Tangisan Yanti Yang Tak Pernah Henti | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part – 5

Tangisan Yanti Yang Tak Pernah Henti | Nokhtah Kerinduan Tuhan Part-5
0 142

Yanti tak pernah berhenti menangis. Hari-harinya hanya dipenuhi perasaan duka, terlebih setelah ia melahirkan anak ketiganya. Suaminya yang menjadi anak perwira itu, terlibat dalam berbagai kasus asusila dan pelanggaran moral yang cukup kuat. Setiap hari, suaminya pulang larut malam dan dalam keadaan mabuk. Mulutnya dipenuhi bau alkohol yang sangat menyengat.

Sangat mudah suaminya memukul Yanti saat terlambat membuka pintu rumah misalnya. Wajahnya yang dulu sintal, kini terlihat sangat kurus dan terkesan loyo. Ghairah hidupnya hancur berantakan, dan tidak ada satupun yang dapat diandalkan untuk melerai berbagai persoalan hidup yang dia alami.

Bapaknya yang menjadi purnawirawan meski dalam jabatan sebagai perwira tinggi, juga tidak mampu membuat anaknya menjadi berubah. Dalam banyak kasus, bapaknya yang masih tampak angkuh dan masih menunjukkan diri sebagai seorang perwira itu, malah sering menyalahkan dirinya dan sedikitpun tidak memberi toleransi atas apa yang menimpanya. Padahal suaminya, juga tidak memberi nafkah baik lahir maupun bathin. Ia hanya bercurhat kepada Tuhannya dalam tangisan-tangisan malam yang tak pernah berhenti.

Do’a Terasa Jauh dari Harapan

Malam-malam yang dilalui Yanti adalah malam kegelisahan. Terlebih saat air susu tak mampu ia beli. Belum kalau anaknya meminta jajan seperti kebanyakan anak-anak seusianya. Usia anaknya juga sudah mulai harus Sekolah Dasar. Ia akhirnya membuka warung kecil-kecilan dengan modal utama dari orang tuanya yang sudah mulai tua dan loyo. Beberapa hari saat usahanya dijalankan di garasi rumah yang dihuninya bersama dengan suaminya itu, lumayan untuk menambal kebutuhan keluarga. Tetapi kemudian, penyakit suaminya semakin menggila. Ia selalu meminta kepada Yanti dengan berbagai alasan. Jika tidak dikasihnya, maka, muka Yanti yang menjadi sasaran. Karena itu, mukanya sering kebiru-biruan.

Yanti akhirnya hanya berkomunikasi dengan Tuhannya secara khusu’ di setiap malam yang dia lalui. Di antara do’a yang selalu Yanti panjatkan adalah sebagai berikut:

“Ya Tuhan … jika ini takdirMu aku ikhlash. Namun jika ini merupakan akibat dari dosa yang tak pernah aku sengaja, maka, mohonkan ampunan atas semua apa yang menimpaku ini. Aku takut dan tak ingin sedikitpun, apa yang menjadi dosaku, turut serta menyebabkan anakku terkena dampak atas situasi yang kuhadapi. Kini, aku tak memiliki siapa-siapa kecuali diriMu. Jika memang suamiku adalah hakku untuk menjadi pendampingnya sampai aku mati, maka, berilah kekuatan kepada jiwanya untuk segera sadar dan menta setiap puing kehidupan kami bersama yang telah rapuh ini. Namun jika dia bukan takdirku, berilah jalan terbaik untuk melerai semua masalah yang kami hadapi dengan jalan dan cara-Mu”

Itulah do’a yang tak pernah Yanti lupakan. Setiap malam dalam sujudnya yang penuh duka dan aroma melankolis, Yanti mengadu kepada Tuhan di setiap shalat tahajud yang dia lakukan. Ia merasa bahwa hanya dengan Tuhanlah segala persoalannya ini dapat diselesaikan. Hampir tiga bulan berturut-turut, Yanti berdo’a di tengah malam tanpa henti, kecuali saat menstrusi menimpanya.

Kedatangan Linda dan Ghina

Di hari yang ke 90 setelah do’a-do’a dipanjatkan Yanti, entah mengapa saat itu hari minggu, Linda dan Ghina datang menjumpai Yanti di Kota Bandung. Betapa kagetnya Linda dan Yanti melihat mimik muka yang ditampilkan Yanti yang berubah 180 derajat. Yanti yang dulu penuh ghairah, penuh canda dan periang itu, tiba-tiba sangat melankolis dan sedikitpun tidak menunjukkan Yanti yang hebat. Linda yang sudah menjadi Doktor itu diam dan sedikitpun tak bersuara. Ia hanya meneteskan air mata duka secara pelan dengan mengusapnya pakai tisu basah. Ia tidak memberi saran apalagi nasihat kepadanya.

Hal ini berbeda dengan apa yang ditampilkan Ghina yang menjadi Magister dari Jerman itu. Dia mengatakan kalimat-kalimat aneh yang nyerocos dan tak peduli Yanti sedang menghadapi masalah apa. Dia mengatakan:

“Yanti … ceritalah kau pada kami. Ada apa dan apa yang menimpamu. Jika kamu sakit dan kurus kering seperti ini karena suamimu, maka, segeralah kamu lapor sama polisi. Kamu masih muda dan usia kita masih cukup melakukan perubahan dan berbenah diri. Meski kamu tidak menjadi Sarjana, yu kamu ikut sama aku dan menjadi pegawai di kantorku saja untuk menjadi semacam asistenku. Aku akan lapor sama owner perusahaan. Jika ditolak maka, kamu saya usahakan bekerja di kantor suamiku saja.  Itupun jika kamu mau”

Saat kalimat terakhir Ghina itu muncul, mata Yanti berubah berbinar. Ia meminta saran dari Linda dan Linda menyetujuinya dengan penuh semangat. Tetapi kamu kata Linda nggak usah lapor polisi. Lebih baik datang saja ke Pengadilan Agama untuk melakukan perceraian. Yanti menganggukan kepala dan setuju atas gagasan Linda. Mereka berpelukan hangat dan Yanti bercerita akhirnya dengan penuh duka mengenai perkawinannya–bersambung. By. Charly Siera

Komentar
Memuat...