Take a fresh look at your lifestyle.

Jangan Asal Share, Begini Teknik Kritisi Kebenaran Informasi

0 34

Beberapa fenomena sosial dan politik di negeri ini menghasilkan tsunami informasi yang membuat penulis gatal untuk mengulas bagaimana cara menilai suatu informasi yang disebarkan secara elektronik, baik melalui media sosial, portal berita, blog, dan lain sebagainya. Pasalnya, informasi-informasi terkait fenomena yang ada terlalu mudah untuk di-share oleh banyak pembaca, tanpa terlebih dahulu menilai benar-tidaknya informasi tersebut.

Tindakan asal share ini bisa menjadi fintah dan tentunya merugikan. Baik pihak yang pro maupun yang kontra akan suatu fenomena –sebagai contoh fenomena dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok – , jangan sampai buta akan informasi dan tidak punya filter, semua dianggap benar lalu kemudian di-share ke yang lainnya.

Dengan pengetahuan seadanya yang penulis miliki dan tidak berdasarkan kemapanan teori dan peristilahan, penulis mencoba memberikan tips bagaimana menilai suatu informasi yang layak untuk dikonsumsi, dipercaya lalu di-share. Pendekatan yang dipakai ada dua, pertama pendekatan teknis, kedua pendekatan redaksi dan tata bahasa informasi.

Pendekatan Teknis

1. Sulit menemukan kepercayaan pada sebuah (sub) blog

Kita memang harus berterima kasih dengan adanya blog, karena blog-lah informasi menjadi lebih kaya dan karena kekayaannya itulah sulit untuk mendapatkan informasi yang berkualitas. Siapapun bisa membuat blog dengan mudah, apalagi subdomain dari sebuah blog host, seperti .blogspot.com atau .wordpress.com. Karena kemudahannya itulah maka kualitas dari informasi menjadi berkurang, dan kualitas keilmuan dari penulis informasi tidak bisa dipertanggungjawabkan karena kita tidak selalu tahu siapa sih –dalam konteks keilmuan- penulisnya. Blog boleh dijadikan rujukan hanya untuk hal-hal yang tidak terlalu sensitif seperti tutorial, trik dan tips. Jadi ketika ada informasi yang beredar dengan sumber dari blog, saran penulis langsung saja biarkan informasi tersebut berhenti pada Anda.

2. Percayalah pada protokol HTTPS

Informasi yang menyebar berasal dari situs dengan top level domain, misalnya beritabagus.com, islamicnews.net, beritaviral.org, akan lebih mudah untuk dipercaya daripada sebuah blog, tetapi tetap kita bisa membedakan kualitas suatu situs dari protokol yang digunakan.

Jika dicermati, pada bagian alamat suatu situs atau URL, dapat ditemukan protokol yang digunakan. Ada protokol HTTP yang mana ini merupakan protokol umum dalam sebuah situs, dan ada protokol HTTPS yang lebih secure dalam menggaransi keamanan informasi. “S” yang dimaksud dalam HTTPS adalah secure, dan setiap protokol HTTPS akan dicek pada browser (firefox, chrome, dll) apakah sudah diregistrasikan dan mendapat sertifikat SSL atau tidak.

Lebih percayalah pada protokol HTTPS daripada HTTP, mengapa? Karena untuk memperoleh sertifikat SSL tidaklah gratis, dan pemilik situs yang menggunakan HTTPS artinya memiliki niat untuk menjamin infromasi terpercaya. HTTPS biasanya digunakan oleh situs-situs berskala besar seperti facebook, google, e-commerce, dll.

Contoh SSH
Contoh Website yang Sudah Menggunakan SSH/SSL

Jadi situs seperti https://lyceum.id ini bisa dipertanggungjawabkan kualitas informasinya.

3. Lihat pemilik situs

Kualitas informasi dari situs dapat dilihat dari siapa yang bertanggungjawab pada situs tersebut, atau dengan kata lain pemiliknya. Pemilik situs biasanya dicantumkan pada bagian akhir suatu situs (footer) atau pada sebuah menu khusus yang memuat informasi pemilik, biasanya berupa menu “Tentang kami” atau “About Us”. Mencantumkan pemilik pada footer dan ada halaman tentang kami saja tidak cukup bisa dipercaya, apabila cantuman tersebut tidak cukup jelas siapa, apa dan dimananya. Sebagai contoh muslimoderat.net, tidak jelas siapa, apa dan dimana pemiliknya. Meskipun terdapat kontak media sosial seperti fan fage facebook-nya dan official twitter-nya, tetapi lagi-lagi di media sosial tersebut tidak mencantumkan informasi pemiliknya. Situs yang tidak jelas pemiliknya apalagi tidak mencantumkannya sama sekali, tidak layak untuk dikonsumsi.

Pendekatan Redaksi dan Tata Bahasa Informasi

Permainan bahasa dan gaya penulisan harus sangat diperhatikan disini. Sering kali judul mengecoh pembaca dan seringkali isi informasi tidak mencerminkan judulnya. Jangan asal share jika hanya dengan membacanya tanpa mengkritisi, dan lebih celaka jika hanya dengan melihat judulnya saja seolah cukup untuk langsung di-share.

