Inspirasi Tanpa Batas

“Tarian Samba” Arifin C. Noor dalam Lakon Genjer ala Gerwani di Lubang Buaya

0 0

Konten Sponsor

Tarian Samba Arifin C. Noor. Adalah Jenderal Gatot Nurmantyo, mengawali peristiwa heroisme kebangsaan Indonesia hari ini. Entah bagaimana cerita awalnya, ia dengan begitu bersemangat, meminta seluruh jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI), untuk kembali menonton film Gerakan 30 September 1965. Sang jenderal tidak lagi memperdulikan bagaiamana persepsi publik atas keberanian perintahnya, yang pasti ia bertanggungjawab penuh atas perintah dimaksud. Intinya, seluruh jajaran TNI yang dia pimpin diwajibkan menonton film dimaksud.

Arifin C. Noor,  sosok di balik keberhasilan mempublish film ini, dianggap banyak sineas termasuk dalam jajaran sutradara objektif. Selain tentu, menurut Jajang C. Noor, istrinya, sangat humoris. Ada sebagian kalangan menganggap bahwa film ini, tidak mampu menunjukkan realitas yang sesungguhnya terjadi. Tetapi, mengutif Nurmantyo, film justru referensi mudah dalam memahami spektrum sejarah penting bangsa Indonesia, khususnya terkait dengan kasus 1965.

Ia juga secara tidak langsung menampilkan suatu bahasa tubuh yang menyiratkan bahwa memahami peristiwa 1965, seharusnya bukan hanya berkepentingan bagi TNI, tetapi, juga bagi bangsa Indonesia.

Film wajib anak sekolah di masa Orde Baru sejak tahun 1984 ini, memang kontroversial. Imam Azis salah satu pengurus PBNU dalam bidang kebudayaan, belakangan bahkan menyatakan bahwa film “G 30 S/ PKI” adalah film sampah. Meski pernyataan ini, disesalkan pengurus PBNU lain. Sebut misalnya apa yang ditulis Djoko Edhi Abdurrahman [Rabu , 20 September 2017, 08:52 WIB], yang menyebut Azis sebagai sosok yang tidak tahu film lalu harus berbicara soal film.

Ilham Aidit tentu saja bagian lain dari mereka yang meragukan film ini. Film yang mengisyahkan Aidit merokok misalnya. terlalu berlebihan. Mengapa? Sebab bapaknya dikenal tidak suka merokok. Atau apalagi ketika film ini mengsyahkan tentang Tarian dengan lagu Genjer-genjer saat menyambut para Jenderal yang akan dibunuh.

Menurutnya, berdasar pada cerita seorang polisi yang ikut tidak disengaja ke Lubang Buaya, justru menyatakan bahwa saat proses itu berlangsung, kondisinya sangat sunyi dan senyap. Bagaimana sunyi dan senyap diimaginasi menjadi tarian dengan musik genjer-genjer tadi.

Dengan nalar dan logikanya masing-masing, termasuk tentu Jajang C. Noor meyakini kalau suaminya tidak bisa diintervensi. Termasuk kemungkinan di intervensi penguasa dan tentara waktu itu. Karena itu, alur cerita dan logika sutradara yang dimainkannya, menurut Jajang harus difahami objektif.

Film yang Menjadi Tontonan Wajib

Film yang disutradrai Arifin C. Noor ini, memang sempat menjadi tontotan wajib anak sekolah di era Orde Baru. Mereka yang sekolah di periode 1984 – 1998, pastiakan menonton film ini dalam belasan kali nonton. Namun setelah masa reformasi bergulir, film dimaksud, “nyaris tidak berenergi. TVRI sendiri, tampaknya sering lupa untuk tidak menayangkan film ini, entah apa sebabnya. Semua tiba-tiba berhenti. Di sekolah anak-anak juga tidak lagi mengenal cerita “mengerikan” yang ditampikan film ini.

Sembilan belas tahun sudah, generasi bangsa Indonesia tidak mendengar kisah petualangan sekelompok bangsa Indonesia, yang mungkin belum tuntas membangun jati diri kebangsaannya. Sekali lagi, di sini Gatot Nurmantyo mengawali lagi dan ia mendapat sambutan hangat publik atas gagasannya. Selamat Jenderal … Team Lyceum Indonesia

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar