Telaah Teoritik Pada Arsitektur

0 12

Arsitektur adalah suatu kata benda. Menurut kaidah pada tata bahasa, berarsitektur itu tak kena, janggal, tidak elok. Jadi mari kita anggap atau kita lihat saja arsitektur sebagai suatu kata kerja. Ini sejalan dengan usul Van Peurseun dalam bukunya yaitu Strategi Kebudayaan (1976) tentang kata budaya. Ia berpendapat janganlah melihat budaya sebagai suatu kata benda. Sebaiknya sebagai kata kerja. Tidak tahulah, mungkin dari sisi tata kata ini bisa keliru. Tapi jika dilihat dari sisi lain bisa juga tidak keliru.

Pada tataran praktek berarsitektur, telaah tentang arsitektur juga sangat dibutuhkan. Kenapa? Karena dengan memahami suatu karya nyata secara mendalam, diharapkan kita dapat membuat karya arsitektur yang lebih baik dari yang sudah ada. Mudahnya, belajar dari pengalaman. Bangsa Jepang, Korea dan sekarang yaitu Bangsa Cina sangat piawai dalam hal ini. Kabarnya alat elektronik canggih buatan Negara yang teknologinya maju ketika masuk kemudian dibongkar selanjutnya dipelajari. Langkah berikutnya dibuatlah alat elektronik yang lebih cantik serta sophisticated. Lebih murah juga harganya.

Pada tataran teoritik akademik, melakukan telaah tentang seluruh proses berarsitektur yang merupakan suatu keharusan. Kenapa? Dalam rangka mengajarkan arsitektur dengan baik dan benar, kalangan akademisi harus paham tentang hal teoritik ini secara mendalam. Jika tidak, akan seperti apa kualitas muridnya tersebut? Lain halnya jika memang dianggap teori itu tidak perlu. Yang selalu berpraktek tanpa berteori itu sering disebut sebagai tukang. Tukang atau Insinyur atau Arsitektur? Itu pendidikan dahulu. Sekarang? Tukang ST (Sarjana Teknik) arsitektur? Itu jika keluaran sekolah pertukangan alias pelatihan.

Pemahaman Arsitektur Lebih Dalam di Praktek

Konon pengetahuan arsitektur ini lahir justru dari praktek. Awalnya memang diturunkan melalui proses magang. Mungkin mirip dengan Empi Senduk yang mengajarkan cara membuat keris sakti kepada muridnya. Seorang pemula harus berguru dalam waktu yang relative lama pada seorang masterbuilder, sebelum ia dapat menguasai apa yang dicontohkan gurunya. Sayangnya dalam proses trial and error ini, jika berhasil seringnya pemula tadi akan menjadi copy dari sang master. Pada proses ini hanya sedikit sekali pemula yang bisa ikut serta. Juga kapabilitas sang master dalam penguasaan pengetahuan arsitekturnya kerap dipertanyakan. Belum lagi proses pengajarannya, jika sekarang mungkin akan dipertanyakan adalah akredetasinya atau ISO (International Organization for Standarization) nya.

Untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi para pemula dan demi meningkatkan kualitas pengetahuan ini, arsitektur mulai diikutsertakan ke dalam pendidikan tinggi. Konsekuensinya adalah pengetahuan arsitektur harus dapat diteoritisasikan dan dipertanggunjawabkan kadar keilmiahannya. Yang dimaksud pengetahuan arsitektur disini, tentunya ditekankan pada pengetahuan merancang arsitektur. Konon itulah sebabnya mengapa sebagian besar institusi pendidikan arsitektur, menganggap bahwa studio perancangan arsitektur merupakan tulang punggung dari seluruh pembelajaran arsitektur.

Kabar klise yang beredar, pada system magang yang diajarkan hanya pendekatan dan metode perancangan seorang pakar. Pada universitas tentu harus berbeda. Yang diajarkan harusnya bermacam-ragam pendekatan dan metode perancangan yang ada dalam dunia perarsitekturan. Dengan demikian pelahar diharapkan mendapatkan wawasan yang lebih luas. Jadi pendidikan formal pasti di level berbeda dengan pelatihan profesi magang.

Komentar
Memuat...