Inspirasi Tanpa Batas

Yakinlah bahwa tak Ada yang Kebetulan | Cara Ke luar dari Krisis Diri – Part 5

3 2

Konten Sponsor

Yakinlah bahwa tak Ada yang Kebetulan. Hidup itu tidak seperti putaran lotere atau judi. Hidup adalah perjalanan dari suatu skenario ke skenrio lain yang kita susun. Kita tidak pernah berdiri murni sebagai pemain, atau hanya berjalan sebagai sutradara. Kita secara tidak sadar selalu bergerak dalam tiga posisi sekaligus: Pemain, Sutradara dan Koreograph kehidupan kita sendiri. Selebihnya, serahkan kepada pemilik semua skenario, yakni Tuhan.

Karena itu, menang atau kalah, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, jatuh atau bangun, semua ada ukurannya. Yang menakar atau mengukur, diri kita sendiri, bukan orang lain. Yang tahu bahwa ini berbeban atau tidak, juga kita. Kitalah yang menjadi penentu atas apapun yang menjadi pilihan kita.

Banyak orang berontak atas nalar yang saya susun seperti ini. Mengapa? Karena banyak fakta dijumpai, jika skenario yang disusun selalu salah sasaran pada tingkat lapangan.  Saya sendiri tidak menolak adanya penolakan atas gagasan yang saya buat. Tetapi, jika kita berada dalam posisi jatuh, dan kita menganggap bahwa apa yang terjadi tanpa skenario, maka, kita tidak mungkin mampu menyusun langkah ulang untuk melakukan perbaikan.

Selain itu, melalui nalar ini, kita akan melihat apapun yang terjadi dalam diri sebagai akibat dari diri kita sendiri. Karena semua berasal dan bersumber dari diri kita, maka, pertanggungjawaban akan menjadi sangat personal. Kita tidak akan pernah menyalahkan orang lain dan menumpahkan kesalahan kepada orang lain. Sekalipun banyak memberi tahu kita bahwa ada pihak lain yang menjatuhkan kita.

Nyalakan Hati sebagai Lilin Kehidupan

Apakah bernalar misalnya ketika pabrik tapioka bapak saya yang berada di puncak bukit, tiba-tiba terbawa air bah. Padahal jarak antara sungai dan pabrik dimaksud sangat jauh dan tinggi. Banyak orang menasihati bapak agar mau datang ke tukang klenik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Dalam suasana seperti itu, bapak malah memanggil seluruh anaknya dan berkata:

Wahai anak-anak-ku, dengarkanlah ucapanku dengan baik. Jika kalian satu kali menampakkan kebaikan ke muka umum, maka, kalian akan mendapat ujian sebanyak seribu kali banyaknya dari kebaikan yang anda lakukan. Karena itu, tetaplah bersembunyi dalam segenap kebaikan yang harus dan sedang kamu lakukan. Kamu belum tentu sanggup menahan “serangan” dari keburukan atas kebaikan yang kamu lakukan.

Hari ini, banyak sekali orang meminta bapakmu untuk datang atau mendatangkan manusia-manusia “pandai” guna menyelesaikan masalah ekonomi keluarga kita. Katanya ada orang yang tidak suka, cuman dampaknya kena ke perusahaan. Kalian harus tahu, kini kita sedang ambruk karena pabrik tapioka kita hancur diterjang air bah. Aku bukan pelit dan tidak percaya akan keunggulan manusia lain untuk menyelesaikan masalah kita.  Tetapi harus ingat, itu hanya obor.

Namanya obor pasti sementara. Yang abadi adalah kebaikan hati kita. Itulah obor yang membawa anda semua tetap bersyukur atas apapun yang menimpa kita dan menjalani hidup tetap wajar. Jika hati anda menyala, maka ia akan tetap menjadi pelita yang menerangi jalan kehiduapan secara abadi.

Bapak tetap tidak datang dan tidak mendatangkan mereka yang patut disebut “pandai”. Ia justru memulai sesuatu dengan hal-hal yang sangat kecil dan sederhana. Ia menyelesaikan setiap beban hidup dengan cara mengencangkan ikat pinggang dan menata ekonomi keluarga dengan pelan.

Langkah Revolusioner

Aku mohon kalian bantu saya. Kalimat itu yang meluncur dari bapak kami. Caranya, kita mulai lagi menghemat. Kita kembali lagi menabung dan kita mulai melakukan sesuatu yang sederhana. Kurangi jajan harian anda dan makanlah dengan sesuatu yang kiranya dapat menahan lapar cukup lama. Misalnya yang seratnya tinggi seperti nasi dari ketan dan biji-bijian lain yang penuh karbohodrat.

Ia juga mengganti rokonya menjadi tembakau. Air susu diganti dengan air jagung. Margarin diganti dengan kaldu ayam. Minyak sayur tidak lagi membeli karena ia membuatnya sendiri dari biji kelapa. Lalab-lalaban dia tanam mulai dari ketela sampai ubi jalar. Kolamnya diganti isinya menjadi mujair dan ikan gabus yang gampang beranak.  Kandang ayamnya diisi dengan memperbanyak anak-anak ayam bethina.

Meski memakan waktu sampai tujuh tahun, selesai juga krisisnya. Kami kembali hidup normal dan wajar. Saat semuanya sampai pada titik yang menurut ukuran kami bahagia, bapak berkata: “Wahai anak-anakku,  mulai hari ini bikinlah gambar tentangmu untukmu. Akan seperti apakah potret masa depan anda. Masa depanmu akan sangat tergantung pada skenario anda hari ini.

Ingat lho tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang buruk bagi manusia. Semua yang dicipta Tuhan selalu berdimensi kebaikan. Anda juga harus ingat bahwa dukun sejati atas masalah yang kelak kamu hadapi adalah diri anda sendiri. By. Prof. Cecep Sumarna

  1. Ai Sabrina berkata

    Makna mengenal filsafat
    Kata dasar filsafat dari kata filof dan sofos. Filof itu cinta dan sofos bijaksana. Manusia tidak sampai pada tingkat bijaksana benar dan baik, namum manusia hanya mendekati bijaksana benar dan baik. Tidak sampai pada benar benar, karena kebenaran bijaksana dan baik yang hakiki hanya milik Allah. Agama itu bukan Allah tetapi agama itu pastilah menuju kebenaran kebijaksanaan dan kebaikan.

    Ai Sabrina
    PAI A semester I

    1. lyceum
      lyceum berkata

      Seharusnya komentar anda tentang filsafat masuk dalam domain filsafat ….. tema ini bukan masuk dalam domain filsafat

    2. lyceum
      lyceum berkata

      thank a lot

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar