Inspirasi Tanpa Batas

Tauhid Vertikal dan Tauhid Horizontal | Tuhan pun Berpuasa Last Part

0 66

Konten Sponsor

Tauhid itu adalah proses penyatuan. Baik penyatuan Ilahiyah yaitu kea tau dengan Allah. Penyatuan Basyariyah yaitu ke atau dengan manusia. Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan ialah yang ditawarkan oleh puasa. Sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi.

Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi. Pembebasan dari tidak pentingnya identitas sosial keduniaan di hadapan Allah. Tauhid sebagai perjalanan deindividualisasi berarti mengupayakan proses untuk larut menjadi satu atau dilenyapkan ke dalam wujud qidan baqa’ Allah. Di mana manusia hanya di-ada-kan, seolah-olah ada, ada-nya palsu oleh yang Sejati Ada.

Yang juga ditawarkan oleh puasa ialah proses dematerialisasi atau perohanian. Ini bisa dipahami melalui konteks peristiwa Isra Mi’raj di mana Rasullullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya.

Maka dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersiapkan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan dunia, perilaku, peristiwa) untuk di energikan menuju pencapaian cahaya. Proses demaerialisasi, rohanisasi atau transformasi menuju Allah, meminta hal-hal tertentu untuk ditanggalkan dan ditinggalkan. Sederhananya sering orang bilang : jangan mati-matian mencari hal yang tak bisa dibawa mati.

Melampiaskan, Mengendalikan

Proses tauhid horizontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Jika masih pribadi yang individulaistik ia masih gumpalan. Begitu integral-sosial (Tauhid Basyariyah) ia mencair, melembbut. Yang individualistic itu temporer dan berakhir sedangkan yang tauhid basyariyah itu baqa’ dan tak berakhir.

Oleh karena itu proses-proses menuju keadilan sosial dan lain sebagainya merupakan aktualisasi tauhid secara horizontal. Kita tinggal memperhatikan setiap sisi dari proses sosial umat manusia melalui terma-terma materialisasi vs perohanian satu vs kemenyatuan, penggumpalan vs pelembutan sampai akhirnya nanti pelampiasan vs pengendalian.

Ibadah puasa merupakan jalan tol

Bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemengan

Ditengah tegangan konflik tersebut di atas.

Juga dalam pergulatan antara iradatun-nas (individualism individu kecil)

Dan iradatul-lah (individu besar total)

Analisis Penulis :

Dalam pembahasan diatas, bagian ini merupakan bagian klimaks dari pemaparan dalam pembahasan sebelumnnya. Disini dijelaskan mengenai makna spiritual dan makna sosial dari puasa seperti pada judul awal. Kesimpulan dari pembahasan ini ialah bahwa manusia harus berusaha menanggalkan hal yang tidak akan bisa di bawa mati (bukan berarti anti dunia) tetapi sinkron antara mendunia-akhiratkan kehidupan.

Dan untuk makna sosialnya ialah identitas sosial, harta benda, segala pemilikan dunia, didistribusikan ke dalam keberbagian sosial. Tak hanya saja bersifat individulaistik. Produk maksimal puasa abgi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar