Inspirasi Tanpa Batas

Cara Membuat Siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas

Cara Membuat Siklus dalam Penelitian Tindakan Kelas
0 5.766

Siklus adalah ciri khas penting  yang membedakan dalam Penelitian Tindakan Kelas [PTK], dengan penelitian lain.  Siklus dengan demikian, akan menjadi ciri khas PTK dan ini harus dilalui secara pasti dalam penelitian tindakan kelas.

Para ahli didik, menyebut siklus dalam PTK, setidaknya membutuhkan empat tahapan. Keempat tahapan dimaksud adalah: adanya planing [perencanaan], Adanya act [tindakan], melakukan observe (pengamatan), dan; tersedianya ruang untuk melakukan refleksi [perenungkan] atas segala tindakan yang dilakukan.  Keempat langkah yang harus ditempuh dalam menyusun PTK pada nalar siklus ini, penjelasannya sebagai berikut.

Tahap Planing dalam Penelitian

Guru yang melakukan Penelitian Tindakan Kelas, harus sudah menemukan masalah yang dia hadapi. Masalah tersebut muncul di dalam kelas ketika dia menyampaikan materi tertentu dalam pokok bahasan tertentu, atau mungkin dalam sub pokok bahasan tertentu. Sekali lagi, PTK sipatnya sangat terbatas.

Setelah dia merasa ada sesuatu yang patut diduga sebagai masalah [ilmiah] dalam pembelajaran, ia dituntut memutuskan bahwa masalah dimaksud, hanya dapat diselesaikan melalui kegiatan penelitian tindakan. Ia merasa bahwa masalah yang dighadapinya, tidak mungkin diselesaikan oleh cara apapun, selalui hanya melalui kegiatan penelitian tindakan.

Artinya, kegiatan penelitian tindakan kelas yang dia lakukan, harus dianggap mampu memberi manfaat bagi dirinya, dan juga bagi peserta didiknya. PTK harus difahami bukan hanya sebagai sesuatu yang patut dianggap dapat memperoleh keuntungan bagi guru dimaksud, tetapi yang paling penting, justru bagi siswa.

Hasil kerja guru dalam menyusun PTK, harus diakui memang dapat meningkatkan kinerja guru. Sebut misalnya untuk kepentingan angka kredit dalam kepentingan kenaikan pangkat. Itu tidak salah! Boleh-boleh saja dilakukan. Tetapi juga harus difahami bahwa kegiatan penelitian tindakan, sesungguhnya berkepentingan untuk menjaga dan meningkatkan kompetensinya sebagai tenaga pendidik.

Selanjutnya, apa yang disebut sebagai masalah haruslah dapat diidentifikasi. Guru dalam kaca mata ini, tidak diperkenankan untuk melakukan penelitian, ketika apa yang disebut sebagai masalah dimaksud, tidak mampu diidentifikasi.  Karena masalah tersebut mampu diidentifikasi, maka, dia dapat melanjutkan semangatnya ke dalam bentuk perencanaan.

Jadi di siklus pertama saja, guru harus mampu menyusun perencanaan penelitian tindakan. Langkah-langkah apa misalnya yang akan dilakukan dalam kepentingan penyelesaian masalah pembelajaran di kelas yang dia asuh.

Karena itu, guru yang melakukan penelitian tindakan, haruslah mampu menyusun berkas-berkas atau file yang dibutuhkan. Selain tentu ia dituntut mampu menyusun sejumlah kelengkapan dalam bentuk alat, sarana dan bahan pembelajaran. Dari skenario ini, maka, di tahap selanjutnya, guru akan mampu menyusun sebuah tindakan penelitian.

Tahap Tindakan [Act]

Perencanaan yang matang, akan menghasilkan langkah yang juga matang. Pada tahap tindakan dalam pelaksanaan PTK, guru dituntut selalu berpedoman pada perencanaan yang dia susun sebelumnya secara rinci. Karena itu, harus selalu ada sinergi antara perencanaan dengan tahap tindakan. Artinya pada tahap tindakan, seorang guru yang melakukan penelitian, diupayakan semaksimal mungkin untuk selalu “on the track” dengan apa yang dia rencanakan.