Contoh permainan bahasa dalam konteks lain misalnya sebuah pusat perbelanjaan menuliskan “diskon hingga 90%”, yang bagi orang yang tidak melek bahasa diartikan semua barang dapat diskon 90%, padahal tidak demikian. Contoh lain bahasa “Total hadiah 1 Miliar” yang tidak berarti ada hadiah 1 Miliar yang dapat diperoleh, akan tetapi akumulasi dari semua nilai hadiah.

1. Judul yang tidak memiliki tata bahasa yang baik

Kata-kata seperti “TERUNGKAP!!”, “Sebarkan..!!!”, “Heboh…..” atau “M*mpus….” tidak memiliki tata bahasa yang baik dan memiliki sentimen tersendiri terhadap objek informasi. Informasi yang memiliki sentimen dari judulnya tidak layak untuk dikonsumsi.

2. Judul yang diakhiri dengan tanda tanya

Sering ditemui judul seperti ini, dan biasanya jawabannya adalah tidak. Seperti “Ronaldo akan kembali ke Manchester United?”

3. Kritisi judul dan featured image

Gambar yang dipasang sebagai featured image pada berita seharusnya tidak mengada-ngada dan kalaupun sebuah ilustrasi, harus dicantumkan keterangannya. Dan jangan tergiring opini dari featured image yang tidak sesuai dengan isi berita. Tetapi adakalanya informasi yang sangat baru diperoleh dan belum ada gambar yang bisa diambil, menggunakan sembarang gambar. Sebagai contoh, capture berita ini dapat menimbulkan tafsiran pelaku adalah sekelompok massa yang ada pada gambar, padahal gambar dan kejadian tidak sesuai.

4. Fokus pada kutipan langsung dari narasumber

Kalimat tidak langsung yang dibuat redaktur untuk menjelaskan ucapan narasumber tentu bergantung kepada profesionalisme dan atau kepentingan redaktur. Sebagai contoh judul berita “Cak Nun: Yang bilang Gubernur itu pemimpin, siapa?”, harus dikritisi ketika membacanya, apakah ada ucapan langsung dari Cak Nun yang menyatakan seperti itu, dan ternyata tidak ada kalimat seperti itu yang dilontarkan Cak Nun. Cek juga antara penjabaran redaktur, ada tidak kalimatnya pada ucapan narasumber. Ucapan narasumber yang ditulis secara langsung ditandai dengan tanda petik di awal dan di akhir.

5. Cek sumber informasi

Adakalanya infromasi yang disebarkan merupakan hasil dari penulisan ulang bahkan hasil copy dan duplikasi seluruhnya dari informasi yang lain. Meski dengan mencantumkan sumber seperti “sumber: detik.com”, tetapi harus dikritisi darimana sumber berasal dan apakah memang informasi tersebut ada dalam situs sumberya.

Pada capture di bawah ini, disangsikan gambar yang ada sesuai dengan judul berita, serta kualitas isi berita hanyalah kualitas suatu kisah. Pun dengan sumbernya, hanyalah dari sebuah blog.

6. Jangan terkecoh dengan nama

Di dunia ini tentu banyak orang yang memiliki nama yang sama, termasuk nama orang-orang terkenal, dan ini sering dimanfaatkan untuk menarik minat pembaca. Sebagai contoh, judul berita “Ronaldo akhirnya masuk Islam”. Jangan langsung terkecoh dengan judul tersebut karena nama Ronaldo banyak yang memiliki.

Teknik-teknik di atas bisa lebih dikembangkan lagi dan tentunya ada peristilahan khusus dalam teknik penulisan informasi yang belum penulis gunakan. Juga masih banyak teknik lain yang biasa dilakukan pada informasi selain di situs dan blog, seperti informasi di facebook, twitter dan broadcast message. Pada lain kesempatan akan penulis sampaikan dengan teknik dan cara yang lebih baik.

Dibalik Tsunami Informasi

Beberapa teman pernah mengungkapkan kejenuhannya atas informasi yang semakin hari semakin membludak dan malah membuat mereka bertanya “Jadi mana yang benar?”. Banyaknya informasi yang tidak valid bisa karena ulah spammer yang menyampah di media sosial, dengan tujuan meningkatkan traffic kunjungan situs/blognya dan dengan traffic yang tinggi, penghasilan dari iklan bisa maksimal, tidak peduli apakah benar atau tidaknya informasi, yang penting traffic. Atau bisa sebagai upaya penggiringan opini, membanjiri media sosial dengan informasi yang mereka setting.***Sofhian Fazrin


sofhian-nmTentang Penulis

Sofhian Fazrin: Penulis sedang menempuh magister teknologi informasi di Universitas Gadjah Mada dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di STKIP Muhammadiyah Kuningan. Beredar di dunia maya dengan akun twitter @sofhianfn

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar