Tangisan Ahok dalam Drama Politik dan Pembelaan Agama

0 12

TANGISAN Ahok dalam Drama Politik dan Pembelaan Agama. Pernah suatu hari, saya dan beberapa teman profesor berkumpul di Bandung, untuk menguji salah seorang promovendus yang mengkaji soal kebijakan publik yang dilakukan pemerintah atas fenomena Ahmadiyah di Kabupaten Kuningan. Sebelum acara promosi terbuka dimulai, salah seorang profesor yang kebetulan menjadi team di Komisi Pemberantasan Korupsi mengatakan: “Saya heran, Ahok gagah sekali ketika ditanya wartawan terkait dengan materi pertanyaan yang diberikan penyidik KPK.

Padahal saat dia ditanya atas aduan sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa dirinya masuk dalam domain masalah di RS Sumber Waras, dia itu menangis dan terkesan menghiba kepada jaksa KPK.

Kawan saya itu mengatakan bahwa disitulah hebatnya Ahok. Ia mampu menyembunyikan rasa duka bathinnya ketika berhadapan dengan media dan publik luas. Inilah yang hampir tidak pernah banyak disentuh dan diketahui banyak orang. Ia mampu berdiri dalam dua sisi (duka-suka) atau sebaliknya dalam waktu sama.  Ia juga mampu berada dalam dua domain yang berbeda, yakni gagah dan lemah di waktu yang sama juga.

Ahok Memang Menangis

Saat teman kami berbicara waktu itu, saya hampir tidak percaya dan banyak kawan lain yang juga tidak percaya. Kami merasa bahwa dia banyak dilindungi oleh pihak-pihak tertentu. Sebab dari gestur tubuh yang ditampilkan, selalu mewujudkan diri secara prima dan hampir tidak mungkin dia bisa bersedih apalagi menangis. Tetapi, hari ini 13 Desember 2016, berbagai media; cetak dan elektronik, menampilkan Ahok menangis di sidang pertama atas kasus yang membelitnya yakni penistaan atas agama. Di siding perdana ini, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, benar-benar menangis.

Lepas apakah itu tangisan Nurani –sebagaimana Djarot Syaeful Hidayat katakan—yang menyebut bahwa tangisan Ahok saat membacakan nota keberatan dalam sidang pertama terkait kasus dugaan penistaan agama yang digelar di gedung eks Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa, 13 Desember 2012 benar atau tidak, atau tangisan membangun simpati sebagaimana disindir para Neteizen untuk kepentingan kampanye terselubung, yang jelas, Ahok memang menangis. Saya baru percaya kalua Ahok itu memang bisa menangis.

Djarot menganggap bahwa Ahok tidak memiliki niatan apa pun untuk melakukan penghinaan terhadap kitab suci agama apa pun, terlebih kitab suci Islam, di mana orang tua angkatnya sendiri sebagai Muslim. Meskipun ia mengaku terlahir sebagai seorang non Muslim, yakni Kristen. Jadi kalau saya menghina al Qur’an, berarti kata Ahok, saya tidak menghormati ayah angkat saya.

Pembelaan Dialektik Intelektual Muslim

Pembelaan cukup dialektis justru pernah disampaikan Buya Syafi’i Maarif dalam Tempo.co 02 Desember 2016. Ia mengatakan bahwa jika dalam proses pengadilan nanti, Ahok terbukti bersalah karena terdapat adanya unsur pidana pada kegiatan 27 September 2016 itu, saya usulkan agar dia dihukum selama 400 tahun atas tuduhan menghina Al-Quran.

Tujuannya, agar pihak-pihak yang menuduh adanya penghinaan terhadap al Qur’an itu, terpuaskan, tanpa batas sekalipun. Biarlah generasi yang akan datang yang menilai berapa bobot kebenaran tuduhan itu. Sebuah generasi dalam narasi Buya Syafi’I dimaksud yang diharapkan lebih stabil dan lebih arif dalam membaca dinamika politik Indonesia yang sarat dengan dendam kesumat ini. Saya tidak tahu apakah di KUHP kita terdapat pasal tentang rentang hukuman sekian ratus tahun itu.

Baca Juga: Fenomena Ahok Telah Menjarakkan Rakyat Dengan Pemimpin Umat

Jika tidak ada pasal yang memberi ruang untuk dihukum selama itu, maka, kata Buya ciptakan pasal itu dan Ahok saya harapkan menyiapkan mental untuk menghadapi sistem pengadilan Indonesia yang patuh pada tekanan massif pihak tertentu.

Bertarung di antara Drama Politik dan Agama

Bagi saya sendiri, drama keagamaan atau drama politik ini memang pasti berbelit. Perjalanannya akan sangat panjang. Fenomena ini, sulit membuat dinding tebal untuk memisahkan apakah fenomena Ahok ini, bagian krusial politik Indonesia, atau, catatan penting betapa kontekstualisasi agama, sudah semakin dekat dengan jiwa para pemeluknya.

Analisanya adalah, ketika “pertandingan” atas nama agama terjadi, hampir tidak ada cerita yang menang. Sekelas Socrates (dipaksa minum racun kematian) atau Galileogalilei sekalipun, ia dipaksa berada dalam tekanan dan dihukum (diinkuisi) hanya karena tafsir ilmiah berbeda dengan tafsir gereja.  Ahok …? Agak sulit diramal… **


Penuliss  : Prof. Cecep Sumarna
Editor      : Acep M Lutvi

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.