Takdir itu Nyata | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 1

Takdir itu Nyata | Novel Bersujud dalam Nokhtah Kerinduan Tuhan Part-1
0 158

Sepoian angin di siang itu, hanya mampu menyibak tubuh dan mendinginkan peluh keringat yang mengucur deras.  Tubuh tiga perempuan yang masih sangat remaja, sedang menikmati suasana bahagia. Ketiga gadis itu, begitu manja dan terlihat rona indah di wajah dan di mata mereka. Siang itu, mereka sedang menikmati sejumlah pemadangan indah di pinggir Toko Asia, Tasikmalaya. Angin di siang itu, tak mampu membukakan helaian kerudung yang digunakan Yanti, Linda dan Ghina. Mereka tetap menggunakan kerudungnya, meski panas demikian menyeka.

Wajah dan penampilan mereka, semakin terlihat cantik justru saat mereka memakai kerudung. Setelan pakaian dan kerudung yang digunakan siang itu, tidak sedikitpun mengubah wajah dan tampilan yang memang rata-rata cantik dan menarik. Dalam kasus-kasus tertentu, penampilan mereka malah semakin tampak mempesona bagi siapapun yang melihatnya.

Yanti dan dua teman perempuan itu, saat itu berkisar di antara umur 20 tahun. Waktu itu mereka akan melakukan pesta, karena ketiganya baru dinyatakan lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri yang cukup Pavorite di Tasikmalaya, Jawa Barat. Betapa ketiganya terlihat begitu ceria. Mereka baru saja dinyatakan lulus dari sekolah.

Khusus untuk Yanti yang memiliki postur tubuh dan muka lebih cantik dibandingkan dengan kedua temannya itu, dinyatakan lulus dengan predikat spesifik. Ia dinyatakan best of the best di sekolahnya. Ia menjadi lulusan terbaik. Yanti memang dikenal memiliki talenta seni yang luar biasa, selain tentu karena dikenal sangat rajin. Ia diberi kesempatan untuk melanjutkan study S1 ke Universitas Padjajaran, Bandung.

Betapa Yanti bahagia. Karena ia bukan saja suka menjadi duta sekolah untuk mengikuti perlombaan Porseni, tetapi, juga sering diminta masyarakat menyenandungkan lagu dalam event-event yang lumayan membantu kehidupan diri dan keluarganya. Temannya yang satu bernama Linda, juga sama. Ia memperoleh PMDK ke STAN untuk ikatan dinas. Hanya satu dari temannya itu, yang harus kembali berjuang agar masuk UMPTN di Indonesia. Karena itu, Yanti dan Linda terus memompa semangat Ghina agar  memiliki motivasi dan tidak putus asa. PMDK yang diberikan sekolah kepada Yanti dan Linda, harus difahami biasa.

Takdir Hadir Berbeda

Akhirnya Ghina mengikuti saran Yanti dan Linda. Ia mengikuti kursus singkat di salah satu lembaga private guna melatih kemampuan menjawab soal ujian UMPTN. Begitu tekun dia mengikuti les dan test yang tidak mengenal lelah. Badannya yang agak sedikit gempal saja, berubah menjadi agak sedikit kurus. Ia ingin masuk ke Perguruan Tinggi Negeri. Itulah hati yang terus membelitnya.

Dan benar, bahwa pada akhirnya, Ghina dinyatakan lulus masuk ke Institut Teknologi Bandung. Ia mengambil Program Studi Teknik Sipil, yang waktu itu selalu menjadi pilihan pavorite para siswa yang ingin meneruskan study, khususnya dalam bidang Teknik.  Beberapa saat setelah Ghina membaca pengumuman di Koran Harian Nasional Republika, ia langsung mengirimkan surat kepada Linda dan Yanti. Surat itu berisi kalimat sebagai berikut:

“Linda dan Yanti, terima kasih atas spirit yang kalian berikan kepadaku. Sejujurnya, sewaktu kita dulu duduk bersama di cafe yang terletak di salah satu Toko Asia itu, aku bukan hanya sekedar malu sama kalian, tetapi, aku hampir putus asa. Aku ingin berontak pada takdirku, mengapa aku tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan PMDK seperti anda berdua dapatkan. Berkat kalianlah, aku kembali memperoleh gairah hidup dan kembali meraih cita-cita yang kuimpikan. Hari ini, aku telah dinyatakan lulus pada suatu program study yang aku impikan. Meski aku dan kalian tidak masuk dalam kampus yang sama, tetapi, saya percaya, kalian tidak akan melupakan aku dan sewaktu-waktu, kita dapat bertemu dalam forum yang lebih indah ….. “

Surat itu baru sampai kepada Linda dan Yanti, tepat dua hari setelah surat itu dikirim Ghina. Maklum waktu itu, belum banyak manusia Indonesia yang memiliki Hand Phon. Respons Linda dan Yanti sama. Di satu sisi mereka bahagia, tetapi, di bathinnya mereka tersiksa. Mengapa mereka tersiksa? Karena Linda dan Yanti, justru tidak dapat meneruskan studynya ke Perguruan Tinggi dengan alasan yang berbeda satu sama lain.

Tetesan Air Mata di atas Surat Ghina

Yanti yang orang tuanya relatif kaya dibandingkan Linda dan Ghina, terpaksa memupus semua cita-citanya, karena ia sebentar lagi akan dinikahkan. Yanti bakal dinikahkan dengan seorang laki-laki lebih tua selisih 5 tahun dengan dirinya. Laki-laki itu memang tidak terlalu ganteng, dan juga tidak terlalu tampak shaleh.

Hanya karena orang tua anak itu terhormat, maklum bapaknya seorang perwira tinggi Tentara Republik Indonesia, tawaran pinangan itu, tak mampu ditolak orang tua Santi. Sejak Santi diberitahu bahwa dia akan menikah dengan laki-laki itu, Yanti hanya mengurung diri di kamar. Ia tak kuasa untuk ke luar rumah. Cita-citanya untuk kuliah di Unpad, hapus sudah berganti menjadi impian yang menakutkan.

Sementara itu, Linda juga sama. Ia akan dinikahkan oleh bapaknya dengan seorang anak temannya sewaktu mereka mengikuti pendidikan di salah satu Pondok Pesantren di Madura. Orang tua Linda adalah seorang Kyai sepuh di kampung halamannya. Ia begitu shaleh, namun demikian protektive menjaga moral anak-anaknya. Ia sangat berwibawa, meski hanya berprofesi sebagai seorang kyai desa.

Termasuk sangat keberatan kalau anaknya harus mengikuti pendidikan S1 di tempat yang sangat jauh. Linda tidak diidzinkan. Bahkan dia disarankan untuk mengikuti pendidikan di Pondok Pesantren. Ia diharapkan menjadi penerus bapaknya. Akhirnya, Linda hanya meneteskan air mata dan berontak entah harus marah pada sipa.

Di tengah rasa sedih dan pedih hati Yanti dan Linda, mereka bangga dan bahagia atas kelulusan temannya, Ghina. Keduanya bangga kepadanya, meski, Yanti dan Linda menyesali nasibnya. Cita-cita mereka terkubur, karena keduanya ternyata justru yang tidak dapat meneruskan studynya. Tetesan air mata mengucur dan menempel di atas kertas surat Ghina yang dibaca mereka. By. Charly Siera –bersambung–

Komentar
Memuat...