Kemampuan guru dalam meningkatkan praktek mengajar,  kemampuannya dalam meningkatkan interelasi dengan teman-teman sejawat guru, akan teruji melalui kegiatan ini. Guru yang melakukan penelitian tindakan dituntut mampu melakukan sharing knowlwdge dengan sesama guru.

Kemampuannya dalam soal ini, akan menjadi faktor lain keberhasilan dia dalam menyusun PTK.  Ujung dari tindakan penelitian ini, harus selalu diingat dalam kepentingan meningkatkan kualitas pembelajaran dia sebagai seorang guru di dalam kelas.

Tindakan Pengamatan [Observe]

Bagaimana upaya perbaikan yang dia lakukan dalam PTK dimaksud, harus selalu diamati seorang guru yang sedang melakukan penelitian tindakan. Melalui pengamatan ini, seorang guru harus mampu mengamati bagaimana menurut dirinya, tentu saja, hasil dari tindakan-tindakan [baru] yang dia lakukan dalam bentuk uji coba tadi.

Karena itu, instrumen pengumpul data menjadi demikian penting. Di posisi dan di letak ini, guru yang melakukan Penelitian Tindakan dapat menjadi pengamat di satu sisi dan menjadi pengajar yang baik di sisi yang lainnya.

Agar data tetap dipandang objektif, pengamatan atas hasil penelitiannya penting untuk diamati oleh teman sejawat. Terman sejawat inilah yang akan menjadi media melakukan sharing knowledge. Pengamatan dimaksud misalnya menyangkut, bagaimana peningkatan kemampuan dia sebagai guru dan sebagai peneliti dimaksud mampu mengelola suatu pembelajaran yang dia sampaikan.

Apakah misalnya dia mampu menguasai kelas, menguasai materi ajar atau aspek lain yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran. Ini juga penting sebab secara filosofis, sesungguhnya tidak mungkin manusia dapat menilai dirinya sendiri secara objektif. Karena itu, butuh penilai pembanding yang dilakukan salah satunya oleh teman sejawat.

Khusus terkait dengan instrumen perekam data, seorang guru yang sedang melakukan penelitian tindakan, harus mampu memberi muatan fleksibelitas kepada pengamat dalam menambahkan atau mencatat informasi berharga yang mungkin tidak dengan begitu baik terekam dalam instrumen data yang telah dikembangkan oleh guru yang melakukan penelitian.

Tahap Refleksi berpikir

Setelah tiga tahap dilalui, fase berikutnya, guru yang melakukan penelitian tindakan, dituntut mampu melakukan refleksi atas semua perencanaan, tindakan dan proses observasi yang telah dilakukan sebelumnya.

Tahapan refleksi ini dibutuhkan agar melalui kegiatan ini, akan muncul gagasan-gasan baru. Gagasan baru dimaksud, misalnya berkaitan dengan kepentingan memulai siklus berikutnya.

Apa langkah mudah yang dapat dilakukan guru untuk melakukan proses berfikir ini? Di sini seorang guru yang sedang meneliti, dituntut mampu secara bersama dengan observer untuk melakukan refleksi secara bersama.

Di fase ini, secara kolaboratif guru yang menjadi peneliti dengan pengamat secara bersama, tentu saja melakukan diskusi. Diskusi dimaksud misalnya menyangkut tentang, bagaimana hasil penerapan tindakan yang telah dilakukan? Mengapa hal tertentu bisa terjadi dan hal lain tidak terjadi. Persoalan lainnya, langkah apa yang dalam tahap selanjutnya harus dia lakukan sebagai seorang peneliti?

Inilah yang akan menjadi langkah awal dan sekaligus fase penting dalam penelitian tindakan. Mengapa? Karena secara teoretik, setiap siklus akan melahirkan siklus berikutnya.

Selain itu, proses refleksi ini juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan atau penyempurnaan mulai dari tahap perencanaan, tindakan dan observasi. Inilah tonggak penting dalam memulai siklus yang mesti ada dalam Penelitian Tindakan Kelas. Karena itu, tahap refleksi dapat dipandang sebagai tonggak baru sekaligus tonggak akhir dalam penyelesaian penelitian.

Sesungguhnya mudah langkah ini. Yang susah adalah memulainya. Mari kita coba yu …. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...