Connect with us

Puisi

Tanpa Ruang | Kumpulan Puisi Pencarian Jati Diri

inten cahya

Published

on

Puisi Remaja. Tanpa Ruang Kumpulan Puisi Pencarian Jati Diri

Lyceum Indonesia, menemukan calon sastrawan Indonesia baru. Ia seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam, IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Ia dalam amatan kami memiliki potensi besar untuk menjadi penulis remaja yang cukup baik. Ia menampilkan diri sebagai sosok yang hampir tidak ditemukan sebelumnya. Ia bersahaja, tetapi, memiliki move dan magma internal yang cukup baik.

Ketika tim lyceum mencoba melakukan pelatihan penulisan, nama Inten Cahya, muncul menjadi icon penulis yang cukup imaginatif. Karena itu, kami merasa perlu untuk mewadahi dan memberi ruang guna pengembangan kemampuan menulisnya dalam sekolah bebas. Suatu sekolah yang salah satunya tersedia di Lyceum Indonesia. Dan dugaan kami benar. Ternyata, dara kelahiran Ciamis ini, mampu membuat sesuatu yang berbeda.

Tentu jika pembaca ingin mengetahui tulisan-tulisannya, kami akan menyajikan khusus tulisannya ke dalam kumpulan puisi dan karya sastra remaja di Lyceum.

Rahasia Hidup

Hidupku rahasia
Aku hanya berjalan di bumi yang basah, dilangit yang sesekali cerah
Sewajarnya, seadanya dan semampunya
Hingga Tuhan memberiku sebuah rencana

Tuhan mentakdirkan aku dan kamu bertemu
Entah untuk ujian kesetiaanku
Atau mungkin jodoh yang sudah terlepas dari belenggu
Entahlah aku tak pernah tahu

Kehadiranmu

Ajarkan aku menjalankan hal produktif
Bahwa aksara menjadi pewakil suara
Bahwa membaca meminimalisir mencela
Bahwa sastra menjadikan kau abadi dalam aksara

Kehadiranmu

Kau ajak aku menikmati alam
Memasuki pintu kejujuran tanpa harus ku buka dan ku tutup
Berbeda dengan gedung menjulang tInggi
Yang tak semua orang bisa menik(mati)

Kehadiranmu
Kau ajak aku merasakan dinginnya alam
Merasakan bahwa nikmat Tuhan tak pernah bungkam
Tak seperti dingin di gedung sebelah sana
Yang menegaskan dinginnya sikap kemanusiaan

Kehadiranmu
Kau ajak aku bernafas panjang menutup mata
Merasakan wanginya mekar bunga-bunga
Tak seperti bangunan kokoh diujung sana

Yang hanya memberikan bau kapitalisme menusuk sampai ke dada

Dan dengan kehadiranmu
Kau ajak aku menikmati senja
Ditemani kopi dan cahaya jingga

Tak seperti beton di ufuk sana
Silau cahayanya memantul
Menandakan bahwa mata orang bawah tak akan sanggup memandangnya

Terimakasih Tuhan

Perjalananku sekarang tak hanya ikuti arus
Tak hanya tentang gendut dan kurus
Tapi tentang bagaimana menjadi penerus
Yang bisa berfikir dari berbagai sudut

 

Cirebon, 04 Oktober 2017

Continue Reading
4 Comments

4 Comments

  1. Silmy Awwalunnisa TIPS/1

    Silmy Awwalunnisa TIPS/1

    28-10-2017 at 08:14

    Karena karya lah yang akan menjadikan dirikita abadi. Saat kita tiada nanti, kita takan hilang. Karena karya kita akan selalu ada di dalam hati dan pikiran penikmatnya.

    • inten cahya

      inten cahya

      02-11-2017 at 14:38

      Yapssss setuju sekaliii 🙂
      Seperti yg dikatakan Pramoedya Ananta Toer, bahwa Menulis adalah pekerjaan untuk keabadian.

      • Cecep Sumarna

        Cecep Sumarna

        02-11-2017 at 20:29

        Karena itu abadikanlah diri kita … agar dapat dikenal

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.