurga itu Manis dalam Novel Bergulat Dengan Nafas Terakhir-Part 6

Share This Post

Novel

Syurga itu Manis dalam Novel Bergulat Dengan Nafas Terakhir-Part 6

Tak terasa waktu terus bergulir. Dua minggu sudah Doddy hidup dalam kesendirian, tanpa Fanny bahkan tanpa anak kesayanganya. Anaknya yang masih kecil, berumur dua tahun itu, tidak memungkinkan diasuh sendiri oleh Doddy. Akhirnya, atas saran ibunya sendiri, meski dengan berat hati, anak semata wayang yang dihasilkan dari buah kasih sayang mereka itu, dibawa ibunya.

Sambil berlinang air mata, Saat anak itu digendong ibunya Doddy, ia berkata: “Maafkan ayah wahai cintaku”. Ungkapan itu, ia sampaikan saat anaknya itu benar-benar dibawa ibu Doddy ke kampung halamannya di Kuningan, Begitupun saat Doddy menemui anaknya itu, ia hanya mampu mengatakan: “Maafkan ayah wahai benih cintaku”. Berlinanglah air matanya.

Dua minggu, waktu terasa begitu lama dirasakan Doddy. Hari-hari itu, dilalui Doddy dalam suasana bathin yang terus menerus gelisah tanpa mampu dipisah dari bathin Doddy, Yang bisa dilakukan Doddy hanya mengalihkan rasa rindu, yang tanpa diduga siapapun, terus membuncah dalam setiap pergantian waktu. Pergantian hari yang dia lalui. bukan malah menggugurkan kerinduan kepada Fanny, tetapi kerinduan itu malah terus menyiksa dan membayangi dirinya dalam setiap gerak langkah yang dilakukannya.

Rekomendasi untuk anda !!   Lelehan Air Mata | Mencari Tuhan di Kaki Ka'bah Part - 1

Dalam suasana bathin yang seperti itu, ia mengalihkannya ke dalam kegiatan lain berbentuk membaca dan membaca kitab-kitab agama. Doddy menjadi sosok baru yang lemah dengan penampilan yang makin sahaja. Ia kini malah sering memakai baju koko dan menenteng beberpa buku ke manapun ia pergi. Dalam suasana seperti itu, tanpa diduga, Doddy menemukan salah satu hadits Nabi yang menyatakan: “Jika Allah mencintai seseorang, maka Dia akan mengujinya. Jika mereka yang diuji itu, mampu melewatinya dengan sabar, maka Allah akan memilihnya untuk menjadi kekasih-Nya. Jika dia yang diuji itu sekaligus ridha atas ujian Tuhan, maka, Allah akan mensucikannya dan menempatkan di makam terpuji.

Ya Allah, jerit Doddy dengan linangan air mata dan jeritan yang makin kuat. Apa mungkin aku akan menjadi manusia yang mampu lolos dari ujian ini. Mungkinkah ujian ini, Kau berikan karena aku termasuk ke dalam hamba-Mu yang Kau cintai. Suasana ini, tentu terasa semakin menyiksanya, karena, beberapa minggu sebelum kematian Fanny, ia ikut uji kompetensi sebagai calon assesor, dan ternyata gagal. Mengapa Engka ya Allah, membuat rantaian kegagalan dalam hidupku.

Doddy Menulis Surel di Akun

Mungkin karena saking tidak tahannya dia menerima beban dan ujian yang terus menerus datang, Doddy akhirnya mengirim suatu Surel ke publik di akun yang dimilikinya. Ia menjerit dengan mengatakan: “Wahai pejuang Allah, aku yakin Syurga telah menanti. Jika kita rasakan beratnya kaki menapak dan letihnya bersabar, itulah indikasi dari jawaban dari pertanyan mengapa perjuangan itu pahit? Akulah yang kini sedang menerima kepahitan ini. Tulis Doddy dengan tegas.

Rekomendasi untuk anda !!   Malam Pertama tanpa Fanny dalam Novel Bergulat dengan Nafas Terakhir_Part 4

Aku yakin, Syurga itu manis. Karena ia manis, maka, rasa manis itu hanya akan diperoleh dengan cara mencicipi sesuatu yang pahit. Aku tak akan meminta kepada-Mu ya Allah untuk meringankan bebanku. Tetapi aku meminta kepada-Nya dengan cara: “Tuhan … tolong kuatkanlah pundakku, agar aku mampu menahan segala ujian ini. Kuatkanlah aku dalam menjalani rasa sakit ini. Kuatkanlah kesabaranku dalam segenap perjuangan ini, agar aku tetap ikhlash. Semoga aku tetap istiqomah di jalanMu. Charly Siera –bersambung–

 

Share This Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>