Mengenal Tafsir Hermeneutik Al Quran Secara historis

2 37

Paul Ricoeur, yang ditulis Edith Kurzweil (2004: 125-158) adalah tokoh utama yang melahirkan gagasan tentang Tafsir Hermeneutik al Quran. Ia lahir di valence pada tahun 1913. Tahun 1932, dia bergabung dengan satu kelompok dalam Emmanuel Mournier, mendirikan jurnal Esprit.

Ricoeur lalu menghubungkan niat kesadaran dengan simbolisme untuk mencapai makna terdalam segala hal sebagaimana adanya. Pemakaian hermeneutik oleh Heidegger (terkait Hermes, pembawa pesan ilahi dari Tuhan) dengan konsep Vorverstaendnis (pemahaman awal) -ide yang menyatakan bahwa semua pengetahuan tergantung pada apa yang telah diketahui sehingga tidak dapat disangka dari awal- cukup berguna memberikan contoh kepada proyek Ricoeur sendiri. Para ilmuawan sastra juga menerapkan doktrin pemahaman awal ini pada pembacaan teks yang memudahkan Ricoeur untuk berpindah dari teologi kepada filsafat dan sastra.

Ricoeur mengajar filsafat di Strassbourg sampai dengan tahun 1956, ketika ia mendapat tugas di Sorbonne yang begitu prestisius. Sepuluh tahun kemudian dia mengajar secara suka rela di Universitas Nanterre yang baru berdiri. Di Nanterre dia berharap dapat menunjukkan bagaimana intervensi (keberadaannya di dunia) pada tiga level (teknis, politis, dan profesorial/klerikal) dapat melapangkan jalan menuju masyarakat yang lebih baik; sehingga berbagai konsep filsafat etika keyakinan dan tanggung jawab (dari Plato dan Aristoteles sampai kepada Dilthey dan Weber) dapat diterapkan dan diarahkan kepada reformasi moral.

Relasi antara kajian Hermeneutik dengan tafsir al Quran, sejauh yang mampu peneliti amati. Mulai menyeruak ketika gugatan terhadap cara mufasir tempo dulu dalam menyikapi berbagai fenomena kemanusiaan dan kealaman terus berkembang. Umum diketahui bahwa kebanyakan masyarakat Muslim mengambil sikap diam terhadap produk-produk tafsir Al-Quran masa lalu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang given. Kondisi dimaksud belakangan, mulai cukup marak digugat. Namun demikian, jika dikaji lebih dalam, sebenarnya ada titik temu yang dapat menjembatani dua titik ekstrim (pro dan kontra) itu. Yaitu, terbesitnya keyakinan yang sama akan relativitas pemahaman mufassir. Bahwa hanya Tuhan lah yang benar- benar memahami maksud sejati dari teks-teks suci al-Quran.

Tulisan ini membahas persoalan hakikat bahasa al Quran (bahasa Arab) sebagai teks yang sarat dengan kreativitas manusia, ditambah dengan kenyataan adanya berbagai perbedaan kondisi geografis, sosiokultural dan antopologis, politis yang melingkupinya antara masa lalu dengan masa kini, antara satu negara dengan negara lain. Pemosisian demikian jelas terdengar tidak merdu bagi kalangan yang mensakralisasi al Quran secara membabi buta. Bahasa al Quran seolah menjadi wadah yang kekecilan untuk mewadahi realitas agung yang ingin disampaikan Tuhan. Semua gagasan itu sepertinya telah menjadi basic munculnya gagasan untuk terus dikembangkan. Hanya saja perumusannya belum menkristalisasi dalam bentuk gagasan yang konkrit dan praktis sehingga paling tidak membantu pembaca memetakan persoalan pemahaman keagamaan masa kini secara lebih komprehensif.

Tafsir Hermeneutik  Al Quran Secara historis

Secara historis, meski masih diragukan tingkat kebenarannya, kata hermeneutika diambil dari nama suatu Dewa yang populer di kalangan masyarakat Yunani Kuna yaitu Hermes. Hermes adalah seorang Dewa yang ditahbiskan sebagai penerjemah pesan moral para Dewa yang dibebankan kepadanya untuk disampaikan kepada manusia. Hermes itu sendiri menurut Seyyed Hossein Nasr (1989: 7l), adalah nama lain dari Nabi Idris yang banyak disebut dalam al Quran dan diimani masyarakat Muslim sebagai bagian dari 25 Nabi dan Rasul yang wajib diimani keberadannya.

Jika benar Hermes itu Idris, maka nama yang terakhir ini tidak lagi asing di telinga banyak orang Muslim; awam dan moderen. Nama ldris telah menjadi legenda menarik bukan hanya karena keunikan prilakunya dengan congkak melawan Tuhan untuk tidak meninggalkan Syurga ketika ia diberi “visa” kunjungan ke dalamnya. Lebih dari itu, ia juga dikisahkan sebagai seorang ahli dalam bidang pertenunan dan penjahitan pakaian. Ia menggeluti pekerjaan itu dengan tertib, baik dan indah. Ia memiliki kepandaian bertutur kata yang baik dan penuh bijaksana. Oleh karena itu, di zamannya ia merupakan pusat segala informasi dan petunjuk untuk seluruh manusia meski pekerjaannya hanya sebagai tukang jahit.

Persamaan Hermes dan Idris

Pekerjaan Idris sebagai tukang jahit atau pemintal, dianggap kelompok kontekstualis sebagai kata qiyasi. Sebab seperti Vincent Crapanzano (1992: 119) katakan, kata kerja “memintal” atau menjahit dalam bahasa Latin sering disebut dengan istilah tegere yang produknya dapat disebut textus atau text. OIeh karena itu, kata kerja ini dapat diartikan sebagai orang yang ahli dalam menafsirkan sebuah teks. Pekerjaan Hermes yang sebenarnya adalah menginterpretasikan pesan Tuhan yang menggunakan “bahasa langit” agar dapat difahami manusia yang menggunakan “bahasa bumi”.

Itulah makna metaforis dari cara kerja Idris yang ditamsilkan sebagai tukang “pemintal”, yakni memintal atau merangkai kata yang berasal dari Tuhan agar mudah difahami (dikerjakan) oleh manusia. Jadi sejak awal, Hermes selalu berurusan dengan tugas untuk menerangkan kata-kata dan teks yang dirasakan asing (alien speech) oleh masyarakat.

Kitab suci Islam (al-Quran), menyebut Idris sebagai salah seorang Nabi. Kedudukannya bahkan ditempatkan sebagai salah satu nama bersama dua puluh lima Nabi dan Rasul lainnya yang wajib diketahui umat Islam. Ia seperti para Nabi dan Rasul lain, ketika membawa teks suci agama. Menurut Paul Ricoeur, selalu memunculkan masalah baru yakni bagaimana menginterpretasikan bahasa Tuhan ke dalam bahasa manusia di bumi. Dialog Tuhan dengan Para utusan- Nya akan menyulitkan para Rasul untuk mencari artikulasi yang pas dengan bahasa manusia di mana seorang Nabi dan Rasul berkiprah. Kondisi itu pula tampaknya yang dialami oleh Idris, sehingga ia berada pada sosok sebagai penafsir tunggal di zamannya, oleh Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

  1. lyceum
    lyceum berkata

    itu tafsir filsafat

  2. Wahid Abdurrokhman berkata

    menurut Seyyed Hossein Nasr (1989:7) Hermes adalah Nabi Idris a.s diambil dari buku atau kitab apa ?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.