Takwa Pintu Menuju Kebahagiaan Hidup | Tafsir Bisnis – Part 9

0 27

KATA muttaqien berarti orang yang bertakwa. Takwa, secara bahasa berarti takut. Karena itu, banyak pendapat yang menyebut derivasi makna dari kata takwa adalah khauf (takut). Kata khauf sering digunakan para shufi yang mencurahkan segala aktivitasnya hanya untuk menyembah Allah, karena mereka takut tidak dicintai Allah.

Jika takwa diartikan dengan takut, maka, kata muttaqien berarti orang yang takut. Siapapun dan dalam wujud apapun rasa takut itu menghinggap, maka, ia dapat disebut sebagai muttaqien. Hanya saja, karena kata takwa sudah menjadi icon  Islam karena termanifestasi dalam al Qur’an, maka rasa takut dimaksud dimaknai dengan takut menyekutukan Tuhan, takut berbuat dosa; besar dan kecil dan takut tidak memperoleh rahmat Tuhan. Orang yang memiliki rasa takut  dalam jenis terakhir itulah yang disebut dengan mutaqien.

Islam dengan al Qur’an sebagai rujukan utama, menempatkan takwa sebagai sesuatu yang esensial. Bertakwa akan dipandang sebagai inti sikap keberagamaan sekaligus sebagai tujuan hidup yang paling hakiki. Ketakwaan dipandang mampu menjaga manusia agar tetap menjadi manusia. Takwa dapat membuat manusia memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Ciri Manusia Bertakwa

Mungkin karena demikian esensialnya itu takwa, di ayat-ayat pertama surat al Baqarah [2]: 2-6, al Qur’an langsung berbicara soal ketakwaan. Ia menyebut bahwa al Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa. Dalam ayat dimaksud, Allah sepertinya sedang hendak menunjukkan bahwa ciri seseorang disebut bertakwa,  jika: 1). Percaya pada sesuatu yang ghaib atau yang metafisik; 2). Mendirikan shalat; 3). Menafkahkan sebagian rizkinya kepada mereka yang membutuhkan; 4). Percaya pada kitab-kitab yang diturunkan Allah –dalam bentuk al Qur’an, Jabur, Tawrat dan Injil–, dan; 5). Beriman pada hari akhir.

Lima ciri ini akan menjadi pusat kajian penulis dalam tema ini. Tulisan ini, banyak berisi ilustrasi dan lebih mengedepankan prinsip-prinsip rasionalitas dalam memahami rumusan ketakwaan. Tujuannya, agar pemahaman kita tentang konsep-konsep tadi, dapat langsung menyentuh dan berhubungan langsung dengan prinsip hidup manusia itu sendiri.

Memahami Alam Ghaib

Kepercayaan pada yang ghaib atau kepada yang metafisik-immateril, ditempatkan al Qur’an sebagai rukun dasar pertama ketakwaan seseorang. Takwa mengharuskan seseorang untuk percaya bahwa di balik yang fisik ada eksistensi sesuatu yang bersipat metafisik imateril. Di balik yang materil ada sesuatu yang bersipat imateril. Di Balik yang tampak, ada sesuatu yang tidak tampak. Dunia selalu mencari keseimbangan diri dalam ujung yang selalu diametral.

Kenapa kepercayaan pada yang tidak tampak ini menjadi demikian penting? Sebab Allah sendiri adalah sesuatu yang ghaib atau metafisik-imateril. Bagaimana mungkin seseorang mempercayai adanya Allah, padahal ia tidak percaya pada sesuatu yang ghaib.

Dengan bahasa lain, pernyataan di atas mengandung suatu tujuan yang sangat esensial dalam kehidupan umat manusia. Sebab jika kepercayaan kepada yang ghaib ini hilang, maka esensi kosmos tidak akan pernah memerankan Tuhan. Tuhan adalah wujud unik yang bersipat abstrak. Ia tidak kongkret. Ia bukan hanya tidak dapat diraba, tidak dapat dirasa, tidak dapat dilihat, tidak dapat dicerap, tetapi, bahkan Ia tidak dapat dipikirkan wujudnya. Wujud Tuhan tidak mungkin dapat dipikirkan manusia. Ia kongkret dalam dunia abstrak, atau sebaliknya, Ia abstrak dalam dunia yang kongkret. Ia hadir dalam karakter dan bukan dalam overt atau dalam covert behavior manusia yang terbatas. Argumentasi kenapa Tuhan mencipta atau argumentasi bagaimana ciptaan ini berkembang dinamis, tentu, bukan suatu larangan untuk dipikirkan.

