Tentara Populis versus Sipil Militeris dalam Lakon Negara Islam

0 15

Tentara Populis versus Sipil Militeris dalam Lakon Negara Islam. Umar bin Khattab. Pemimpin dan peletak dasar pembentukan negara Islam sebagai adikuasa pertama dalam dunia Islam. Ia mengalahkan Romawi dan Parsi dalam waktu yang sangat singkat. Empat tahun setelah wafatnya Rasulullah atau dua tahun dalam masa kepemimpinannya, umar langsung memimpin perang. Perang terdahsyat dalam sejarah kemanusiaan pra moderen. Perang itu disebut dengan Yarmuk. Panglima perang dipimpin secara lapangan oleh Khalid bin Walid.

Dalam catatan saya ketika mengikuti kuliah Prof. Harun Nasution di UIN [dulu IAIN Ar-Raniry] Banda Aceh tahun 1997, dia menyebut bahwa salah satu faktor kemenangan peran Umar bin Khatab adalah karena dia memperkuat tentara Islam. Dimulai dari situlah dikenal istilah negara kuat hanya akan tercapai jika tentaranya kuat. Negara yang tidak memiliki kekuatan tentara yang baik, pasti akan menumpulkan dan melemahkan negara itu sendiri.

Khalifah kedua yang turut serta bersama Rasul dalam perang-perang itu, terlatih bagaimana mengalahkan musuh. Ia dikenal juga sebagai tentara Islam yang paling handal, tentu bersama sahabat besar nabi yang lain. Kepiawaian Umar dalam memimpin perang itu, menyebabkan setiap event pertemupuran, mendominasi kemenangan perang dunia Islam.

Umar Berubah Menjadi Sipil

Ketika Umar bin Khatab diangkat menjadi khalifah rasulullah kedua setelah Abu Bakar, sikap yang keras berubah menjadi lembut. Wataknya yang militeris berubah menjadi demikian lembut. Mungkin hal ini sebagai jawaban Tuhan atas do’a yang dia panjatkan beberapa saat setelah diangkat menjadi khalifah. Pernyataan Umar terekam sebagai berikut:

“Wahai umat Muslim! Saya tidak memiliki kelebihan apapun. Sesungguhnya saya enggan memikul tanggung jawab ini. Iapun mengangkat tangannya berdoa kepada Allah: Ya Allah … Aku ini orang yang keras dan kasar. Perkenankanlah agar aku menjadi manusia yang lunak hatinya. Di matamu aku adalah manusia yang sangat lemah dan tidak berkuasa apapun. Karena itu, berilah aku kekuatan untuk memangku amanah ini. Ya Allah … di mataMu aku ini adalah manusia yang kikir dan bakhil. Karena itu, jadikanlah aku manusia yang memiliki bermurahan hati dalam memimpin negeri ini.”

Ia berhenti sejenak dan kemudian kembali berdo’a. Wahai saudara-saudara kami yang seiman. Sesungguhnya Allah telah mengujiku bersama kalian semua. Atau menguji kalian bersamaku. Setelah sahabatku [Abu Bakar] meninggal, kini saya berada di tengah-tengah kalian. Aku yakin Allah akan menguji kita semua. Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat. Tetapi justru untuk melayani rakyat. Berilah contoh yang baik kepada rakyat kita. Tujuannya agar rakyat meneladani langkah yang anda lakukan. Aku dan kalian semua, sama di mata hukum. Jika kalian melakukan kebaikan, maka kalian akan mendapatkan kebaikan. Tetapi, jika kalian melakukan keburukan, akan dilakukan hukuman sesuai dengan derajat keburukan yang anda lakukan.”

Watak Umar bin Khatab yang civilize itu, membuat Islam tumbuh menjadi negara terkuat di jamannya. Memang bisa dimengerti sebab umumnya, tentara terlatih akan lebih memiliki persepsi kenegaraan yang lebih kuat, karena ia memiliki pengetahuan yang detil akan persoalan kebangsaan negara yang dia pimpin dibandingkan dengan sipil.

Pemerintahan Sipil Islam

Meski mungkin masih debatable, situasi pemerintahan Islam justru mengalami sedikit goncangan ketika kekuasaan Islam dipimpin oleh mereka yang bukan berasal dari kaum militer. Sebut misalnya, bagaimana ketika negara Islam dipimpin Hasan dan Husein, dua cucu Nabi dan atau ketika dipimpin Muawiyah yang lebih banyak berkonsentrasi menjadi penulis wahyu dibandingkan dengan keikutsertaannya dalam perang.

Khusus untuk kasus yang menimpa Hasan-Husein, ia sangat sebentar berkuasa. Padahal dia dipilih secara mayoritas oleh umat Islam. Digantikan oleh sistem pemerintahan sipil lain yang justru sangat militeris. Pemerintahan ini yang kemudian mengubah watak demokrasi menjadi sistem pemerintahan yang kembali monarchi. Itulah pemimpin dunia Islam yang hari ini dikenal dengan sebutan Daulah Umawiyah.

Latar Sejarah inilah, yang mungkin dapat mengaransemen kita hari ini, tentu dalam konteks Indonesia, untuk bertanya. Manakah yang lebih baik jika ada dua pilihan Sipil yang militeris atau militer civilize. Jawabannya tentu ada di kortek otak kanan kita … By. Prof. Cecep Sumarna. Sumber Bacaan berbagai makalah Sejarah dan Peradaban Islam PPS IAIN Banda Aceh 1996

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.