Inspirasi Tanpa Batas

Teologi Islam Klasik Memaksa Dilakukan Pembaharuan

Teologi Islam Klasik Memaksa Dilakukan Pembaharuan
0 52

Konten Sponsor

Teologi Islam Klasik Memaksa Dilakukan Pembaharuan. Saya tiba-tiba memperoleh pertanyaan yang cukup menghentak dari anak kami yang kedua. Ini juga yang menyebabkan akhirnya saya harus menulis catatan ini. Anak kami dimaksud awalnya memberi pertanyaan yang sangat datar. Agama apa yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia? Jawabannya tentu Islam dan Muslimlah yang mayoritas kata saya.

Tetapi kata dia, jika itu benar, mengapa umat Islam Indonesia selalu terkesan menjadi termarginalkan? Mengapa dalam setiap kontestasi politik Indonesia, muncul kesan bahwa umat Islam tidak memiliki kepercayaan diri yang penuh? Untuk pertanyaan sejenis ini, saya cukup lama waktu merenung. Akhirnya, saya menceritakan hal-hal sebagaimana tertulis di bawah ini.

Era digital, akan memaksa manusia untuk selalu berada dalam suatu rumah besar. Rumah yang menyediakan segenap perbedaan termasuk dalam soal agama dan budaya. Rumah yang seharusnya mampu membiarkan semua yang berbeda itu, bergaul secara sempurna satu sama lain. Semua tembok yang memisahkan perbedaan di antara sesama umat manusia tadi,  seharusnya terkikis dengan cepat.

Nah di Indonesia, prinsip ini sebenarnya sudah lama dimiliki. Bahkan dalam banyak kasus, saya mengutif R. Bill Lidle [1992], Indonesia menjadi contoh suatu pertontonan yang menyajikan harmonisme di tengah segenap perbedaan yang ada. Barat sendiri, mengutif Liddle tadi, seharusnya belajar ke Indonesia. Bukan sebaliknya! Anda sendiri tahu kata saya, bagaimana pola budaya masyarakat Barat dan Eropa.

Dalam nalar dimaksud, seharusnya setiap pemeluk umat beragama, termasuk Muslim, secara alamiah telah bersentuhan dan bergaul secara langsung dengan ragam agama dan budaya yang berbeda. Mereka yang tetap memaksakan diri berada dalam kamar tanpa berusaha untuk masuk dalam rumah besar dimaksud, dapat dipastikan akan mengalami kemunduran. Ia berarti tidak siap menyongsong suatu peradaban yang menghapus segenap kotak-kotak kaku yang beku.

Praktis Lapangan

Kalau kita memiliki rumah besar untuk menghimpun kotak-kotak kecil yang berbeda-beda itu, seharusnya memiliki suasana sosiologi, ekonomi dan politik yang juga sama. Sehingga bangunan antropologisnya menjadi seimbang. Fakta di lapangan, entah karena apa penyebabnya, ketimpangan di dalam rumah besar itu, kelihatan secara nyata.

Sebut misalnya penguasaan asset ekonomi. Yang anda sebut sebagai mayoritas, ternyata menjadi minoritas. Di sinilah muncul suatu perasaan alienasi dan perilaku yang sedikit banyak sensasional. Mereka merasa harus diperhatikan dan harus mendapat periuk-periuk yang juga seimbang. Inilah yang diperjuangkan.

Tetapi, lepas dari soal itu, saya melihat ada persoalan lain. Persoalan dimaksud, misalnya menyangkut terminologi teologi yang dianut umat Islam Indonesia. Teologi ini, menurut saya, tidak mampu mendorong para penganutnya untuk hidup dalam progresivitas yang dibutuhkan dalam menjalan roda hidup.

Tanpa disadari, situasi ini akan memaksa bangunan kalam [teologi] klasik untuk dianggap tidak lagi kokoh. Karenanya tidak semua hal pada apa yang terdapat di produk teologi dimaksud, harus dipertahankan. Teologi temporer, misalnya memerlukan dinamika baru yang menyediakan seperangkat teori dan metodologi yang juga temporer, agar mampu menjawab tantangan temporer. Suatu kerangka teologi yang mampu menjelaskan bagaiamana seorang agamawan misalnya dipandang baik dan buruk.