Karena itu, menjadi benar apa yang dikatakan Nabi Muhammad yang menyebut bahwa pikirkanlah ciptaan Tuhan dan jangan sekali-kali memikirkan dzat Tuhan. Larangan itu, bukan karena Tuhan terlampau sakral atau terlampau misterius, tetapi, secara manusiawi tidak mungkin ada yang mampu memikirkan-Nya. Eksistensi Tuhan selalu berada di luar kategori historis manusia. Yang karena itu, semakin sering manusia memikirkan Dzat  Tuhan, maka ia akan semakin sulit memperoleh keyakinan akan adanya Tuhan.

Dunia dan Prinsip Dualisme

Sejauh yang mampu peneliti kaji, dunia juga selalu menunjukkan dualisme. Berbagai fenomena yang terdapat di alam, tidak pernah menunjukkan karakter tunggalnya. Setiap ada wanita pasti ada pria. Setiap ada siang pasti ada malam. Setiap ada ada musim hujan pasti ada musim kemarau. Setiap ada malam pasti ada siang. Setiap ada pagi pasti ada siang. Karena itu, secara filosofis, tidak mungkin ada sesuatu yang bersipat materil, jika tidak ada sesuatu yang bersipat imateril. Yang materil dengan yang imateril, persis seperti dua ujung simetris yang saling mendukung. Hilangnya satu ujung, secara otomatis akan menghilangkan ujung yang lain.

Dan selain Tuhan, yang ghaib itu juga ternyata banyak. Soal Syurga dan neraka juga ghaib. Bagaimana kita mempercayai ada Syurga –sebagai balasan untuk manusia muttaqien— dan Neraka –sebagai balasan untuk manusia yang kaffir—padahal ia tidak kongkret. Seluruh pancaindra manusia, tidak dapat mengambil kesan soal nikmatnya Syurga dan pedihnya siksa neraka. Empirisme manusia juga sama. Belum pernah ada orang yang berkunjung ke dalam Syurga atau berkunjung ke dalam neraka yang kemudian memberitahu betapa nikmatnya Syurga atau betapa pedihnya Neraka. Kenikmatan Syurga dan kesengsaraan Neraka –akan mendorong manusia untuk menyerahkan dirinya secara total kepada Allah swt berserta hokum yang terdapat padanya.

Tuhan –dalam literature al Qur’an yang mampu saya baca—selalu menggambarkan kenikmatan Syurga atau menggambarkan pedihnya siksa neraka hanya kepada manusia –. Kenikmatan dan kesengsaraan Syurga dan Neraka tidak dibincangkan Tuhan untuk Malaikat atau untuk Syeitan–. Menurut saya, ini pasti ada maknanya atau pasti ada argumentasinya.

Di antara sekian argumentasi itu, menurut saya, Tuhan selalu Mencipta dalam dualisme yang teratur dengan calon penghuninya masing-masing. Syurga akan menjadi nikmat bagi manusia dan Jin, tetapi, sangat mungkin terasa sengsara bagi Syeitan. Atau sebaliknya! Neraka terasa menyengsarakan bagi manusia, tetapi, bagi Syeitan … kita tidak pernah mengetahuinya. Al Qur’an sendiri tidak pernah mengiluistrasi kesulitan Syeitan ketika akan masuk neraka. Dengan bahasa lain, kepercayaan kepada seluruh yang ghaib, memang hanya untuk manusia. Sebab selain manusia, tampaknya segala kehidupan selalu bersipat ghaib. So …. Kenapa tidak percaya pada yang ghaib dan ini ciri pertama sekaligus utama bagi mereka yang hendak disebut sebagai muttaqien. **(Prof. Dr. H. Cecep Sumarna)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.