Teknik Kunjungan Observasi Kelas

0 576

Kunjungan observasi kelas merupakan suatu adalah salah satu kegiatan supervisi yang mengarah kepada peningkatan kemampuan pendidik dalam kegiatan belajar mengajar. Teknik ini banyak dipergunakan oleh kepala sekolah, karena secara langsung teknik ini dapat memberikan informasi yang dibutuhkan.

Oteng Sutisna (1982) mengatakan bahwa “… kunjungan observasi kelas merupakan suatu teknik yang berharga dalam melihat guru dan murid bekerja. Teknik ini tampaknya agak sukar untuk diganti oleh teknik supervisi lain”. Kekurangan maupun kelebihan guru yang diperoleh melalui kunjungan observasi kelas dapat dijadikan sebagai bahan (referensi) untuk didiskusikan pada pertemuan individual atau untuk penyusunan program supervisi lebih lanjut.

Dalam prakteknya, sering kita melihat kepala sekolah rajin berkunjung ke kelas di mana seseorang guru sedang mengajar. Namun kunjungan- kunjungan dimaksud itu kebanyakan tidak mengandung unsur-unsur supervisi. Mereka hanya sebatas kunjungan biasa, tanpa maksud apapun.

Kunjungan observasi kelas yang didalamnya mengandung unsur supervisi, ialah apabila kunjungan itu bertujuan untuk mengumpulkan data bagi pengembangan pendidik yang bersangkutan.

Selain itu, kadang- kadang kehadiran supervisor di kelas tidak mendapat sambutan dari para pendidik yang berada di kelas. Mengapa? karena ternyata para guru sebelumnya telah mempunyai prasangka, bahwa kehadiran supervisior adalah untuk menilai kinerja guru yang bersangkutan. Untuk menghilangkan prasangka dimaksud, hendaknya kunjungan observasi kelas direncanakan bersama antara supervisior dengan guru yang akan disupervisi. Melalui perencanaan bersama ini, diharapkan guru yang bersangkutan telah mengetahui maksud kunjungan observasi. Sehingga guru yang bersangkutan telah mempersiapkan diri untuk diobservasi. James Curtin (1969) mengatakan bahwa perencanaan bersama itu penting, sebab perencanaan dimaksud digunakan untuk menetapkan tujuan observasi, prosedur yang ditempuh, bahan- bahan yang akan dipergunakan dan alat-alat yang dipakai untuk evaluasi.

Dalam pelaksanaannya, seorang supervisior dapat mengambil tempat duduk di bagian belakang kelas agar tidak mengganggu perhatian anak-anak. Ia dapat membuat catatan- catatan yang dapat digunakan untuk pembahasan selanjutnya dalam pertemuan individual. Segala permasalahan yang ditemui ketika melakukan observasi kelas akan dibahas bersama- sama antara supervisior dengan guru. Hal ini dirasa perlu guna mencari pemecahan bersama atas permasalahan dimaksud.

Pertemuan Individual

Pertemuan individual merupakan tindak lanjut dari kegiatan observsi kelas. Pertemuan diadakan dengan maksud untuk membicarakan hasil observasi kelas yang telah dilakukan. Salah satu hal yang akan mempengaruhi hasil pertemuan individual ialah sikap supervisior terhadap guru dalam pertemuan tersebut. Dalam pertemuan dimaksud, seorang supervisior hendaknya memperlihatkan sikap yang menghormati dan menghargai pendapat- pendapat yang dikemukakan oleh guru.

Apabila ada pendapat- pendapat yang tidak sesuai, maka seorang supervisior dapat mengemukakan pertanyaan yang konstruktif untuk memperbaiki pendapat tersebut.

Meskipun pertemuan individual dilakukan untuk membicarakan hasil kunjungan observasi kelas, namun demikian suatu pertemuan individual dapat pula dilaksanakan sebelum kunjungan observasi kelas. Hal ini bergantung pada tujuan yang hendak dicapai dari pertemuan itu. Jika tujuannya untuk mendapatkan informasi tentang apa yang akan diajarkan, maka pembicaraan individual dapat dilaksanakan sebelum kunjungan kelas.

Dalam pertemuan individual, seorang supervisior hendaknya lebih banyak mendengarkan pembicaraan guru. Artinya, mereka hanya berbicara seperlunya saja dan bertindak sebagai pengarah pembicaraan. Supervisior hendaknya memperlihatkan sikap yang sungguh- sungguh ingin membantu, ramah tamah, dan berusaha menempatkan diri pada posisi guru yang bersangkutan. Hal ini dilakukan  agar kegiatan tersebut berhasil dan berjalan dengan lancar. Sikap dimaksud menjadi penting agar guru yang bersangkutan tidak menutup diri dari permasalahan yang sedang dihadapi. Jika guru menutup diri, maka dapat dipastikan pertemuan tersebut mengalami kegagalan. Mengapa? karena guru tidak secara sungguh- sungguh mencari solusi dari masalahnya.

Pertemuan individual merupakan suatu pertemuan yang mengutamakan keaktifan guru untuk menemukan dan memecahkan masalahnya sendiri. Pada akhirnya seorang supervisior harus mampu memperlihatkan rasa puas setelah menemukan solusi dari masalah tersebut. Supervisor kemudian membuat keputusan untuk dilaksanakan. ***Suherman

Bahan Bacaan:

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.

Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan. PT. Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

Daryanto, 2011, Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media

Hamdani. 2011. Dasar- dasar Kependidikan. CV Pustaka Setia. Bandung.

Hidayati, Ara dan Imam Machali, 2010, Pengelolaan Pendidikan, Bandung: Pustaka Educa

Poerwanto, Ngalim, 2003, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya

Wahyudi, 2009, Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Organisasi Pembelajar (Learning Organization), Bandung, Alfabeta

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.