Ukuran kebaikan dan keburukan dimaksud, terlihat justru saat agamawan dimaksud, berhadapan, bergaul, bersentuhan dan berhubungan dengan segenap hal yang berbeda dengan dirinya. Penganut pemikiran keagamaan atau bahkan agama yang berbeda, harus difahami hanya dalam bidang-bidang khusus. Sementara dalam praksis sosial, budaya, ekonomi dan politik, harus difahami memiliki nilai kemuliaannya masing-masing.

Jarak lebar antara teori dan praksis hidup, termasuk dalam kajian kalam, tetap ada. Idealitas dan relitas pemahaman keagamaan selalu memunculkan dinamika baru yang tetap priktif. Priksi itu bahkan bukan hanya sebatas antara agama, tetapi, runcingannya bahkan dalam satu rumpun agama yang sama. Padahal perbedaan itu terjadi hanya dalam memahami teks dan konteks ayat [dalam berbagai agama] tadi.

Perubahan Teologi

Situasi ini memaksa siapapun untuk memunculkan suatu pertanyaan besar yang bersifat akademis. Pertanyaan yang mirip seperti apa yang anda sampaikan. Misalnya, bagaimana situasi seperti ini dapat dijelaskan? Khusus untuk umat Islam Indonesia, mengapa dalam diri umat Islam seringkali timbul suatu rasa minoritas, padahal statistik justru menunjukkan mayoritas? Mengapa umat Islam mengalami disartikulasi politik meskipun mereka mayoritas? Adakah andil yang diduga dapat disumbangkan oleh ilmu kalam dalam konfliks etnik, ras, suku, ekonomi dan agama sehingga segenap rasa itu muncul?

Lebih lanjut saya menyatakan bahwa jika kita mengutif pikiran Fazlur Rahman [1982], salah satu penyebab tidak berkembangnya teologi, dari segi materi maupun metodologi, adalah karena dipisahkannya dari pemahaman filosofis. Menurutnya, filsafat dan pendekatan filosofis pada umumnya, diperlukan untuk membantu menerobos kemacetan, bahkan jalan buntu yang dihadapi oleh ilmu-ilmu apapun. Rahman [1982] dalam hal ini menyatakan:

“philosophy is, however, a perennial intellectual need and has to be allowed to flourish both for its own sake of other disciplines, since it inculcates a much-needed analytical-critical spirit and generates mew ideas that become important intellectual tools for other sciences not least for religion and theology. Therefore a people that deprives itself of philosophy necessarily exposes itself to starvation in terms of fresh ideas – in fact it commits intellectual suicide”.

Teologi dan Filsafat

Filsafat selamanya akan diperlukan, trmasuk dalam kajian teologi. Karena itu, filsafat seharusnya terus dikembangkan secara alamiah. Pengembangan itu diperlukan baik untuk pengembangan filsafat itu sendiri maupun untuk pengembangan disiplin ilmu lain. Karakter filsafat yang selalu menanamkan kebebasan dan melatih akal-pikiran untuk bersifat kritis-analitis, akan mampu melahirkan ide-ide segar yang sangat dibutuhkan.

Kajian filsafat akan menjadi alat intelektual yang penting. Tidak terkecuali agama dan teologi (kalam). Orang yang menjauhi filsafat, sebagaimana dapat dibaca dalam pikiran rahman tadi, dipastikan akan mengalami kekurangan energi. Ia juga akan mengalami kelesuan darah -dalam arti kekurangan ide-ide segar. Lebih dari itu, manusia sejenis itu, telah melakukan bunuh diri intelektual.

Lho ko bisa demikian. Apa alat analisanya? Saya akhiri dengan kalimat, teologi akan membuat orang mampu membuat kota-kota, sedangkan filsafat, tugasnya justru membuat rumah besar agar kotak-kotak kecil itu dapat terhimpun dengan baik. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar